0 KITABUL ILM (BAG: 1)

Definisi Ilmu.
Secara bahasa : adalah lawan dari kebodohan. Yaitu : mengetahui sesuatu sesuai keadaannya dengan pengetahuan yang pasti.
Secara Istilah : (ilmu syar’i) adalah segala sesuatu yang diturunkan oleh Alloh kepada Rasul-Nya, berupa keterangan-keterangan dan petunjuk. Yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikkan baginya, maka Alloh pahamkan dia dalam perkara agama.” HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Ilmu yang mendapatkan pujian disini, adalah ilmu wahyu (perkara agama).
Akan tetapi bersamaan dengan itu, bahwa ilmu-ilmu yang lain juga memiliki faidah, dengan batasan :
1- Dipakai dalam rangka ketaatan kepada Alloh Ta’aala dan dalam rangka menolong agama-Nya.
2- Bermanfaat bagi para hamba-hamba Alloh.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” Hr. Al-Baihaqi dan selainnya dari Anas bin Malik dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Shahihul Jaami’ no. 3913.
Seorang menuntut ilmu, hendaknya dia ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ الله لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu (syar’i) yang (semestinya) dia harapkan (niatkan) dengannya (melihat) Wajah Alloh (diakhirat kelak), namun dia tidaklah mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian dunia (tujuan dunia) , maka dia tidak mendapatkan baunya sorga dihari kiyamat.” HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan Al-Baihaqi.
Lalu bagaimana kiat untuk kita bisa ikhlas dalam mempelajari ilmu. Dalam hal ini ada tiga hal yang kita perhatikan :
1- Hendaknya dalam mempelajari ilmu syar’I tersebut dalam rangka mengamalkan perintah Alloh dan Rasul-Nya. “Maka ilmui-lah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang hak) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” QS. Muhammad : 19.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” HR. Al-Baihaqi dan selainnya dari Anas bin Malik dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Shahihul Jaami’ no. 3913.
2- Dalam rangka menghilangkan kebodohan. Karena kebodohan adalah tercela dalam agama.
Nabi Musa ‘alaihissalaam berdo’a : “Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil/bodoh". QS. Al-Baqoroh : 67.
Demikian pula Nabi Yusuf ‘alaihissalaam berlindung kepada Alloh dari kebodohan. Alloh Ta’aala juga menasihatkan hal ini kepada Nabi Nuh ‘alaihissalaam :“Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang bodoh." QS. Huud : 46.
Disamping dalam rangka menghilangkan kebodohan sekaligus untuk mencari kebenaran yang dengannya seorang akan memiliki sifat tawadhu’ terhadap kebenaran
3- Dalam rangka membela agama (meninggikan/menampakan) agama Alloh Ta’aala.
Sesungguhnya perkara yang harus senantiasa dijaga oleh seorang penuntut ilmu adalah membela agama ini. Diantaranya untuk membantah para penyimpang dan penyesat agama, sehingga akan tampaklah agama Islam yang murni.
Al-Imam Asy-Syafi’i menasihati kita, bagaimana kiat mendapatkan ilmu. Ada 6 hal yang beliau nasihatkan :
1- Hirsh/Semangat.
2- Ijtihad/Bersungguh-sungguh.
3- Dzaka/Cerdas.
4- Bulghoh/Bekal.
5- Shuhbatul Ustadz/Adanya pembimbing.
6- Thuulu zamaan/Panjang waktunya.
Penjelasan :
1- Semangat.
Diantara sebab seorang akan termotivasi/semangat didalam melakukan sesuatu perbuatan adalah adanya sesuatu yang diharapakan yang berupa keutamaan/pahala atau selainnya.
Diantara keutamaan tersebut adalah :
A- Warisan para Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنِارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ ، فَمِنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ .
“Sesungguhnya para Nabi tidaklah mereka mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Hanyalah mereka mewarisi ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan tersebut, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi.
Tidak dipungkiri, bahwa seorang ketika mendapat warisan harta yang banyak dia akan senang. Terlebih ini warisan para Nabi yang berupa ilmu syar’i
B- Ilmu itu kekal, walaupun pemiliknya telah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ : إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara : shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya.” HR. Muslim.
C- Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah memberikan semangat kepada seorangpun dalam menginginkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain kecuali pada dua macam orang :
- Seorang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya.
- Seorang yang berharta yang di gunakan dijalan Alloh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَلاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هلكته فِي الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak ada hasad kecuali pada dua perkara : Seorang yang diberi harta oleh Alloh kemudian dia infakkan harta itu dijalan al-Hak dan seorang yang diberi hikmah/ ilmu oleh Alloh dan dia amalkan serta ajarkan.” HR. Al-Bukhari dan Muslim
D- Ilmu adalah jalan mudah menuju sorga sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
“Barangsiapa yang menempuh jalan rangka mencari ilmu, maka Alloh mudahkan bagi dia dengannya jalan menuju sorga.” HR. Muslim.
E- Dan masih banyak sekali keutamaan yang lainnya.
2- Bersungguh-sungguh.
Seorang untuk mendapatkan ilmu, hendaknya dia bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuannya untuk mendapatkan ilmu. Memaksakan diri untuk bisa dan tidak terpaksa.Karena ilmu itu tidak bisa diraih dengan santai.
3- Kecerdasan.
Merupakan nikmat dari Alloh, untuk memahami ilmu yang dia pelajari dan akan diamalkan.
Kecerdasan juga bisa diusahakan melalui sebab-sebab diantara tekun dan terus-menerus.
4- Bekal.
Bekal penuntut ilmu diantaranya adalah alat tulis.
الْعِلْمُ صَيِّدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيِّدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَةْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَة وَتَتْرُكُهَا بَيْنَ الْخَلاَئِق طَالَقَة
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya.
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Termasuk kebodohan adalah kamu berburu kijang .
Lalu kamu tinggalkan lepas diantara manusia.
5- Adanya pembimbing.
Seorang yang hanya mengandalkan membaca saja (otodidak), maka diibaratkan seperti binatang ternak yang tidak ada penggembalanya. Dimana binatang tersebut akan menerjang tanaman orang atau pagar orang dan tidak terarah.
Terkadang pada suatu permasalahan itu terdapat sekian banyak ayat Al-Qur’an demikian pula sekian banyak hadits. Dimana ketika seorang yang dia hanya membaca satu atau dua ayat maupun hadits namun tidak tahu yang lainnya maka bisa jadi apa yang dipahami dan yang diamalkan itu tidak sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Alloh dan rasul-Nya. Bahkan terkadang mencoreng Islam.
Kalau hanya sekedar membaca maka akan membutuhkan waktu yang banyak. Berbeda dengan seorang ketika menuntut ilmu berguru dengan seorang yang ‘alim yang bisa menerangkan kepadanya dan menunjuki jalannya.
6- Panjang waktunya.
Seorang menuntut ilmu dari bayi sampai mati.

0 KEMATIAN DI SEKITAR KITA ADALAH PERINGATAN

Makna Kehidupan
Banyak manusia yang tidak memahami arti kehidupan. Mereka hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan hidup duniawi. Slogan-slogan mereka adalah memuaskan hawa nafsunya, “Yang Penting Puas”. Prinsip dan misi mereka adalah bagaimana mereka dapat menikmati kehidupan, seakan-akan mereka tumbuh dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa ada kebangkitan, perhitungan dan hisab.

