0 Menghidupkan Sunnah Tidak Menghalangi Kesiagaan Menghadapi Musuh-musuh Islam

Di antara syubhat-syubhat ahlul bid’ah dalam rangka menggembosi pe-ngamalan sunnah adalah ucapan mereka: “Kaum muslimin hari ini dalam keadaan lemah, diinjak-injak dan dijatuhkan mar-tabatnya oleh musuh-musuh Islam. Di mana-mana terjadi pembantaian kaum muslimin seperti binatang ternak, tetapi kalian malah sibuk mempelajari sunnah-sunnah, mengajarkan dan menerapkan-nya! Apakah kalian tidak memikirkan saudara-saudara kalian yang dibantai?!…”

Kalimat yang semakna dengan ini sering dilontarkan oleh ahlul bid’ah dan musuh-musuh sunnah dari kalangan khawarij, syi’ah rafidlah, mu’tazilah atau pun para hizbiyyun dan dai-dari politik dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Suru-riyyin dan lain-lain. Mereka mengang-gap bahwa menghidupkan sunnah-sun-nah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam merupakan pengha-lang perjuangan jihad melawan musuh-musuh Islam.

Prasangka ini muncul dari mereka karena mereka memandangnya dengan kacamata kebid’ahan. Dan karena per-juangan jihad mereka juga adalah perju-angan dengan cara-cara bid’ah, maka tentu saja akan bertentangan dengan sunnah-sunnah.

Kita jawab syubhat mereka dari beberapa sisi:
Pertama, perjuangan jihad mela-wan musuh-musuh Allah jika dilakukan dengan cara yang syar’i dan mencocoki ajaran Sunnah Rasulllah shalallahu 'alaihi wa sallam, tidak ada pertentangan dengan usaha menghidupkan sunnah-sunnah beliau shalallahu 'alaihi wa sallam, sekalipun pada perkara-perkara yang mereka ang-gap furu’.

Bisa kita lihat pada generasi perta-ma umat ini, mereka adalah para muja-hidin yang telah membuktikan kehebatan mereka di medan tempur melawan mu-suh-musuh Islam. Namun mereka tidak pernah sesaatpun meremehkan sunnah-sunnah seperti bersiwak, mengangkat pakaian di atas mata kaki, memotong kuku, merapikan kumis, membiarkan jenggot. Apalagi sunnah-sunnah yang berkaitan dengan ibadah mahdlah seper-ti gerakan-gerakan shalat yang sunnah, shalat lail dan membaca al-Qur’an serta dzikir pagi dan sore dan lain-lain.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada pertentangan antara melaksa-nakan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan jihad melawan musuh-musuh Islam.

Kedua, dengan menghidupkan sun-nah-sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, kita akan semakin dekat kepada Allah. Dan ketika kita semakin dekat kepada Allah, maka Allah akan membela dan menolong kita. Sehingga kita katakan menghidupkan sunnah-sunnah justru mendukung da-tangnya kemenangan.

Allah berfirman:
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ …. الحج: 40
Sungguh Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya... (al-Hajj: 40)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ. محمد: 7
Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhamamad: 7)

Ketiga, orang yang menghidupkan sunnah-sunnah akan mencapai derajat wali dan kekasih Allah yang akan dibela oleh Allah dan dikabulkan doanya. Maka Allah akan memenangkan mereka ketika menghadapi musuh-musuhnya sekuat apapun mereka, karena Allah ada di pihak mereka.
Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bersabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إَلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحَبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلْنِي َلأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي َلأُعِيْذَنَّهُ.... (رواه البخاري
Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang terhadap-nya. Tidaklah ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku lebih aku sukai daripada melaksanakan apa yang aku wajibkan kepadanya, dan seorang hamba yang terus-menerus mendekat-kan diri kepada-Ku dengan menger-jakan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintai-nya, Aku akan menjadi pendengaran-nya yang dia mendengar dengannya; Aku akan menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya; Aku akan men-jadi tangannya yang dia memukul de-ngannya; dan Aku akan menjadi kaki-nya yang dia berjalan dengannya. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh pasti akan Aku beri. Dan jika dia berlindung kepada-Ku, sungguh pasti akan Aku lindungi… (HSR. Bukhari)

Dengan hadits ini kita mengetahui bahwa dengan diamalkannya sunnah-sunnah, walaupun pada perkara-perkara yang mustahab (tidak wajib) akan me-nyebabkan kecintaan Allah terhadapnya. Kecintaan itu akan menyebabkan pembe-laan Allah terhadapnya. Maka yang demi-kian sungguh akan mendukung perju-angan jihad fie sabilillah, bukan justru sebaliknya.
Keempat, lebih tegas lagi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jalan keluar dari penderitaan dan kehinaan serta pe-nindasan orang-orang kafir adalah de-ngan kembali kepada agama Allah. Tidak dibedakan oleh beliau mana yang wajib dan mustahab, yang ushul maupun yang furu’, tidak pula dibedakan mana yang qusyur (kulit) dan mana yang lubab (inti). Artinya kembalilah kepada agama kalian secara kaaffah.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ. رواه أبو داود عن ابن عمر
Jika kalian telah berjual beli dengan cara riba, telah mengambil ekor-ekor sapi, telah ridla dengan perkebunan-perkebunan dan kalian telah meninggalkan jihad, maka Allah akan timpakan atas kalian kehinaan, yang kehinaan itu tidak akan Allah cabut hingga kalian kembali kepada agama kalian. (HSR. Abu Dawud)

Dengan hadits ini kita ketahui bahwa jalan satu-satunya untuk melepas-kan dari kehinaan yang menimpa kaum muslimin adalah kembali kepada agama Allah. Sedangkan agama Allah adalah seluruh yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, Dengan kata lain sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Maka sungguh aneh pernyataan para hizbiyyun di atas yang bernada me-mojokkan sunnah dan menganggapnya sebagai penghalang bagi perjuangan ‘jihad’. Hal demikian karena apa yang mereka anggap ‘jihad’ ternyata sebuah gerakan kebid’ahan yang mereka beri la-bel ‘jihad’, yang tentu saja bertentangan dengan sunnah.

Lihat para politikus atau hizbiyyun, mereka menamakan perjuangan partai mereka pada pemilu dan parlemen se-bagai jihad. Padahal pemilu dan demo-krasi adalah perkara bid’ah dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam, kare-na ajaran ini menganut sistem suara ter-banyak, sementara dalam Islam tidak demikian.

Akhirnya, ‘jihad’ mereka pasti akan bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Karena mereka berusaha untuk meraih pengikut sebanyak-ba-nyaknya untuk memenangkan partainya; sedangkan orang yang menghidupkan sunnah–sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam akan terli-hat asing, sedikit bahkan akan dijauhi kebanyakan umat. Untuk itu mereka menganggap dengan diamalkan dan dihi-dupkannya sunnah-sunnah akan mengu-rangi suara partainya. Dan dengan ber-kurangnya pengikut mereka akan meng-gagalkan perjuangan mereka di parlemen.