Milik siapakah mereka? Apakah mereka tercipta begitu saja? Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?
أَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْئٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْنَ؟]الطور: 35[
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan? (ath-Thuur: 35)

Allah menciptakan kita, memberikan kepada kita kehidupan adalah untuk suatu tujuan dan tidak sia-sia:
أَيَحْسَبُ اْلإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى.]القيامة: 36[
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia? (al-Qiyamah: 36)

Berkata Imam Syafi’i (ketika menafsirkan ayat ini): “Makna sia-sia adalah tanpa ada perintah, tanpa ada larangan.” (Tafsirul Quranul Karim, Ibnu Katsir, jilid 4, cet. Maktabah Darus Salam, 1413 H hal. 478) Jadi manusia hidup tidak sia-sia, mereka memiliki aturan, hukum-hukum, syariat, perintah dan larangan, tidak bebas begitu saja apa yang dia suka dia lakukan, apa yang dia tidak suka dia tinggalkan.

Hidup dan Mati Adalah Ujian
Setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian. Allah Y menjadikan kehidupan dan kematian sebagai ujian. Siapa di antara manusia yang terbaik amalannya?

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلَُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً. ]الملك: 1[
(Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk: 2)
Fudhail bin Iyadh berkata: “Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan sunnah”. (Iqadhul Himam al-muntaqa min Jami’il Ulum wal Hikam, Syaikh Salim ‘Ied al-Hilali, hal. 35)

Kita hidup di dunia adalah untuk diuji, siapa yang paling ikhlas amalannya hanya murni untuk Allah semata dan siapa yang paling sesuai dengan sunnah rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.
Oleh karena itu kita perlu memperhatikan apa makna kehidupan dan apa makna kematian?

Saudaraku-saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya Allah menciptakan kita adalah untuk satu tugas yang mulia yaitu beribadah hanya kepada-Nya. Allah turunkan kitab-kitabnya, Allah mengutus rasul-rasul –Nya adalah untuk misi ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ.]الذاريات: 56[
Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (adz-Dzariyat: 56)

Sehingga hidup kita ini tidaklah sia-sia, melainkan kehidupan sementara yang sarat akan makna dan kelak akan ditanya tentang apa yang kita perbuat di dunia ini.

Kehidupan di dunia hanya sementara
Ingatlah, kehidupan ini hanya sebentar. Pada saatnya nanti kita akan memasuki alam kubur (alam barzakh) sampai datangnya hari kebangkitan. Lalu kita akan dikumpulkan di padang mahsyar, setelah itu kita menghadapi hari perhitungan (hisab). Dan kita akan menerima keputusan dari Allah, apakah kita akan bahagia dalam surga ataukah akan sengsara dalam neraka.

Kehidupan setelah mati ini merupakan kehidupan panjang yang tidak terhingga. Kehidupan ini disebutkan dalam al-Qur’an dengan istilah خالدين فيها (kekal di dalamnya) atau dengan أبدا (selama-lamanya) atau dengan istilah لا ينقطع (tidak akan terputus).

Sehari dalam kehidupan akhirat adalah lima puluh ribu tahun kehidupan di dunia. Maka kita bisa lihat betapa pendeknya kehidupan manusia yang tidak ada sepersekian puluh ribu dari hari kehidupan akhirat. Berapa umur manusia yang terpanjang dan berapa yang sudah kita jalani? Itu pun kalau kita anggap umur yang terpanjang, sedangkan ajal kita tidak tahu, mungkin esok atau lusa.

Oleh karena itu seorang yang berakal sehat akan lebih mementingkan kehidupan yang panjang ini. Seorang yang cerdas akan menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi.

وَابْتَغِ فِيْمَآ ءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا... ]القصص: 77[
Dan carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi…. (al-Qashash: 77)

Namun kebanyakan manusia lalai dari peringatan Allah di atas. Mereka lebih mementingkan kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan lupa terhadap kehidupan akhirat yang kekal.

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَاْلأَخرَاةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى. ]الأعلى: 16-17[
Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (al-A’laa: 16-17)

Allah hanya meminta kepada kita dalam kehidupan yang pendek ini untuk beribadah kepada-Nya semata dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Hanya itu. Kemudian Allah akan berikan kepada kita kebaikan yang besar di kehidupan yang panjang yaitu kehidupan akhirat

Kematian adalah pasti
Alangkah bodohnya kalau kita lebih mementingkan kesenangan sesaat dengan melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti. Alangkah bodohnya manusia yang membuang kesempatan kehidupannya di dunia hingga kematian menjemputnya. Padahal Allah selalu memperingatkan dalam berbagai ayat-Nya bahwa kematian pasti akan datang dan tak tentu waktunya. Jika ia datang tidak akan bisa dimajukan dan dimundurkan. Allah U berfirman:
لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ. ]الأعراف: 34[
Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya. (al-A’raaf: 34)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أَجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَأَُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ. ]ال عمران: 185[
Tiap-tiap yang mempunyai jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)

Untuk itu Allah dan rasul-Nya memberikan wasiat kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. ]ال عمران: 102[
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati melainkan kalian mati dalam keadaan Islam. (Ali Imran: 102)

Dengan demikian berarti kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita, sehingga ketika datang kematian kita dalam keadaan Islam.

Ibnu Katsir berkata: “Beribadah kepada Allah adalah dengan taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah agama Islam karena makna Islam adalah pasrah dan menyerah diri kepada Allah... yang tentunya mengandung setinggi-tingginya keterikatan, perendahan diri dan ketundukan”. (lihat Fathul Majid, Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaih hal 14) Yakni kita diperintahkan untuk pasrah dan menyerah kepada Allah. Diri kita dan seluruh anggota badan kita adalah milik Allah, maka serahkanlah kepada-Nya.

“Ya Allah kami hamba-Mu, milik-Mu, Engkau yang menciptakan kami dan memberikan segala kebutuhan kami. Kami menyerahkan diri kami kepada-Mu, kami pasrah dan menyerah untuk diatur, dihukumi, diperintah dan dilarang. Kami taat, tunduk, patuh karena kami adalah milikmu.”

Inilah makna Islam sebagaimana terkandung secara makna dalam sayyidul istighfar:
أََللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا سْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Ya Allah Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada ilah (yang patut disembah) kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku di atas janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang aku perbuat. Aku mengakui untuk-Mu dengan kenikmatan-Mu atasku. Dan aku mengakui dosa-dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. (HR. Bukhari, juz 7/150)

Tidaklah seseorang meminta ampun kepada Allah dengan doa ini kecuali akan diampuni.
Dengan ikrar dan pernyataan kita tersebut, kita sadar bahwa semua anggota badan kita adalah milik Allah. Untuk itu harus digunakan sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kita harus menggunakan tangan kita sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus menggunakan kaki kita untuk berjalan di jalan yang diridhai Allah. Mata, lisan dan telinga kita harus dipakai pada apa yang dibolehkan oleh Allah karena pada hakekatnya semua itu milik Allah.

Siapakah yang lebih jahat dari orang yang menggunakan sesuatu milik Allah untuk menentang Allah?

Sungguh semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan akan ditanyakan langsung pada anggota badan tersebut. Mereka (anggota badan tersebut) akan menjawab dengan jujur di hadapan Allah untuk apa mereka digunakan.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ كَلٌّ أُولَئِكَ كَانَ مَسْئُوْلاً. ]الإسراء: 36[
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (al-Isra’: 36)

Kematian sebagai peringatan
Ayat-ayat dalam alQur'an yang menceritakan tentang kematian terlalu banyak. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari akan terjadinya kematian ini. Namun mengapa kebanyakan mereka tidak menjadikan kematian sebagai peringatan agar bersiap-siap menuju kehidupan abadi dengan kebahagiaan di dalam surga. Sesungguhnya manusia yang paling bodoh adalah manusia yang tidak dapat menjadikan kematian sebagai peringatan. Dikatakan dalam sebuah nasehat:
مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ
Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.
Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.