Contoh kedua, apa yang dilakukan oleh khawarij. ‘Jihad’ menurut mereka adalah melakukan pemberontakan terhadap penguasa muslim yang sah. Tentu saja mereka akan menganggap halal da-rah kaum muslimin yang ada di peme-rintahan. Hal ini bertentangan dengan perintah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk taat kepada penguasa walaupun ia berbuat dhalim dan seterusnya. Dengan hal ini pula tentu saja mereka akan menghalalkan darah kaum muslimin yang ada di pemerintahan. Ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang menyatakan haramnya darah kaum muslimin, kecuali pada tiga perkara, yaitu qishash bagi orang yang membunuh muslim dengan sengaja tanpa haq, hukum rajam bagi pezina yang sudah menikah dan hukum mati bagi orang murtad.

Dengan model ‘jihad’ yang seperti ini, pasti mereka akan menganggap sunnah-sunnah sebagai penghalang.

Demikian pula bagi mu’tazilah. Mereka tidak mau menerima sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam kecuali yang mereka anggap masuk akal. Sehingga perjuangan mereka adalah perjuangan dengan cara-cara akal dan hawa nafsu mereka. Perjuangan model ini tentu saja akan kembali menganggap sunnah-sunnah sebagai penghalang perjuangan mereka. Dan mereka akan alergi jika melihat orang-orang menghidupkan sunnah, di mana akal mereka tidak mampu mengetahui hikmah-hikmahnya.

Demikianlah semua kelompok ahlul bid’ah akan menjauhkan umat dari sun-nah-sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dengan berba-gai macam syubhat yang mereka perbuat. Kalimat di atas hanyalah alasan yang diada-adakan, sesungguhnya sebab uta-manya adalah karena mereka benci pada sunnah.

Sebagai penutup kita ingatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk kem-bali kepada agama Allah, ikutilah sun-nah-sunnah Rasulullahshalallahu 'alaihi wa sallam. Karena sesung-guhnya sebab terjadinya bencana, kehi-naan dan diinjak-injaknya kaum musli-min oleh musuh-musuhnya adalah karena kelalaian mereka dari agama Allah. Ketika mereka meremehkan ajaran Allah dan melupakannya, maka terjadilah apa yang telah terjadi dari kehinaan dan kerendahan yang menimpa umat Islam. Dalam keadaan seperti, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali kepada agama tersebut secara keseluruhan, baik yang diwajibkan, maupun dengan meng-hidupkan yang mustahab, mempelajari, mengamalkan dan menyampaikannya kepada umat.

Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman dan beramal shalih akan diberi kemuliaan dan menjadi penguasa di muka bumi dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. النور: 55
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan men-jadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesu-dah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada memperseku-tukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (an-Nuur: 55).Wallahu a’lam

Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Sumber: http://muhammad-assewed.blogspot.com/2008/09/menghidupkan-sunnah-tidak-menghalangi.html

19 Mengenal Lebih Dalam Hakikat Manhaj Yayasan As Sunnah (UPDATE 28/9/08)

MENGENAL LEBIH DALAM HAKIKAT MANHAJ
YAYASAN AS SUNNAH CIREBON

Oleh: Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan


Segala puji bagi Allah, kami memuji, meminta tolong, dan beristigfar kepada-Nya, kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejelekan amalan-amaan kami.Barangsiapa yang Allah beri hidayah oleh-Nya maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba'du:

Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ (34
"Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah…" (QS.At Taubah: 34).

Allah Ta'ala berfirman ketika mencela ulama suu':
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآَخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (169
"Maka setelah mereka, datanglah generasiyang jahat yang mewarisi Taurat yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata:'Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu juga, niscaya mereka akan mengambilnya juga. Bukankah mereka terikat perjanjian dalam kitab Taurat bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar,padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al A'rof: 169).

Dan telah Tsabit dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bahwasannya ia bersabda:
أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان
"Sesuatu yang paling aku takutkan terhadap ummatku adalah setiap munafiq yang pandai bersilat lidah"

Dari Tsauban radhiallahu 'anhu, ia berkata: Bersabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam:
أخوف ما أخاف عليكم الأئمة المضلون (رواه أبو داود
"Sesuatu yang paling aku takutkan terhadap kalian adalah a'imah yang menyesatkan" (HR. Abu Dawud)1)

Dari ayat dan hadits di atas teranglah bagi kita begitu berbahayanya para da'I yang menyerukan kepada kesesatan. Namun berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yayasan As-Sunnah Cirebon dan para da'inya, mereka justru menebarkan virus-virus yang berasal dari para da'I yang telah dikenal kesesatannya, misal: Syaikh Muhammad Sholih Munajid dan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Aj Jibrin. Mereka menebarkan virus-virus da'I hizbiyyah ini melalui media audio ataupun tulisan (dengan menterjemahkan tulisan-tulisan mereka) kepada ummat.(Lihat gambar 1 dan 2)


(Gambar: 1)

(Gambar: 2)

Maka saya berkata: Segala puji hanya bagi Allah yang telah menguakkan bukti-bukti ini. Hal ini semakin menunjukkan kepada kita akan hakikat manhaj Yayasan As Sunnah Cirebon beserta para da'inya.

Allah Ta'ala berfirman:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ (18
"Sebenarnya Kami melemparkan yang haq (kebenaran) kepada yang bathil, lalu yang haq itu menghancurkannya. Maka seketika itu yang bathil lenyap…" (QS. Al Anbiya': 18).

A. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Aj Jibrin
Merujuk fatwanya tertanggal 17/8/1416H, 26/2/1417, serta 14 Rabi'ul Akhir 1417H/29 Agustus 1996 yang diterbitkan oleh koran Kuwait Al Anbaa' ketika ditanya tentang Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb, maka kita akan mengetahui pembelaannya terhadap Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb. Beliau berkata ketika membela Sayyid Quthb dan Hasan Al Banna dalam fatwanya:"…Kemudian aku berkata: Sesungguhnya Sayyid Quthb dan Hasan Al Banna adalah bagian dari ulama kaum muslimin dan dari ahlul dakwah. Allah telah memberikan manfaat yang banyak dengan dakwah mereka, serta pada diri mereka ada kejuhudan tanpa kita diragukan lagi…".2)


(Gambar: 3)

Dan alhamdulillah Syaikh Abdullah Shalfiq Az Zufairi hafizahullah telah membantah fatwa Syaikh Aj Jibrin ini dengan bantahan yang memuaskan dan mematikan syubhat yang hendak dihembuskannya kepada ummat.

Perlu diketahui bahwa buku bantahan terhadap Syaikh Aj Jibrin ini diberi komentar oleh Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizahullah dan Syaikh 'Ubaid Al Jabiri hafizahullah.

Selain Syaikh Abdullah Salfiq Az Zufairi hafizahullah, Syaikh Muhadits Yahya bin 'Ali Al Hajuri hafizahullah telah memasukkan Syaikh Aj Jibrin kedalam barisan du'at hizbiyyah, berikut buktinya:

(Gambar: 4)

Dan segala puji bagi-Nya, selain kedua Syaikh tersebut di atas kami juga mendapatkan fatwa Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy rahimahullah tentang Syaikh Aj Jibrin ini. Berikut cuplikan fatwa beliau rahimahullah:

بن جبرين ياجماعة هو إخواني إخواني محترق كما يقال أنا ابغاكم تقرأون كتاب رد الجواب إذا رأيتم فيه شيء من خطأ قولولي........

Agar bukti ini semakin kuat, berikut kami sertakan juga rekaman audionya


(Sumber: Kaset Ash Showa'iqun Nazilah 'alal Afkar Bathilah, side:B)


Dan lihatlah bantahan Syaikh (Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullah) terhadap perkataan-perkataan Syaikh Aj Jibrin terhadap kitab beliau yang berjudul MAURIDUL 'ADZBUZ ZULAAL terutama dalam bab: 9 dari buku tersebut.


Perlu kita ketahui bahwa bab:9 dalam kitab MAURID berisi 25 catatan penyimpangan Ikhwanul Muslimin.


Klik disini untuk menemukan jawaban Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullah.


Dari bukti-bukti di atas menujukkan kepada kita bahwa Syaikh Aj Jibrin adalah bagian dari du'at Ikhwanul Muslimin (Da'I hizbiy).

b. Syaikh Muhammad Sholih Munajid
Diantara buku yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Sholih Munajid adalah Muharomat Istahana bihan Naas yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Dosa-dosa yang dianggap biasa. Diterbitkan dan dibagikan secara gratis oleh Yayasan Hizbiy Al Shofwah, Jakarta.

Jika mereka bertanya:Apa buktinya da'I Yayasan As Sunnah Cirebon menyebarkan tulisan dan membela pemikiran Syaikh Muhammad Sholih Munajid? Maka kami jawab sbb:

Bukti bahwa da'I Yayasan As Sunnah Cirebon menyebarkan pemikiran Syaikh Muhammad Sholih Munajid adalah dengan apa yang diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdirrahman Fariq bin Qosim Anuz berjudul Bahaya Meremehkan Dosa dengan mengambil rujukan buku Uriidu 'an Atuuba Walaakin...karya Syaikh Muhammad Sholih Munajid. Terjemahan ini dalam bentuk bulletin yang di cetak dan diterbitkan oleh Jeddah Da'wah Center, KSA (Tempat kerja Ustadz Fariq) kemudian digandakan oleh lajnah-lajnah lainnya, berikut buktinya:

(Gambar: 6)


(Gambar: 7)

Siapakah Syaikh Muhammad Sholih Munajid?

Perlu kiranya kita mengetahui sejenak siapakah sebenarnya Syaikh Muhammad Sholih Munajid ini.

Merujuk fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy dan Syaikh 'Ubaid Al Jabiri serta Syaikh Yahya Al Hajuri hafizahumullah dapat kita ketahui bahwa Syaikh Muhammad Sholih Munajid ini adalah seorang hizbiy.

Berkata Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy hafizahullah:"Dia (Syaikh Muhammad Sholih Munajid, pent) adalah salah satu pembesar dari pembesar-pembesar Quthbiyin (=pengikut Sayyid Quthb)".

Berkata Syaikh 'Ubaid Al Jabiri hafizahullah:"Sesungguhnya dia adalah seorang Quthbiy (=pengikut Sayyid Quthb)".(Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=289576).

Berkata Syaikh Yahya bin 'Ali Al Hajuri hafizahullah:"Al Munajid: Sesungguhnya telah berkata Syaikh kami (=Syaikh Muqbil, pent) bahwasannya ia adalah Sururiy (=pengikut Muhammad Zainal Abidin bin Surur)". (Sumber: http://www.salafyoun.com/showthread.php?p=15285).


(Gambar: 8)

Bukti kehizbiyahan beliau dapat kita lihat dalam kitabnya. Beliau menasehatkan untuk membaca buku-buku para tokoh Ikhwanul Muslimin serta menasehatkan untuk mendengarkan kaset-kaset mereka, misal:Sayyid Quthb, Hasan Al Banna, Abul A'la Al Maududiy, Aid Al Qorniy, Safar Hawaliy dll dalam perpustakan pribadi dirumah-rumah. Kemudian beliau menasehatkan agar anak-anak kita mendengarkan nasyid (Sumber: http://www.salafyoun.com/showthread.php?t=2250).


(Gambar: 9)


(Gambar: 10)



(Gambar: 11)


(Gambar: 12)

Maka dari bukti ini jelaslah bahwa Syaikh Muhammad Sholih Munajid adalah seorang Hizbiy.

Du'at Yayasan As Sunnah Cirebon
Setelah kita mengetahui hakikat Manhaj Yayasan As Sunnah Cirebon, maka perlu kiranya kita mengenal sedikit para da'i yang bernaung di bawah payung Yayasan As Sunnah. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat berhati-hati dalam mengambil ilmu ini.

Para da'I aktif pada waktu kami masih belajar di Yayasan ini diantaranya adalah sbb:
A. Abu Abdirrahman Fariq Qosim Anuz, Lc.
B. Abu Nu'man Muhammad Thoharoh, Lc.
C. Abu Abdillah Tata Abdul Ghoniy Nashih.
D. Ahmad Kurnaedi (Kurnaedi), Lc. (Pernah mengajarkan buku karya Adnan Ar'ur kepada akhwat di daerah kami (Cideng, Cirebon).
E. Ali Hijrah (waktu itu sebagai ketua Yayasan).
F. Abu Ibrohim Sa'id Riyana.
G. Abu Ibrohim Taryaman, Lc (Suami adik ipar da'I Jum'iyyah Ihya'ut Turots Al Hizbiyyah Kuwait Lajnah Junub Syarq Asia, Abu 'Umair Faruq). Beliau (Taryaman) adalah pengurus Al Irsyad Al Islamiyah Indramayu.
H. Muhsin (Adik Ali Hijrah)
I. Fathurrahman, Lc.

Sedangkan da'I muda di Yayasan ini yang ia dahulu adalah teman penulis, Muadin, Lc.

Semoga dengan adanya bukti yang terang benderang malam bagaikan siangnya ini menjadikan kita semakin berhati-hati dalam mengambil ilmu ini.

Berkata Muhammad Sirin:"Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah darimana kamu mengambil agamamu". (Muqodimah Shahih Muslim)

Wa akhiru da'wana 'anil hamdu lillahi robbil 'alamiin.