Saat ini wahai kaum muslimi, kita masih mempunyai peluang dan kesempatan, maka sekarang juga kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taat kepada rabb kita. Waktu ini bagaikan pedang, jika kita tidak mengisinya maka ia akan menikam kita. Sebagaimana dikatakan oleh para salaf:
اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تُقَطِّعْهُ قَطَّعْكَ.
Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak memutusnya (mengisinya) maka dia yang akan memutusmu (menghilangkan kesempatanmu).

Jika ia tidak cepat dimanfaatkan dia akan membunuh kesempatan kita.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌُ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ. (رواه البخاري)
Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan. (HR. Bukhari)

Kesempatan adalah suatu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada manusia. Namun sayang, kebanyakan manusia lalai daripadanya dan tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah, hingga kesempatan itu hilang dengan datangnya kematian.

Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai daripadanya: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan. (HR. Bukhari)

Kesempatan adalah suatu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada manusia. Namun sayang, kebanyakan manusia lalai daripadanya dan tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah, hingga kesempatan itu hilang dengan datangnya kematian.

(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 55/Th. II, tgl 21 Shafar 1426 H/01 April 2005 M , judul asli Kematian Sebagai Peringatan)

Ust. Muhammad Umar As Sewed

0 CARA MUDAH MENGHAFAL AL-QUR'AN

Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.

JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.

BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?

Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.

Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?

Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.

APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.

Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:

نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مِنْ قَافْ حَتَّى يُخْتَمَ
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).

Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.

Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”فَمِي بِشَوْقٍ“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
- Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
- Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
- Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
- Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
- Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
- Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?

Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.

BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:

1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]
Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1550

0 BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH?

BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH?
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad

MUKADIMAH
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas penyempurna dan pelengkap agama dan penghulu para rasul serta imam orang-orang yang bertaqwa nabi kita, Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba’du

Ini adalah risalah singkat berupa nasihat untuk para pegawai dan karyawan dalam menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Aku menulisnya dengan harapan agar mereka mendapat manfaat darinya, dan supaya mambantu mereka untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka. Aku memohon kepada Allah agar semua mendapatkan taufik dan bimbingan-Nya.
[1]. AYAT-AYAT MENGENAI KEWAJIBAN MENUNAIKAN AMANAH
Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [An-Nisa : 58]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnan]

Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat”.
Dan firman-Nya.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]

Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang tidak terkait dengan orang lain) dan muta’addi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, “Dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian”. Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah ( yang wajib), Allah berfirman : “Janganlah kamu mengkhianati” maksudnya : janganlah kamu merusaknya”. Dan dalam riwayat lain ia berkata, “(Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, “(Yaitu) dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya”.

Dan firman-Nya.

“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [Al-Ahzab : 72]

Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah, diantaranya ketaatan, kewajiban, din (agama), dan hukum-hukum had, ia berkata, “Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya. Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji” [Al-Mukminun : 8]

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih.

“Tanda munafik ada tiga : apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat”.

Dalam riwayat lain.

“Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji”.

[2]. HADITS-HADITS TENTANG MENUNAIKAN AMANAH
Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban menjaga amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah sebagai berikut.

Hadits Pertama.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]

Hadits Kedua
Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud 3535 dan At-Tirmidzi 1264, ia berkata, “ini adalah hadits hasan gharib”. Lihatlah, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 424]

Hadits Ketiga
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah shalat” [Diriwayatkan oleh Al-Khara-ithi dalam Makarimil Akhlak hal. 28. Lihat, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 1739]

Hadits Keempat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

[3]. PEGAWAI YANG MENUNAIKAN PEKERJAANNYA DENGAN IKHLAS
MENDAPAT BALASAN DUNIA DAN AKHIRAT
Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat. Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada-Nya pahala yang besar” [An-Nisa : 114]

Imam Bukhari (55) dan Imam Muslim (1002) telah meriwayatkan dari Abu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu baginya adalah sedekah”.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di mulu istrimu” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

Nash-nash ini menunjukkan bahwasanya seorang Muslim apabila ia menunaikan kewajibannya terhadap sesama hamba lepaslah tanggung jawabnya, dan bahwasanya ia hanya akan mendapatkan balasan dan pahala dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[4]. MENJAGA JAM KERJA UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN
Wajib atas setiap pegawai dan pekerja untuk menggunakan waktu yang telah dikhususkan bekerja pada pekerjaan yang telah dikhususkan untuknya. Tidak boleh ia menggunakannya pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut. Dan tidak boleh ia menggunakan waktu itu atau sebagian darinya untuk kepentingan pribadinya, atau kepentingan orang lain apabila tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ; karena jam kerja bukanlah milik pegawai atau pekerja, akan tetapi untuk kepentingan pekerjaan yang ia mengambil upah dengannya.

Syaikh Al-Mu’ammar bin Ali Al-Baghdadi (507H) telah menasihati Perdana Menteri Nizhamul Muluk dengan nasihat yang dalam dan berfedah. Di antara yang dikatakannya diawal nasihatnya itu.

“Suatu hal yang telah maklum hai Shodrul Islam! Bahwasanya setiap individu masyarakat bebas untuk datang dan pergi, jika mereka menghendaki mereka bisa meneruskan dan memutuskan. Adapun orang yang terpilih menjabat kepemimpinan maka dia tidak bebas untuk bepergian, karena orang yang berada di atas pemerintahan adalah amir (pemimpin) dan dia pada hakikatnya orang upahan, ia telah menjual waktunya dan mengambil gajinya. Maka tidak tersisa dari siangnya yang dia gunakan sesuai keinginannya, dan dia tidak boleh shalat sunat, serta I’tikaf… karena itu adalah keutamaan sedangkan ini adalah wajib”.

Di antara nasihatnya, “Maka hiudpkanlah kuburanmu sebagaimana engkau menghidupkan istanamu” [1]

Dan sebagaimana seseorang ingin mengambil upahnya dengan sempurna serta tidak ingin dikurangi bagiannya sedikitpun, maka hendaklah ia tidak mengurangi sedikitpun dari jam kerjanya untuk sesuatu yang bukan kepentingan kerja. Allah telah mencela Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang) dalam timbangan, yang menuntut hak mereka dengan sempurna dan mengurangi hak-hak orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah oran-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” [Al-Muthaffifin : 1-6]

[5]. KRITERIA-KRITERIA MEMILIH PEKERJA DAN PEGAWAI
Landasan dalam memilih seorang pegawai atau pekerja hendaklah ia seorang yang kuat lagi amanah. Karena dengan kekuatan ia sanggup melaksanakan pekerjaan yang diembankan kepadanya, dan dengan amanah ia menunaikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan amanah ia akan meletakkan perkara-perkara pada tempatnya. Dan dengan kekuatan ia sanggup menunaikan kewajibannya.

Allah telah memberitakan tentang salah seorang putri penduduk Madyan bahwasanya ia berkata kepada bapaknya tatkala Musa mengambilkan air untuk keduanya.

“Artinya : Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja kepada kita. Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” [Al-Qashash : 26]

Dan Allah berfirman tentang Ifrit dari bangsa Jin yang mengutarakan kesanggupannya kepada Sulaiman Alaihissalam untuk mendatangkan singgasana Balqis.

“Artinya : Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu ; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” [An-Naml : 39]

Maknanya, ia menggabungkan antara kemampuannya untuk membawa dan mendatangkannya serta menjaga apa yang dibawanya.

Allah juga telah menceritakan tentang Yusuf Alaihissalam bahwasanya ia berkata kepada raja.

“Artinya : Jadikanlahlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan” [Yusuf : 55]

Lawan dari kuat dan amanah adalah lemah dan khianat. Dan itu alasan untuk tidak memilih seseorang dalam bekerja dan sebab-sebab sebenarnya untuk mecopotnya dari pekerjaan.

Tatkala Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai gubernur Kufah, dan sebagian orang-orang jahil negeri itu mencelanya di sisi Umar, maka Umar memandang maslahah dengan mencopotnya dari jabatan untuk menjaga dari terjadinya fitnah dan agar tidak seorangpun dari mereka mengganggunya. Akan tetapi Umar ketika sakit menjelang wafatnya telah menentukan enam orang shahabat Rasulullah yang dipilih dari mereka seorang yang akan menjabat khalifah setelahnya. Di antara mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, lantas Umar khawatir bahwa pencopotannya dari jabatan gubernur Kufah disangka karena ketidaklayakannya memimpin, maka umar menepis prasangka tersebut dengan perkataannya, “Jika kepemimpinan jatuh kepada Saad, maka dia layak untuk itu. Dan jika tidak hendaklah siapa pun dari kalian yang menjadi pemimpin meminta bantuannya, karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya karena kelemahan dan khianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari : 3700]

Dan didalam Shahih Muslim : (1825)

Dari Abu Dzar, ia berkata, “Aku berkata, ‘Hai Rasulullah! Tidaklah engkau memperkerjakan aku?’ Ia berkata, ‘Maka beliau menepuk pundakku dengan tanggannya kemudian bersabda, ‘Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya pekerjaan itu adalah amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari Kiamat kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban padanya”.

Dalam riwayat lain di Shahih Muslim (1826)

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu lemah dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang kucintai untuk diriku, janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan janganlah sekali-kali engkau mengurus harta anak yatim”.

[6]. ATASAN ADALAH TELADAN BAGI BAWAHANNYA DALAM BERSUNGGUH-SUNGGUH ATAU MALAS
Apabila para atasan pegawai melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka dengan sempurna, pegawai-pegawai yang menjadi bawahannya akan mecontoh mereka. Dan setiap pemimpin dalam suatu pekerjaan akan diminta pertanggung jawabannya terhadap dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang memimpin manusia, ia memimpin mereka dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang mereka, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan ia akan diminta pertangung jawabannya tentang mereka, dan seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya, dia akan diminta pertanggung jawabannya tentang mereka dan seorang budak pemimpin atas harta tuannya dan dia akan diminta pertanggung jawabannya terhadapnya, ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya” [Diriwayatkan Al-Bukhari ; 2554 dan Muslim : 1829 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma]

Dan apabila para atasan menjaga pekerjaan-pekerjaan dalam segala waktu-waktunya, mereka akan menjaga teladan yang baik bagi orang-orang yang mereka pimpin.

Seorang penyair berkata.

“Dan engkau selama melakukan yang engkau perintahkan
niscaya orang yang engkau perintahkan melakukannya”.

Maknanya, apabila engkau memerintahkan orang lain dari bawahanmu agar melakukan kewajibannya, dan engkau terlebih dahulu menunaikan kewajiban, maka sesungguhnya orang yang selainmu akan mematuhimu dan melaksanakan apa yang engkau perintahkan kepadanya.

[7]. PERLAKUAN PEGAWAI KEPADA ORANG LAIN SEPERTI APA IA INGIN DIPERLAKUKAN.
Nasihat memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam, oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Agama adalah nasihat’, kami berkata, ‘Untuk siapa?’, Beliau bersabda, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta sesama mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim 55 dari Abu Tamim bin Aus Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhu]

Dan berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajali Radhiyallahu anhu, “Aku telah berba’iat kepada Rasulullah atas mendirikan shalat, membayar zakat dan menasihati untuk setiap Muslim” [Diriwayatkan Al-Bukhari 57 dan Muslim 56]

Sebagaimana seorang pegawai atau karyawan apabila ia punya kebutuhan pada yang lain, orang lain itu wajib memperlakukannya dengan mu’amalah yang baik. Maka wajib pula atasnya untuk memperlakukan orang lain dengan mu’amalah hasanah (perlakuan yang baik).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Maka barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api nereka dan masuk surga, hendaklah ia meninggal sedang ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dalam hadits yang panjang dari Abdullah bin Amr. Dan maknanya adalah perlakukanlah manusia sebagaimana engkau ingin diperlakukan.

Rasulullah bersabda.

“Artinya : Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” [Diriwayatkan Al-Bukhari 13 dan Muslim 45 dari Anas]

Allah Ta’ala telah mencela orang yang memperlakukan orang lain tidak seperti ia ingin diperlakukan dalam firman-Nya.

“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” [Al-Muthaffifin : 1-3]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, pelit dan rakus, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan membenci untuk kalian tiga perkara yaitu ; kata-kata omong kosong, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta” [Diriwayatkan Al-Bukhari 2408 dan Muslim 593 dari Al-Mughirah bin Syu’bah]

Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap yang rakus lagi pelit, yang mengambil dan tidak memberi.

Allah telah mngingatkan wali-wali anak-anak yatim bahwasanya mereka khawatir terhadap anak keturunan mereka yang kecil-kecil kalau mereka tinggalkan. Allah berfirman.

“Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” [An-Nisa ; 9]

Maknanya, sebagaimana mereka ingin anak-anak keturunan mereka nantinya diperlakukan dengan baik, maka wajib atas mereka untuk berlaku baik terhadap anak-anak yatim yang mereka menjadi wali atasnya.

=======
1) Dzailul Thabaqat Al-Hanabilah oleh Ibnu Rajab (1/107).

Sumber:
http://sahab.net/forums/showthread.php?t=372573

0 KETENTUAN MENETAPKAN KEHIZBIAN SESEORANG

KETENTUAN MENETAPKAN

KEHIZBIAN SESEORANG

OLEH:

AS SYAIKH ‘UBAID AL JABIRI

- HAFIZAHULLAH TA’ALA –

ما هو ضابط الحكم على الشخص بالحزبية؟

لفضيلة الشيخ

عبيد بن عبد الله الجابري
- حفظه الله-

0 BOM BUNUH DIRI ATAS NAMA JIHAD MUJAHID FI SABILIS SYAITHON

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, anggota Hai’ah Kibarul Ulama (Majlis Ulama Besar Saudi Arabia) menegaskan bahwa orang-orang yang menyerukan jihad fi sabilillah dengan cara membunuh diri-diri mereka adalah pelaku bunuh diri (bukan jihad) dan mujahid fi sabilis-syaithan (di jalan syaithan).

Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang terjatuh ke dalam fitnah ini tidak bertanya kepada ulama dan tidak belajar kepada mereka melainkan mereka memisahkan diri dari ummat Islam dan berafiliasi kepada pihak-pihak yang mereka adalah thaghut-thaghut dari bangsa manusia yang mencuci otak mereka sehingga tampil dalam bentuk yang berbeda, mengkafirkan kaum muslimin, membunuhi mereka, menghancurkan gedung-gedung, meledakkan dan membunuh anak-anak, orang-orang tua, laki-laki, perempuan, orang Islam, kafir mu’ahad, ahlu dzimmah dan kafir musta’man disebabkan pemikiran sesat ini. Dan ini akibat yang dirasakan oleh orang-orang yang condong kepada pelaku kejahatan dan da’i-da’i yang diceritakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika beliau ditanya tentang fitnah-fitnah akhir zaman, beliau berkata, “(mereka) da’i-da’i kepada pint-pintu jahannam siapasaja yang mengikuti mereka akan dilemparkan ke dalamnya (jahannam).”