Jahra-Kuwait, 20 Romadlon 1429 bertepatan dengan 20 September 2008
Akhukum fillah,
Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan


Catatan:
1) Diringkas dari kata pengantar Syaikh Muqbil rahimahullah terhadap buku رفع اللثام عن مخالفة القرضاوي. Oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al 'Udainiy.
2) Dinukil dari kitab ملحوظات و تنبيهات على فتوى فضيلة الشيخ عبد الرحمن الجبرين hal, 15. Oleh Syaikh Abdullah Salfiq Az Zufairi.

PERHATIAN!!!
Ketika kami melihat kembali website Yayasan As Sunnah pada tanggal 21 Ramadlon 1429 pukul 05.35 waktu Kuwait (sekitar pukul 09.35 WIB) di http://www.radioassunnah.com/ ternyata telah ada PERUBAHAN nama penulis kitab Tahdziibu Tashiilil Aqidatil Islamiyyah dari Syaikh Abdurrahman Aj Jibrin menjadi Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Aj Jibrin. Padahal ketika kami menulis risalah ini kemarin kira-kira sampai pukul 20.00 atau 21.00 waktu Kuwait disana masih tertulis dengan nama Syaikh Abdurrahman Aj Jibrin.Allahlah yang Maha Mengetahui kebenarannya

0 Program Belajar Bagi Penuntut Ilmu (Bag.3 -habis-)

PROGRAM BELAJAR BAGI PENUNTUT ILMU
Oleh: Abu Muhammad Abdur Rahman Sarijan
( Bagian Ketiga –habis-)

4. Hari Selasa ( Adab/kelemah lembutan dan Fawaid).
a. Buku-buku Tentang Adab dan Kelemah Lembutan
-) Shohih At Targhib wat Tarhib, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
-) Mukhtashor Minhajul Qoshidin, karya Ibn Qudamah dengan tahqiq Syaikh Ali Al Halabiy.
-) Riyadhus Sholihin, karya Imam An Nawawi dengan tahqiq Syaikh Al Albani atau tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Halabiy.
-) Yaumul Akhir (Tentang Kiamat kecil/besar, Surgadan Neraka) karya Doktor Umar Al Asqor.
-) Mawaridul Aman Al Muntaqo min Ighotsah Lahfan, karya Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy.
-) Al Muntaqo Nafis min Talbis Iblis, karya Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy.
-) Hadiy Arwah ila Biladil Afrah, karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
b. Kitab-kitab Fawaid (Faidah-faidah).
-) Al Fawaid,karya Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
-) Badiul Fawaid, karya Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
-) Shaidul Khothir, karya Ibnul Jauziy.
-) Al Ma'arif, karya Ibnu Qutaibah.
-) Miftah Daarus Sa'ada, karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dengan tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Halabiy.
c. Kitab-kitab Adab
-) Adabus Sar'iyyah,karya Ibnu Muflih dengan tahqiq Al Arna'ut.
-) Adabud Dunya wad Diin, karya Al Mawardiy.
-) Adabut Thulab, karya As Syaukaniy.

5. Hari Rabu (Hadits dan Mushtholah Hadits/Ilmu Hadits)
Bagian Pertama: Kitab-kitab Hadits
a. Tingkat Pertama
-) Arba'in Nawawi, karya Imam An Nawawi disertai dengan syarh-nya (penjelasannya) karya Ibn Daqieq Al Ied, karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin, karya Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh serta lihat syarh Ibn Rajab (Jaami'ul 'Ulum wal Hikam) untuk mengambil manfaat darinya.
-) 'Umdatul Ahkam, karya Al Imam Abdul Ghoniy Al Maqdisiy.
b. Tingkat Kedua
-) Bulughul Marom, karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy.
-) Mukhtashor Shohih Bukhori, karya Jubaidiy atau karya Syaikh Al Albani.
-) Mukhtashor Shohih Muslim, karya Syaikh Al Albani.
c. Tingkat Ketiga
-) Majmu' Al Hadits 'ala Abwabil Fiqh,karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dengan tahqiq Syaikh Usamah Al Utaibiy.
-) Shohih Bukhori disertai dengan Syarh-nya, misal Fathul Bari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani.
-) Shahih Muslim disertai dengan Syarh-nya karya Imam An Nawawi.
d. Tingkat Keempat
-) Sunan Abu Dawud disertai dengan Syarh-nya 'Anul Ma'bud dengan penilaian hadits-hadits oleh Syaikh Al Albani.
-) Sunan At Tirmidzi disertai dengan Syarh-nya Tuhfatul Ahwadzi dengan penilaian hadits-hadits oleh Syaikh Al Albani.
-) Sunan An Nasa'I disertai dengan Syarh-nya karya As Suyuthiy dengan catatan (Hasyiyah) oleh As Sindiy disertai penilaian hadits-hadits oleh Syaikh Al Albani.
-) Sunan Ibn Majah disertai dengan Hasyiyah-nya oleh As Sindiy disertai penilaian hadits-hadits oleh Syaikh Al Albani.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:

1. Shohih Ibn Khuzaimah; Shohih Ibn Hibban dengan tahqiq Al Arna'ut; Musnad Abi 'Awanah cetakan Daarul Ma'rifah; Mustadrok 'ala Shohihain karya Al Hakim; Silsilah Ahadits Shohihah karya Syaikh Al Albani; Shohihul Jami' karya Syaikh Al Albani; Al Jami'ul Shohih karya Syaikh Muqbil Al Wada'iy.
2. Al Muwatho' karya Imam Malik disertai dengan Syarh-nya, misal Syarh karya Az Zarqoniy; Al Muntaqo karya Al Jarud; Sunan Ad Daruquthniy dengan tahqiq Al Arna'ut; Sunanul Kubro karya Al Baihaqi dll.
3. Musnad Imam Ahmad dengan tahqiq Al Arna'ut; Kasyful Astar 'an Zawaid Bazar karya Al Haitsamiy dengan tahqiq Syaikh Usamah Al Utaibiy; Mu'jamul Kabiir karya At Tabraniy; Mu'jamul Shoghir karya At Tabraniy dengan tahqiq Muhammad Syakur Amir; Mu'jamul Ausot karya At Tabraniy; Al Mu'jam karya Ibnul A'robiy.
4. Jami'ul Ushul, karya Ibnul Atsir dengan tahqiq Al Arna'ut; Majmu' Al Jawa'id, karya Al Haitsamiy.