Dan inilah realitanya sekarang, benarlah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, ketika mereka condong kepada da’i-da’i sesat, jadilah mereka dilemparkan ke dalam jahannam. Dan semua pihak geram terhadap mereka dan membenci perbuatan mereka sampai orang-orang kafir, apalagi kaum muslimin, tidak seorangpun senang dengan apa yang mereka buat kecuali orang-orang yang sepaham dengan mereka dan seperti mereka.

Beliau juga menjelaskan bahwa fitnah ini amatlah besar, wajib bagi seorang muslim untuk memiliki bashirah terhadapnya dan tidak tergesa-gesa dan bertanya kepada ulama dan meminta kepada Allah keselamatan dan jangan gampang mempercayai seseorang sebelum mengerti betul hakikat dia yang sesungguhnya dan seberapa jauh keistiqamahan dia di atas al-hak, meskipun menampakkan kebaikan atau rajin ibadah dan memiliki pembelaan terhadap Islam.

Adapun orang yang menampakkan kebaikan dan kebenaran tapi tidak diketahui hakikat sesungguhnya, kita tidak tergesa-gesa memvonisnya sekaligus jangan langsung mempercayainya, sampai kita kenal hakikat sebenarnya, adabnya, kehidupannya. Karena tidaklah terjadi bencana ini melainkan bersumber dari sikap husnuz-zan tanpa landasan ilmu dan tanpa bertanya kepada ulama dan ahlinya. Dari sinilah terjadi bencana-bencana ini sumbernya adalah ketergesa-gesaan dan kebodohan serta hasil dari bergaul dengan orang-orang jahat dan sembarangan mempercayai mereka serta menjauh dari kaum muslimin dan ulama mereka.

Mereka telah menjauh dari belajar melalui sekolah-sekolah dan dari para ulama sehingga terjatuh ke jurang-jurang sebagaimana mereka menjauh dari keluarga dan rumah-rumah mereka.

Maka yang wajib bagi pemuda-pemuda Islam adalah mengambil pelajaran dari kejadian ini karena orang yang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa orang lain.

Sebagaimana wajib bagi kita mengambil dari kejadian ini ibrah bagi kita dan tetap bergabung dengan jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka dan tidak nyempal dari mereka kepada kelompok-kelompok yang bermacam-macam.

Sumber: Harian ‘Ukkadz

Teks Bahasa Arab:

وصف عضو هيئة كبار العلماء واللجنة الدائمة للإفتاء الشيخ الدكتور صالح بن فوزان الفوزان من يدعون الجهاد في سبيل الله بقتل أنفسهم بأنهم منتحرون ومجاهدون في سبيل الشيطان.

وقال: إن الذين وقعوا في هذه الفتنة لم يسألوا العلماء ولم يتعلموا منهم وإنما انعزلوا عن المسلمين وخلوا إلى أناس من طواغيت البشر فعمدوا إلى غسل أدمغتهم فخرجوا على الناس في هذه الظاهرة، يكفرون المسلمين ويقتلونهم وينسفون المباني ويفجرون ويقتلون الصغير والكبير والذكر والأنثى والمسلم والمعاهد والذمي والمستأمن بسبب هذا الفكر المنحرف، وهذه عاقبة من مال إلى أهل الشر والدعاة الذين أخبر عنهم الرسول صلى الله عليه وسلم حينما سئل عن فتن آخر الزمان التي أخبر عنها فقال:

)دعاة على أبواب جهنم من أطاعهم قذفوه فيها(

وهذا هو الواقع الآن ويصدق قول الرسول صلى الله عليه وسلم فهؤلاء حينما انحازوا إلى دعاة الضلال قذفوهم فيها، والكل يشمت فيهم ويبغض فعلهم حتى الكفار، فضلا عن المسلمين، ولا أحد يرضى فعلهم إلا من هو مثلهم وعلى شاكلتهم.

مبينا أن هذه فتنة عظيمة يجب على المسلم أن يتبصر فيها وألا يستعجل ويسأل أهل العلم ويسأل الله العافية ولا يثق في الناس دون معرفة حقيقتهم واستقامتهم على الحق حتى ولو تظاهروا بالخير أو بالعبادة والغيرة على الإسلام.


أما من تظاهر بالحق والخير وهو مجهول، فنحن لا نستعجل في أمره ولا نمنحه الثقة حتى نعرف حقيقته وسلوكه وسيرته فما حصل ذلك إلا بسبب إحسان الظن من غير بصيرة وسؤال لأهل العلم والعقل والمشورة، لذلك وقعت هذه الشرذمة فيما وقعت فيه نتيجة لهذا التسرع والجهل ومخالطة الأشرار والثقة بهم والركون إليهم والبعد عن المسلمين وعلمائهم.

لقد ابتعدوا عن الدراسة في المدارس وعند العلماء فوقعوا فيما وقعوا فيه، كما ابتعدوا عن أهاليهم وبيوتهم.


فالواجب على شباب المسلمين الاتعاظ بهم، فالسعيد من اتعظ بغيره، ويجب علينا أن نجعل من هذه الأحداث عبرة لنا وأن نلزم حدنا ونلزم جماعة المسلمين وإمامهم ولا نشذ عنه إلى غيرهم.


المصدر: صحيفة عكاظ
http://sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=794

0 PERINGATAN:CADAR, CELANA NGANTUNG DAN JANGGUT BUKAN CIRI-CIRI TERORIS

Peringatan: Cadar, Celana Ngatung dan Janggut bukan Ciri-ciri Teroris
Oleh: al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Ketahuilah wahai kaum Muslimin, menggunakan cadar bagi wanita muslimah, mengangkat celana jangan sampai menutupi mata kaki dan membiarkan janggut tumbuh bagi seorang laki-laki Muslim adalah kewajiban agama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan terorisme, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti bukti-buktinya insya Allah dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta penjelasan para Ulama ummat.

Benar bahwa sebagian Teroris juga mengamalkan kewajiban-kewajiban di atas, namun apakah setiap yang mengamalkannya dituduh Teroris?! Kalau begitu bersiaplah menjadi bangsa yang teramat dangkal pemahamannya… Maka inilah keterangan ringkas yang insya Allah dapat meluruskan kesalah pahaman.

Pertama: Dasar kewajiban menggunakan cadar bagi Muslimah
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Perhatikanlah, ayat ini memerintahkan para wanita untuk menutup seluruh tubuh mereka tanpa kecuali. Berkata As-Suyuthi rahimahullah, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasatul Fadhilah, hal. 51, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah).

Istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang mulia: ‘Aisyah radhiyallahu’anha dan para wanita di zamannya juga menggunakan cadar, sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiyallahu’anha berikut:

“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka telah dekat kepada kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).

Kedua: Dasar kewajiban mengangkat celana, jangan sampai menutupi mata kaki bagi laki-laki Muslim
Banyak sekali dalil yang melarang isbal (memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki), diantaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:

“Bagian kain sarung yang terletak di bawah kedua mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhori, no. 5787).

Dan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha:

“Bagian kain sarung yang terletak di bawah mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad, 6/59,257).

Ketiga: Dasar kewajiban membiarkan janggut tumbuh bagi laki-laki Muslim
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan janggut.” (HR. Muslim no. 624).

Juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Berbedalah dengan orang-orang musyrik; potonglah kumis dan biarkanlah janggut.” (HR. Muslim no. 625).

Dan masih banyak hadits lain yang menunjukkan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk membiarkan janggut tumbuh, sedang perintah hukum asalnya adalah wajib sepanjang tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum asal.

Demikianlah penjelasan ringkas dari kami, semoga setelah mengetahui ini kita lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi orang-orang yang mengamalkan sejumlah kewajiban di atas. Tentu sangat tidak bijaksana apabila kita mengeneralisir setiap orang yang nampak kesungguhannya dalam menjalankan agama sebagai teroris atau bagian dari jaringan teroris, bahkan minimal ada dua resiko berbahaya apabila seorang mencela dan membenci satu kewajiban agama atau membenci orang-orang yang mengamalkannya (disebabkan karena amalan tersebut):

Pertama: Berbuat zhalim kepada wali-wali Allah, sebab wali-wali Allah adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik perintah itu wajib maupun sunnah. Dan barangsiapa yang memusuhi wali Allah dia akan mendapatkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Yunus: 62-63)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri. Dan kalau dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi.’.” (HR. Bukhari, lihat hadits Arba’in ke-38).

Faidah: Para Ulama menjelasakan bahwa makna, “Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah pandangannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk melangkah” adalah hidayah dari Allah Ta’ala kepada wali-Nya, sehingga ia tidak mendengar kecuali yang diridhai Allah, tidak melihat kepada apa yang diharamkan Allah dan tidak menggunakan kaki dan tangannya kecuali untuk melakukan kebaikan.

Kedua: Perbuatan tersebut bisa menyebabkan kekafiran, sebab mencela dan membenci satu bagian dari syari’at Allah Jalla wa ‘Ala, baik yang wajib maupun yang sunnah, atau membenci pelakunya (disebabkan karena syari’at yang dia amalkan) merupakan kekafiran kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada pembatal keislaman yang kelima:

“Barangsiapa membenci suatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 9)

Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.

Dan kepada Ikhwan dan Akhwat yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban di atas hendaklah bersabar dan tetap tsabat (kokoh) di atas sunnah, karena memang demikianlah konsekuensi keimanan, mesti ada ujian yang menyertainya.

Dan wajib bagi kalian untuk senantiasa menuntut ilmu agama dan menjelaskan kepada ummat dengan hikmah dan lemah lembut, serta hujjah yang kuat agar terbuka hati mereka insya Allah, untuk menerima kebenaran ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, bukan pemahaman Teroris. Wallohul Musta’an.

Tanah Baru, Depok, 3 Ramadhan 1430 H.

0 HARI KIAMAT SUDAH DEKAT! (Bag: 2)

KERANGKA PEMBAHASAN MATERI

Pada pembahasan yang telah lalu kita telah mengetahui dalil-dalil yang menunjukkan tentang hari Kiamat serta buku-buku para ulama yang menerangkan tentang tanda-tanda akan terjadi hari Kiamat. Pembahasan dalam buku ini mencakup muqadimah, pembukaan, dua bab, dan penutup.
 
Muqadimah
Mencakup penjelasan pentingnya pembahasan ini dan langkah-langkahnya.

Pembukaan
Mencakup beberapa pembahasan:

Pembahasan Pertama: Didalamnya kami berbicara tentang pentingnya beriman kepada hari kiamat dan pengaruhnya terhadap prilaku pribadi dan masyarakat.

Pembahasan Kedua: Didalamnya kami ungkapkan bahwa diantara bukti pentingnya beriman kepada hari kahir –selain menyebutkan tanda-tandanya- adalah banyaknya ungkapan (hari kiamat) di dalam Al Qur'an dengan nama-nama yang beragam dan saya mengungkapkan sebagian dari nama-namanya beserta pengungkapan dalil dari Al Qur'anul Karim yang menunjukkan hal itu.

Pembahasan Ketiga: Didalamnya kami ungkapkan bahwa hadits ahad merupakan hujjah dalam masalah-masalah Aqidah. Kami juga menjelaskan bahwa jika sebuah hadits terbukti shahih, maka wajib hukumnya menyakini apa-apa yang terkandung di dalamnya.

Kajian ini penting sebagai bantahan terhadap orang-orang yang tidak mengambil khabar ahad dalam masalah aqidah. Kamipun menjelaskan perkataan mereka menjadikan tertolaknya ratusan hadits shahih dan bahwa perkataan mereka itu adalah hal yang di ada-adakan di dalam agama (bid'ah) tidak berlandaskan kepada dalil.

Pembahasan Keempat: Didalamnya kami jelaskan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepada umatnya tentang apa yang telah berlalu dan yang akan terjadi sampai hari kiamat. Diantaranya tanda-tanda kiamat yang mendapatkan bagian lebih besar, karena itulah banyak diriwayatkan hadits-hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat dan diriwayatkan dengan lafadz yang berbeda-beda.

Pembahasan Kelima: Didalamnya kami berbicara tentang Ilmu (pengetahuan) terjadinya kiamat dan kami tegaskan bahwa ilmu tersebut adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah Ta'ala disertai dalil-dalinya. Kemudian kami cantumkan pula bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mengetahui waktunya dan terhadap orang yang mengatakan bahwa umur dunia akan kembali baru. Kami menjelaskan bahwa hal ini bertabrakan dengan Al Qur'an dan As Sunnah, dan kami mengungkapkan di dalamnya berbagai pendapat ulama yang membantah pendapat seperti ini.

Pembahasan Keenam: Didalamnya kami membicarakan dekatnya hari kiamat. Umur dunia yang tersisa hanya sedikit saja jika dibandingkan dengan umur yang telah berlalu.

BAB I:
Mencakup 3 pasal:

Pasal Pertama: Didalamnya kami berbicara tentang definisi makna Syarthu (tanda) menurut bahasa dan istilah, demikian juga makna Saa'ah (kiamat) menurut bahasa dan istilah syar'I dan di dalamnya kami menjelaskan bahwa makna saa'ah (kiamat) diungkapkan dalam 3 (tiga) makna:
1. Kiamat kecil.
2. Kiamat menengah (sedang).
3. Kiamat besar.

Pasal Kedua: Didalamnya kami berbicara tentang pembagian tanda-tanda kiamat dan ia terbagi menjadi dua bagian:
1. Tanda-tanda kiamat kecil.
2. Tanda-tanda kiamat besar.

Kami memberikan definisi untuk setiap bagian. Dan kami jelaskan bahwa sebagian ulama membaginya berdasarkan kemunculannya menjadi tiga bagian:
1. Bagian yang telah nampak dan selesai.
2. Bagian yang sedang nampak, bertambah banyak dan datang silih berganti.
3. Bagian yang belum nampak sampai sekarang.