Bagian Kedua: Mushtholahul Hadits/Ilmu Hadits
a. Tingkat Pertama
-) Az Zubdatul Fii Mushtholahil Hadits atau kitab karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin dalam Mushtholahul Hadits.
-) Nukhbatul Fikr, katya Al Hafidz Ibn Hajar Al Asqolaniy.
b. Tingkat Kedua
-) Taisir Mushtholahul Hadits, karya Mahmud At Thohan.
-) Tuhfatus Saniyyah Syarh Al Mazhumah Baiquniyyah, karya Masyath tahqiq dan ta'liq Fawaz Zamuliy.
c. Tingkat Ketiga
-) Nazatun Nazhor Syarh Nukhbatul Fikr, karya Al Hafidz Ibnul Hajar Al Asqolaniy disertai dengan An Nukat karya Syaikh Ali Hasan Al Halabiy.
-) Baa'its Al Hatsits, karya Ibn Katsir dengan tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Halabiy.
d. Tingkat Keempat
-) An Nukat 'ala kitab Ibn Sholah, karya Al Hafidz Ibn Hajar Al Asqolaniy dengan tahqiq Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy.
-) Fathul Mughits, karya As Sakhowiy.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:

1. Ma'rufatul 'Ulumul Hadits, karya Al Hakim; 'Ulumul Hadits, karya Ibn Sholah; Tawadlih Afkar, karya Shona'aniy; Syarh Alfiyah As Suyuthiy, karya Atsubiy; Syarh 'Alil At Tirmidzi, karya Ibn Rajab; An Nukat 'ala Muqodimah ibn Sholah, karya Zarkasyiy; Jaami' Liakhlaqir Rowa wa Adabis Saami', karya Al Khothib Bagdadiy.
2. Menelaah kitab-kitab rijal hadits, misal: Aj Jarh wat Ta'dil, karya Ibn Abi Hatim; At Tarikhul Khabiir, karya Bukhori; Ats Tsiqot, karya Ibn Hibban; Al Majruhin, karya Ibn Hibban; Tahdzibul Kamal, karya Al Mizziy dan bagian-bagian dari kitab ini, seperti: Tahdzibut Tahdzib, karya Ibn Hajar Al Asqolani; Taqribut Tahdzib, karya Ibn Hajar Al Asqolani; Mizanul I'tidal, karya Ad Dzahabiy; Lisanul Mizan, karya Ibn Hajar Al Asqolani; Tarikh Damsiq, karya Ibn Asakir; Tarikh Ashbahaniy, karya Al Ashbahaniy; Siyar A'lamun Nubala, karya Ad Dzahabiy; Tadzkiro Al Hufaazh, karya Ad Dzahabiy.
3. Menelaah kitab-kitab takhrij hadits, misal: Talkhis Al Habiir, karya Ibn Hajar Al Asqolani; Irwa'ul Gholil, karya Syaikh Al Albani; Badrul Muniir, karya Ibn Mulqin.

6. Hari Kamis (Siroh dan Tarikh)
a. Tingkat Pertama
-) Raudlotul Anwar fii Siroh Nabi Al Mukhtar, karya Syaikh Mubarokafuriy.
-) Al Fushul fii Sirotir Rasul shalallahu 'alaihi wa sallam, karya Ibn Katsir dengan tahqiq Syaikh Salim Al Hilaliy.
b. Tingkat Kedua
-) Siroh Nabawiyah As Shahihah, karya Al 'Umriy atau Shahih Siroh Nabawiyah, karya Syaikh Al Albani.
c. Tingkat Ketiga
-) Syamail Muhammadiyah, karya Imam At Tirmidzi disertai dengan Mulakhosh Syamail Muhammadiyah karya Syaikh Al Albani.
-) Anwar fii Syamail Nabiy Al Mukhtar, karya Imam Al Baghawiy.
d. Tingkat Keempat
-) Tarikhul Islam, karya Ad Dzahabiy.
-) Bidayah Wan Nihayah, karya Ibn Katsir.
-) Huquq Nabiy shalallahu 'alaihi wa sallam, karya Syaikh Doktor Muhammad Kholifah At Tamimi.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:
1. Siroh Nabawiyah: Siroh Nawabiyah, karya Ibn Hisyam; Zaadul Ma'ad, karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
2. Tarikh Islamiy: Tarikh Umam wal Muluk, karya Ibn Hajar At Thobariy; Al Kamal fit Tarikh, karya Ibn Atsir; Da'wah Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab wa Atsaruha, karya Syaikh Sholih Al 'Abud.
3. Tarojim Shohabah, karya Ibn Hajar Al Asqolaniy; Thobaqot Hanabilah, karya Ibn Abi Ya'la; Tobaqot Syafi'iyah, karya As Sabakiy; Tartib Madarik, karya Qodli 'Iyyad; 'Ulama Najd Khilal Tsamaniyah Qurun, karya Syaikh Al Bassam.

7. Hari Jum'at (Tajwid dan Nahwu)
Bagian Pertama: Tajwid
a. Tingkat Pertama
-) Khulashoh min Ahkamit Tajwid, dikumpulkan oleh Khomis Al 'Umriy.
-) Burhan fii Tajwidil Qur'an, karya Al Qomahawiy.
-) At Tibyan, karya An Nawawi.
b. Tingkat Kedua
-) Mulakhosh Mufid fii 'ilmit Tajwid, karya Syaikh Muhammad Ma'bud.
-) Ahkamut Tajwid wa Fadloil Qur'an, karya Syaikh Muhammad Abdul 'Aliim; Tamhid fii 'Ilmit Tajwid, karya Imam Ibnul Jauziy.
c. Tingkat Ketiga
-) Ahkam Qiro'ah Qur'an, karya Syaikh Mahmud Kholil Al Hashriy.

Bagian Kedua: Nahwu
a. Tingkat Pertama
-) Aj Jurumiyyah disertai dengan Syarh-nya 'Tuhfatus Saniyyah', karya Syaikh Muhammad Abdul Hamiid.
-) Milhatul I'rob, karya Al Haririy disertai dengan syarh-nya.
b. Tingkat Kedua
-) Al Wajiz fii Nahwi,karya As Siroj.
-) Qothrun Nada, karya Ibn Hisyam disertai syarh-nya dengan tahqiq Syaikh Muhammad Abdul Hamiid.
-) Nahwu Wadlih, karya Doktor 'Ali Al Jaaron.
c. Tingkat Ketiga
-) Tadzkiroh fii Qowa'idil Lughoh Arobiyyah, karya Muhammad Kholil Ba Sya.
-) Alfiyah Ibn Malik disertai dengan Syarh-nya karya Ibn 'Aqil.
d. Tingkat Keempat
-) Jaami' Durus Al Arobiyyah, karya Musthofa Al Gholainiy.
-) Audlih Al Masalik, karya Ibn Hisyam disertai dengan Syarh-nya 'Dliya'us Salik.
-) Syarh Alfiyah Ibn Malik.

Demikianlah yang dapat kami kumpulkan dan susun tentang program belajar bagi penuntut ilmu. Kami memohon kepada Allah agar menjadikannya bermanfaat bagi kaum muslimin.

Dan kami memohon kepada orang-orang yang mengambil manfaat dari program ini agar mendo'akan kami, serta kedua orang tuan kami. Semoga Allah Ta'ala membalasnya dengan balasan yang baik.

Wa akhiru da'wana 'anil hamdu lillahi Robbil 'alamiin. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman.