Pasal Ketiga: Didalamnya kami membicarakan tanda-tanda kecil kiamat, yaitu:
1. Diutsunya Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam
2. Wafatnya Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.
3. Penaklukan Baitul Maqdis.
4. Wabah Tho'un di 'Amwas.
5. Melimpahnya harta dan tidak dibutuhkannya shodaqoh.
6. Munculnya berbagai macam fitnah.
7. Munculnya orang yang mengaku sebagia nabi.
8. Meratanya rasa aman.
9. Munculnya api Hijaz.
10. Memerangi bangsa Turk.
11. Memerangi bangsa 'Ajam.
12. Hilangnya amanah.
13. Hilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan.
14. Banyaknya oknum pembela penguasa yang zhalim.
15. Menyebarnya perzinahan.
16. Riba merajalela.
17. Merajalelanya alat-alat musik dan menganggapnya halal.
18. Banyaknya peminum khamr (minuman keras) dan menganggapnya halal.
19. Berlomba-lomba menghias masjid dan berbangga-bangga dengannya.
20. Berlomba-lomba meninggikan bangunan.
21. Budak wanita melahirkan tuannya.
22. Banyaknya pembunuhan.
23. Berdekatannya zaman (waktu semakin singkat).
24. Berdekatannya pasar.
25. Munculnya kemusyrikan pada umat ini.
26. Merajalelanya perbuatan keji, permusuhan dan jeleknya hubungan bertetangga.
27. Orang tua seperti anak muda.
28. Tersebarnya kebakhilan dan kekikiran.
29. Banyaknya perdagangan.
30. Banyak terjadi gempa bumi.
31. Banyaknya orang-orang yang ditenggelamkan ke dalam bumi, dirubah raut wajahnya dan dilempari batu.
32. Lenyapnya orang-orang sholih.
33. Orang-orang hina diangkat menjadi pemimpin.
34. Pengucapan salam hanya ditunjukkan kepada orang yang dikenal.
35. Mengambil ilmu dari orang bodoh (bukan ahlinya).
36. Banyaknya para wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
37. Benarnya mimpi seorang muslim.
38. Banyaknya karya tulis dan penyebarannya.
39. Lalai dalam melaksanakan ibdah-ibdah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Islam.
40. Membesarnya bulan sabit.
41. Banyaknya kedustaan dan tidak adanya tatsabut (mencari kebenaran) di dalam menukilkan berita.
42. Banyaknya persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yang benar.
43. Banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria.
44. Banyaknya kematian mendadak.
45. Manusia tidak saling mengenal.
46. Tanah Arab kembali hijau dipenuhi tumbuhan dan sungai-sungai.
47. Banyaknya hujan dan sedikitnya tumbuh-tumbuhan.
48. Sunagi Furat menampakkan timbunan emas.
49. Binatang buas dan benda mati berbicara dengan manusia.
50. Mengharap kematian karena beratnya cobaan.
51. Banyaknya jumlah bangsa Romawi dan peperangan mereka dengan kaum Muslimin.
52. Penaklukan Konstatinopel.
53. Peperangan melawan orang Yahudi.
54. Madinah mengusir orang-orang jelek yang ada di dalamnya kemudian hancur diakhir zaman.
55. Diutusnya angina yang lembut dan mencabut ruh orang-orang yang beriman.
56. Penghalalan Baitul Harom dan penghancuran Ka'bah.

Bab II:
Adapun pada bab kedua, pembicaraan di dalamnya adalah tanda-tanda besar kiamat. Bab ini mencakup sembilan bab dan pembukaan.

Pembukaan
Mencakup dua pembahasan:

Pembahasan Pertama: Susunan tanda-tanda besar kiamat.

Pembahasan Kedua: Tanda-tanda besar kiamat yang datang secara berurutan.

Adapun pasal-pasal di dalamnya adalah:

Pasal Pertama: Didalamnya membicarakan tentang Al Mahdi.

Mencakup pembicaraan tentang namanya, sifatnya dan tenpat keluarnya. Kemudian kami sebutkan dalil-dalil dari As Sunnah atas kemunculannya baik berupa nash yang menjelaskannya atau hanya sebatas penuturan sifatnya. Demikian juga kami sebutkan sifat Al Mahdi yang terdapat dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim walaupun tidak terdapat penyebutan namanya.

Kemudian kami cantumkan perkataan para ulama atas mutawatirnya hadits-hadits yang berbicara tentang Al Mahdi dan dilanjutkan dengan penyebutan beberapa kitab yang ditulis oleh para ulama tentangnya disertai penyebutan nama-nama pengarangnya.

Selanjutnya kami menyebutkan orang-orang yang mengingkari munculnya Al Mahdi juga bantahan atas pendapat tersebut.

Kemudian kami berbicara tentang hadits:
لا مهدي إلا عيسى بن مريم
"Tidak ada Al Mahdi kecuali Isa bin Maryam"

Didalamnya kami menjelaskan bahwa hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah bagi orang yang mengingkari keberadaan Al Mahdi.

Pasal Kedua: Didalamnya kami berbicara tentang Al Mahdi Ad Dajjal.

Pembahasannya berkisar tentang makna kedua lafazh dari kata Al Masih Ad Dajjal.

Kamudian kami menuturkan sifat Dajjal dan hadits-hadits yang menjelaskannya.

Lalu pembahasan berlanjut pada kehidupan Dajjal, apakah dia masih hidup atau tidak?
Pembahasan ini berkaitan dengan kisah Ibnu Syayyad (yang hidup pada zaman Nabi). Kemudian kami sebutkan sekelumit tentang kehidupannya, nama, keadaan, ujian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam terhadapnya, kerancuan tentang kisahnya, dan wafatnya. Selanjutnya kami membahas tentang perbedaan pendapat para ulama tentangnya, apakah dia itu Dajjal yang besar (sesungguhnya) atau bulan? Pertama, kami sebutkan pendapat para sahabat dan hadits-hadits yang menyebutkan tentangnya. Selanjutnya kami sebutkan pendapat para ulama tentang Ibnu Syayyad.

Kami membantah orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Ibnu Syayyad adalah cerita bohong yang tidak masuk akal". Dan kami menjelaskan bahwa kisah itu benar adanya berdasarkan dalil-dalil yang shahih dari As Sunnah.

Selanjutnya kami berbicara tentang tempat keluarnya Dajjal. Sesungguhnya Dajjal akan memasuki seluruh negeri kecuali Makkah dan Madinah.

Lalu kami menyebutkan para pengikut Dajjal dan fitnahnya.

Kemudian kami membantah orang yang mengingkari munculnya Dajjal, dan kami menjelaskan bahwa apa yang diberikan kepadanya dari hal-hal yang luar biasa merupakan sebuah kenyataan.

Demikian juga kami berbicara tentang bagaimana cara menjaga diri dari fitnah Dajjal dan persenjataan yang wajib dimiliki oleh seorang muslim sehingga ia selamat dari fitnah yang besar ini.

Kemudian pembahasan dilanjukan dengan hikmah tidak adanya pembahasan Dajjal di dalam Al Qur'an secara jelas.

Kemudian kami akhiri pembicaraan tentang Dajjal dengan menyebutkan bagaimana cara membinasakan Dajjal dan mengakhiri fitnahnya.

Pasal Ketiga: Pembahasan didalamnya berbicara tentang turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam di akhir zaman sebagai imam dan hakim yang adil.

Sebelumnya pembahasan tentang turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam, kami berbicara tentang sifatnya yang dijelaskan dalam berbagai riwayat yang shahih disertai penyebutan riwayat tersebut.

Selanjutnya kami berbicara tentang sifat turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam dan tempat turunnya.
Kemudian kami menyebutkan beberapa pendapat para ulama yang menetapkan mutawatirnya hadits-hadits yang menjelaskan turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam. Dan turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam di akhir zaman disebutkan oleh sekelompok ulama di dalam penjelasan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Lalu kami menerangkan dalil-dalil dari Al Qura'an dan As Sunnah tentang turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam sebagai tanda dekatnya hari kiamat. Kemudian kami memulai dengan dalil-dalil turunnya Nabi Isa dari Al Quranul Kariim disertai penyebutan pendapat para ulama ahli tafsir tentangnya. Selanjutnya kami ungkapkan hadits-hadits yang menunjukkan turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam. Hadits-hadits tersebut mutawatir, tidak boleh ditolak, bahkan wajib diimani.
Selanjutnya kami menuturkan hikmah turunnya Nabi Isa 'alaihi sallam bukan nabi lainnya dari kalangan para nabi salamu 'alaihim. Dan kami jelaskan bahwa beliau turun dengan menjadikan syari'at Islam sebagai landasan hukum, tidak dengan menghapusnya, disertai penyebutan dalil-dalilnya.

Demikian juga kami menjelaskan tentang zaman Nabi Isa 'alaihi sallam. Sungguh zamannya adalah zaman yang penuh dengan keamanan dan kesejahteraan, langit menurunkan berkahnya dan bumi mengeluarkan segala kekayaannya.

Selanjutnya kami menutup pembahasan ini dengan menjelaskan lamanya beliau tinggal di dunia setelah beliau turun, kemudian menjelaskan wafat beliau 'alaihi sallam.

Pasal Keempat: Yaitu tentang keluarnya Ya'juj dam Ma'juj. Kami awali pembahasan tentang pengambilan kata Ya'juj dan Ma'juj, kemudian kami berbicara tentang asal-usul mereka. Kami jelaskan bahwa ia adalah anak cucu Adam 'alaihi sallam, selanjutnya penjelasan tentang sifat mereka dan bagaimana mereka keluar disertai dalil-dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah yang menjelaskan kebenaran bahwa mereka akan keluar pada akhir zaman. Lalu kami berbicara tentang bendungan Ya'juj dan Ma'juj. Sesungguhnya tempat bendungan tersebut tidak diketahui dan kami jelaskan bahwa bukti-bukti menunjukkan sampai saat ini bendungan tersebut belum terbuka. Kami membantah orang yang mengatakan bahwa bendungan tersebut telah terbuka dan Ya'juj dan Ma'juj telah keluar. Mereka adalah bangsa Tatar yang telah muncul pada abad ke-7 Hijriyah.

Pasal Kelima: Pembahasan berkisar tentang tiga al khasf (penenggelaman ke dalam bumi) yaitu penenggelaman ke dalam bumi di timur dan barat di jazirah arab.

Pertama-tama kami berbicara tentang makna Al Khasf, kemudian menjelaskan bahwasannya tiga penenggelaman ini merupakan tanda-tanda kiamat yang besar dan hal itu belum terjadi sampai sekarang. Adapun sebagain penenggelaman yang telah terjadi, hal itu merupakan peristiwa penenggelaman kecil, kami sebutkan ini di dalam pembahasan tanda-tanda kecil kiamat.

Pasal Keenam: Pembahasan tentang asap.

Pertama-tama kami menuturkan beberapa dalil dari Al Qur'an yang menetapkan akan munculnya asap, demikian juga kami mengungkapkan pendapat para ulama tentang asap ini, apakah ia telah terjadi atau belum? Disertai penjelasan pendapat yang kuat. Kemudian kami menyebutkan dalil-dalil dari As Sunnah yang shahih.

Pasal Ketujuh: Didalamnya kami berbicara tentang terbitnya matahari dari barat.

Pertama-tama kami sebutkan dalil-dalil dari Al Qur'anul Kariim dengan menyebutkan sebagian pendapat para ulama tafsir, kemudian dalil-dalil dari As Sunnah. Lalu disebutkan juga perbedaan pendapat dengan Syaikh Muhammad Rasyid Ridlo ketika beliau menolak hadits Abu Dzar radhiallahu 'anhu tentang sujudnya matahari.

Lalu kami jelaskan bahwa setelah matahari terbit dari barat, maka keimanan tidak lagi diterima, begitu juga taubat, bahkan seluruh amalan ditutup, dan kami membantah orang yang menyalahi hal itu dengan dalil-dalil yang shahih.

Pasal Kedelapan: Disalamnya kami berbicara tentang keluarnya binatang bumi.

Pertama-tama kami sebutkan dalil-dalil dari Al Qur'anul Kariim, kemudian dali dari As Sunnah yang shahih. Kemudian kami berbicara tentang tempat keluarnya binatang tersebut.

Selanjutnya kami sebutkan beberapa pendapat para ulama tentang macam-macam binatang ini dengan pengungkapkan pendapat yang paling kuat.

Kemudian kami ungkapkan perbuatan binatang tersebut ketika muncul.

Pasal Kesembilan: Tentang keluarnya api yang mengumpulkan manusia.

Didalamnya kami berbicara tentang tempat keluarnya api tersebut, dalil-dalil tentang hal itu, kemudian cara api itu mengumpulkan manusia, disertai penyebutan dalil-dalil tentang hal tersebut.

Kemudian kami berbicara tentang bumi dimana manusia dikumpulkan di atasnya. Selanjutnya kami ungkapkan keutamaan negeri Syam, hadits-hadits yang memberikan dorongan untuk tinggal disana dan bantahan bagi orang yang mengingkari daerah Syam sebagai tempat dikumpulkannya manusia.

Selanjutnya kami jelaskan bahwa berkumpulnya manusia yang diungkapkan dalam hadits adalah peristiwa yang terjadi di dunia sebelum hari kiamat. Dan kami sebutkan perbedaan pendapat para ulama tentangnya juga kami jelaskan pendapat yang paling kuat.

Penutup
Didalamnya kami ungkapkan berbagai kesimpulan terpenting yang telah kami ambil.

Wa Ba'du;

Sesunggunya kami memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya di awal dan di akhir, secara zhahir maupun bathin atas segala kemudahan yang diberikan-Nya. Dan hanya kepada-Nya kami memohon tambahan pertolongan dan taufiq-Nya.

Kami tidak mengaku bahwa kami telah menyempurnakan semua sisi pembahasan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah, dan kekurangan adalah sebagai tabi'at manusia. Akan tetapi kami telah berusaha keras, kebenaran apa saja yang ada di dalamnya, maka hal itu merupakan taufiq dari Allah Azza wa Jalla, adapun selain itu maka kami memohon ampun kepada Allah darinya, cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami.

Maha Suci dan Maha Agung Engkau wahai Rabb atas segala sifat (jelek) yang mereka sifatkan. Kesejahteraan semoga tetap terlimpah kepada para Rasul, dan segala puji hanya milik Allah Rabb seluruh alam.

Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada hamba-Nya, Rasul-Nya, Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, dialah imam orang-orang yang bertaqwa, juga kepada keluarga dan para sahabatnya dan setiap orang yang mengikuti jalannya sampai hari kiamat. (Bersambung, insyaallah).

ANDA MEMBUTUHKAN BIBIT MANGGA BERKWALITAS?

Kami Bibit Unggul Nursery menyediakan berbagai Bibit Mangga Berkwalitas, missal: Mangga Erwin/Irwin, Mangga Kiojay, Mangga Chokanam, mangga Namdokmay, Mangga Mahatir. Kami juga menyediakan Bibit Durian Monthong, Durian Bhineka Bawor, Jeruk Chokun, Jeruk Santang.

Segera Hubungi Kami di:

0852-2081-6455.

Lengkapi koleksi kebun Anda dengan Bibit Berkwalitas dari kami

Kami siap melayani pembelian(Grosir dan Eceran) bibit dari seluruh Indonesia dengan kwalitas bibit unggulan dan harga terjangkau.

Komentar Terbaru