Kuwait, 09 Romadlon 1429 bertepatan dengan 09 September 2008
Akhukum fillah,
Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan

Sumber rujukan:
برنامج علمي مقترح لمن سمت همته لطلب العلم

Catatan: Apabila ditemui kesalahan pencantuman nama kitab serta nama pengarang dalam tulisan ini, Anda dapat melayangkan email ke: ibnsarijan {at} gmail {dot} com. Jazakumullah khoiron katsiro.

0 Adab-adab Berkendaraan

ADAB-ADAB BERKENDARAAN
Oleh Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 59

Melihat perkembangan zaman yang sangat pesat, maka nikmat Allah yang diberikan kepada manusia begitu banyak sehingga mereka pun bisa membuat berbagai macam dan ragam kendaraan. Dahulu mereka cuma mengendarai binatang-binatang berupa keledai, kuda, dan lainnya. Kemudian mereka wujudkan semua itu dalam bentuk kendaraan yang lebih bagus, lebih kuat, lebih indah dan lebih cepat dengan adanya sepeda, motor, mobil, pesawat, dan lainnya. Allah -Ta’ala- berfirman:
"Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya". (QS. An-Nahl: 8).

Dengan adanya berbagai macam nikmat tersebut, hendaklah kita -sebagai orang-orang yang beriman-, senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Bukan hanya mengingat bagaimana nikmatnya naik kendaraan, cepatnya sampai ke tujuan, dan bukan pula karena bagusnya kendaraan tersebut. Bahkan seyogyanya kita mengingat dan mensyukuri nikmat tersebut.

Oleh karena itu, perlu kita ingat bahwa dalam berkendaraan pun terdapat adab-adab. Nah, sebagai bukti kesyukuran kita terhadap nikmat-nikmat itu, maka kita dituntut untuk mengamalkan beberapa adab-adab yang syar’i ketika berkendaraan:

* Mengingat Allah dan Berdo’a Saat Berkendaraan

Seorang dianjurkan ketika awal memulai perjalanan agar membaca do’a naik kendaraan yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada ummatnya. Hikmahnya agar kita selalu mengingat Allah yang telah menganugrahkan dan menundukkan bagi kita kendaraan tersebut. Adapun lafazh do’a naik kendaraan, berikut nashnya:

Ali bin Robi’ah berkata, Aku menyaksikan Ali -radhiyallahu ‘anhu- ; didatangkan suatu kendaraan (kepadanya) agar ia mengendarainya. Tatkala ia menginjakkan kakinya pada kendaraan, ia berkata, "Bismillah". Tatkala beliau berada di atas punggungnya, beliau berkata, "Alhamdulillah". Kemudia beliau berdo’a,

“Subhaanalladzi sakhkharo lanaa haadza wamaa kunna lahu muqriniin”

Kemudian beliau mengucapkan, "Alhamdulillah" sebanyak tiga kali ; lalu mengucapkan,"Allahuakbar" sebanyak tiga kali. Lalu berdo’a,

سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فاَغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Lalu Ali bin Abi Tholib tertawa. Beliau ditanya, "Kenapa Anda tertawa?" Beliau menjawab, "Aku telah melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melakukan apa yang aku lakukan, lalu beliau tertawa…". [HR. Abu Dawud (2602), At-Tirmidziy (3446), dan An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (8799, 8800, & 10336). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Mukhtashor Asy-Syama’il Al-Muhammadiyyah (198)]

* Tidak Melanggar Peraturan ketika Berkendaraan

Wajib bagi kita untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku ketika berkendaraan, seperti memakai helm pada tempat-tempat yang diwajibkan memakai helm, mempunyai surat-surat yang diperlukan ketika berkendaraan (SIM & STNK), berhenti ketika melihat lampu merah, dan lain-lain. Semua hal tersebut adalah kewajiban kita sebagai pengendara dan sebagai bentuk ketaatan kepada penguasa. Dalilnya adalah firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu". (QS. An-Nisaa’: 56).

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

"Wajib Bagi seorang muslim untuk mendengar dan mentaati (penguasa) dalam perkara yang ia cintai dan ia benci selama ia tidak diperintahkan (melakukan) suatu maksiat. Jika ia diperintahkan bermaksiat, maka tak boleh mendengar dan taat (kepada penguasa)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Ahkam (4/no. 6725) & Kitab Al-Jihad (107/no. 2796), Muslim (1839)]

Al-Imam Abul ‘Ula Al-Mubarokfuriy-rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa jika penguasa memerintahkan perkara yang mandub (sunnah), dan mubah (boleh), maka wajib (ditaati). Al-Muthohhar berkata, "Maksudnya, mendengarkan dan mentaati ucapan penguasa adalah perkara wajib atas setiap muslim, sama saja apakah penguasa memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya ataukah tidak. Tapi dengan syarat penguasa tidak memerintahkannya untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak boleh taat kepadanya (saat itu, –pent). Namun tak boleh baginya memerangi penguasa". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (5/298)]

Jika penguasa memerintahkan pakai helm atau SIM dan STNK, maka wajib bagi seorang muslim untuk mentaatinya, walaupun memakai helm, membuat SIM, dan STNK pada asalnya adalah mubah. Namun ketika penguasa memerintahkannya, maka hukumnya berubah menjadi wajib. Jadi, memakai helm, atau SIM dan STNK saat berkendaraan adalah perkara yang wajib.

Seorang ulama kota Madinah dan mantan Rektor Islamic University of Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -hafizhahullah- dalam suatu majelisnya pernah menjelaskan bahwa mentaati lampu merah dan rambu-rambu yang dibuat oleh pemerintah di jalan-jalan adalah wajib, sekalipun hukum asalnya adalah mubah. Tapi hukumnya berubah karena ada perintah dari penguasa. Sedang jika penguasa memerintahkan sesuatu yang mubah atau sunnah, maka hukum perkara itu jadi wajib berdasarkan ayat dan hadits di atas !!

* Tidak Ugal-ugalan di Jalan Raya

Seseorang hendaklah memperhatikan keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain ketika berkendara. Jangan sampai kita menjadi sebab tertumpahnya darah seseorang serta rusaknya harta saudara kita. Padahal Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ دِمَاؤَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ

"Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram (mulia) atas kalian seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1218)]

Jadi, darah dan harta seorang muslim adalah haram kita ganggu, apalagi ditumpahkan dan dirusak, karena harta dan darah seorang muslim memiliki kemuliaan di sisi Allah.

Ada kebiasaan buruk menimpa sebagian tempat di Indonesia Raya, adanya sebagian pemuda yang ugal-ugalan memamerkan "kelincahan" (baca: kenakalan) mereka dalam mengendarai motor atau mobil di jalan raya. Ulah ugal-ugalan seperti ini bisa mengganggu, dan membuat takut bagi kaum muslimin yang berseliweran, dan berada dekat dengan TKP (tempat kejadian peristiwa). Bahkan terkadang mereka menabrak sebagian orang sehingga orang-orang merasa kaget dan takut lewat, karena mendengar suara dentuman knalpot mereka yang dirancang bagaikan suara meriam. Padahal di dalam Islam, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang kita mengagetkan seorang muslim.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika menegur sebagian sahabat yang menyembunyikan tongkat saudaranya sehingga ia panik,
لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

"Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat takut seorang muslim". [HR. Abu Dawud (5004). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Maram (447)]

Kagetnya sahabat yang tertidur ini akibat ulah temannya, jika dibanding dengan kaget, dan takutnya kaum muslimin yang lewat atau berada di lokasi balapan, maka kita bisa pastikan bahwa balapan liar seperti ini, hukumnya haram. Apalagi pemerintah sendiri melarang hal tersebut, karena menelurkan bahaya bagi diri mereka, dan masyarakat !!

* Merawat Kendaraan dan tidak Membebani Melebihi Kapasitasnya

Kendaraan adalah nikmat dari Allah, maka hendaklah kita merawatnya dengan baik dan bukan sekedar hanya memakainya sesuka hati. Sebagaimana binatang ternak yang kita miliki, kita tak boleh membebaninya lebih dari kemampuannya. Diantara wujud kesyukuran kita kepada Allah, kita harus menyayangi kendaraan –apakah berupa hewan atau bukan-, dan tidak membebaninya lebih kemampuannya.

Seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Ja’far -radhiyallahu ‘anhu- pernah berkata, "Beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

أَفَلَا تَتَّقِي اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَّكَ اللهُ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ شَكَى إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيْعُهُ وَتُدْئِبُهُ

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (342),dan Abu Dawud dalam As-Sunan ( 2549 ).

Jadi, seorang muslim tidak boleh membebani kendaraan lebih dari kemampuannya, sehingga ia letih atau rusak. Kita juga harus memperhatikan bensinnya, dan olie-nya sebagaimana halnya jika kendaraan berupa hewan, maka kita harus memperhatikan makanan, dan perawatannya. Kendaraan yang kita miliki harus kita rawat dengan baik; jangan dibiarkan terparkir di bawah terik matahari, tapi carilah naungan baginya. Jangan kalian bebani melebihi kapasitas kemampuan yang telah ditetapkan baginya.

* Memperlambat Laju Kendaraan ketika Berjalan di Jalan yang Sempit (Lorong) dan Mempercepat ketika Berjalan di Jalan yang Lapang

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika menegur seorang sahabat yang cepat dan tergesa-gesa dalam menuntun perjalanan para wanita yang menyertai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berhaji,

وَيْحَكَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدَكَ سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيْرِ

"Wahai Anjasyah, celaka engkau ! Pelanlah engkau dalam menuntun para wanita". [HR. Al-Bukhoriy (6149, 6161, 6202, & 6209), dan Muslim (2323)]

Al-Imam An-Nawawiy-rahimahullah- berkata saat menyebutkan penafsiran ulama tentang makna hadits ini, "Sesungguhnya yang dimaksudkan hadits ini adalah pelan dalam berjalan, karena jika onta mendengar al-hida’ (nyanyian hewan), maka ia akan cepat dalam berjalan; onta akan merasa senang, dan membuat penumpangnya kaget, dan penat. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarangnya dari hal itu (al-hida’), karena para wanita akan lemah saat kerasnya gerakan, dan beliau khawatir tersakitinya para wanita dan jatuhnya mereka". [Lihat Syarh Shohih Muslim (15/81)]

Maka sepantasnya ketika berkendaraan, kita tenang dan tidak terburu-buru, karena terburu-buru itu datangnya dari setan. Boleh mempercepat kendaraan jika tidak melampaui batas sehingga ia dianggap terburu-buru, jika ada kemaslahatan, dan tidak menimbulkan kerugian dan bahaya.

* Memberi Hak kepada Jalanan

Jalanan juga mempunyai hak-hak untuk kita penuhi. Karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berwasiat kepada para sahabatnya ketika seseorang duduk di pinggir jalan, "Waspadalah kalian ketika duduk di jalan-jalan". Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami harus berbicara di jalan-jalan. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Jika kalian enggan, kecuali harus duduk, maka berikanlah haknya jalan". Mereka bertanya, "Apa haknya jalan?" Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

"(Haknya jalan adalah) menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah yang mugkar". [HR. Al-Bukhoriy (6229), dan Muslim (2121)]

Jadi, haknya jalanan ada 5: menundukkan pandangan dari melihat perkara haram (seperti melihat kecantikan wanita yang bukan mahram), menghilangkan gangguan apa saja (misalnya, tidak buang sampah & kotoran di jalan, tidak menggoda wanita, tidak menyakiti orang lain, dan lainnya); demikian pula menjawab salam orang yang mengucapkan salam kepada kita dari kalangan kaum muslimin; memerintahkan yang ma’ruf (misalnya, mengingatkan waktu sholat, mengajak bersedekah, dan lainnya); mencegah yang mungkar (misalnya, melarang para pemuda balapan liar, melarang orang bermaksiat di jalan, dan lainnya)

Sumber :
http://almakassari.com/?p=258

0 Program Belajar Bagi Penuntut Ilmu (Bag. 2)

PROGRAM BELAJAR BAGI PENUNTUT ILMU
Oleh: Abu Muhammad Abdur Rahman Sarijan
( Bagian kedua)

2. Hari Ahad (Tafsir dan Ilmu Ushul Tafsir)
a. Tingkat Pertama
-) Tafsir Al Masiir atau Mukhtashor Tafsir Al Baghawi karya Doktor Abdullah Al Zaid.
-) Tafsir As Sa'di karya Syaikh Abdurrahman As Sa'di
b. Tingkat Kedua
-) Taisir 'Aliyul Qodir Li Ikhtishor Tafsir ibn Katsir karya Syaikh Muhammad Nasibur Rifa'iy
c. Tingkat Ketiga
-) Tafsir Al Baghawiy atau Mukhtashor Tafsir Ath Thabariy
-) Ushul At Tafsir karya Al Alamah Abdurrahman bin Qosim atau kitab Muqodimah fii Ushulit Tafsir karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dengan Syarh-nya karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.
-) Qowa'idul Hisan fii Tafsir Ayatil Qur'an karya Syaikh Abdurrahman As Sa'di.
d. Tingkat Keempat
-) Ahkamul Qur'an katya Al Qurthubiy
-) Qowa'idul Tafsir Jama'an wa Darosah karya Doktor Kholid bin 'Utsman Al Sabt.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:

a. Tafsir Ibn Katsir dengan Tahqiq Saamiy As Salamah atau Ibrohim Al Banna; Tafsir Adwa'ul Bayaan karya Muhammad Al Amiin As Syinqithiy; Fathul Qodir karya As Syaukani; Jami'ul Bayaan fii Ta'wil Ayatil Qur'an karya Ath Thabariy; Badai'ut Tafsir karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah; Zadul Masiir fii 'ilmit Tafsir karya Ibnul Jauziy; Dar Al Mantsur karya As Suyuthiy; Ruh Al Ma'aniy karya Al Alusiy.
b. Kitab-kitab Ahkamul Qur'an, misal: Ahkamul Qur'an karya Ibn Al Arobiy; Nailul Marom min Tafsir Ayatil Ahkam karya Sidiq Hasan Khan.
c. Al Burhan fii 'Ulumil Qur'an karya Imam Az Zarkasyiy tahqiq Abu Fadl Ibrohim; Al Itqon fii 'Ulumil Qur'an karya As Suyuthiy; Tahbiir At Taisir fiil Qiroatil 'Asyr karya Ibnul Juaziy; Al Qiroat wa Atsaruha fit Tafsir wal Ahkam karya Doktor Muhammad Bazemol.
d. Kitab-kitab Nawasikhul Qur'an, misal: Nasikh wa Mansukh karya Abu Ja'far An Nahas; Nawasikh Al Qur'an karya Ibn Al Jauziy.
e. Asbabul Nuzul Qur'an, misal: Asbabul Nuzul Qur'an karya Al Wahidiy; Al 'Ujab fii Bayaanil Asbaab karya Al Hafidz Ibn Hajar Al Asqolaniy; Lubab Nuqul fii Bayaanil Asbaab An Nuzul karya As Suyuthiy; Al Isti'aab fii Bayaanil Asbaab karya Syaikh Salim Al Hilaliy dan Syaikh Muhammad Musa Nashr.
f. At Tibyaan fii Aqsamil Qur'an karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah; Fadloil Qur'an karya Abu 'Ubaid; Fadloil Qur'an karya Ibn Katsir; Al Amtsal fil Qur'an karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah; Mufrodat Alfad Al Qur'an karya Ar Roghib Al Ashfahaniy; I'robul Qur'an karya Ibn An Nahas; At Tibyaan fii I'robil Qur'an.

3. Hari Senin (Fiqih, Ushul Fiqih dan Kaidah-kaidahnya).
Bagian Pertama: Fiqh
a. Tingkat Pertama
-) Mukhtashor Fiqh Islamiy karya Muhammad bin Ibrohim At Tuwaijiri; Minhajus Saalikin karya Syaikh Abdurrahman As Sa'diy.
b. Tingkat Kedua
-) Al Lubab fii Fiqhis Sunnah wal Kitaab karya Subhiy Halaq atau kitab Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaab Al Aziiz karya Abdul Azhim Badawiy.
-) Taisir 'Alam Syarh 'Umdatul Ahkam karya Syaikh Abdullah Al Bassam; Mulakhos Fiqh karya Syaikh Sholih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan.
-) Al Ijma' karya Ibn Mandzur.
c. Tingkat Ketiga
-) Tawadlih Ahkam Syarh Bulughul Marom karya Syaikh Abdullah Al Basaam; Subulus Salam karya As Shona'aniy.
-) Ar Raudloh Nadiyyah Syarh Durar Al Bahiyyah karya Al 'Alamah Sidiq Hasan Khan dengan tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
d. Tingkat Keempat
-) Nailul Author karya Asy Syaukaniy
-) Raudlo Marobbi' Syarh Zaad Mustaqni' dengan catatan Syaikh Ibn Qosim.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:

a. Fiqih Hanbaliy
-) Al Mughniy karya Ibnu Qudamah; Syarh Al Kabiir karya Abdurrahman bin Qudamah; Al Inshof karya Al Murdawiy.
b. Fiqih Asy Syafi'i
-) Al 'Umm karya Imam Asy Syafi'iy; Al Majmu' karya Imam An Nawawiy; Raudloh At Tholibin karya Imam An Nawawiy.
c. Fiqih Malikiy
-) At Tamhid Syarh Al Muwatho' karya Ibn Abdul Baar; Bidayah Al Mujtahid karya Ibn Rusyd; Al Istidzkaar karya Ibn Abdul Baar; Al Muntaqo karya Al Bajiy.
d. Fiqih Hanafiy
-) Syarh Ma'aniy Al Atsar karya At Thohawiy; Syarh Fathul Qodir karya Ibnul Hammam dengan catatan Ibn 'Aabidin.
e. Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq disertai dengan Tamamul Minnah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani; Al Muhalla karya Ibn Hazm; Sunanul Kubro karya Al Baihaqiy; Fathul Syarh Shahih Bukhori karya Ibn Hajar Al Asqolaniy.
f. Majmu' Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (Kitab Fiqh); Fatawa Lajnah Daimah; Fatawa Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin.

Bagian Kedua: Ushul Fiqh
a. Tingkat Pertama
-) At Ta'liqot Matinah 'ala Risalah As Sa'diyyah Lathifah karya Naadir At Ta'miriy.
-) Al Wadlih fii Ushulil Fiqh karya Muhammad Asyqor.
b. Tingkat Kedua
-) Syarh Al Waroqot karya Syaikh Doktor Abdullah Al Fauzan
-) Ushul Min 'Ilmil Ushul karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin disertai dengan syarh beliau rahimahullah.
-) Al Qowa'il Wal Ushul Al Jaami'ah karya Syaikh Abdurrahman As Sa'diy
c. Tingkat Ketiga
-) Ma'aalim Ushul Fiqh 'inda Ahl Sunnah wal Jama'ah karya Muhammad Al Jaizaniy.
d. Tingkat Keempat
-) Mudzakiroh fii Ushul Fiqh karya Imam Asy Syinqithiy; Raudlo Nazhir karya Imam Ibn Qudamah; Al Qowa'id Al Fiqhiyah karya Syaikh Sholih As Sadlan.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:

a. Al Faqih wal Mutafaqih karya Khothib Al Baghdadiy; Jaami' Bayaan Al 'Ilm karya Ibn Abdul Baar
b. I'lam Al Muwaqi'in karya Ibnul Qoyyim tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman; Al Ihkam karya Ibn Hazm tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman; Irsyad Al Fuhul karya As Syaukaniy; Natsul Wurud Syarh Maroqis Su'ud karya As Syinqithiy; Syarh Al Kawakibul Muniir karya Ibn An Najaar; Bahrul Muhith fii Ushulil Fiqh karya Al Zarkasyiy.
c. Ihkamul Ahkam karya Amidiy.
d. Al Qowa'id Nuwaroniyyah Fiqhiyyah karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah; Al Muwafaqoot fii Ushulil Fiqh karya Asy Syathibiy; Qowa'idul Ahkam karya Al Izz bin Abdis Salam; Al Qowa'id karya Ibn Rajab tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.

Bersambung, insyaAllah.

Sumber rujukan:
برنامج علمي مقترح لمن سمت همته لطلب العلم

0 Program Belajar Bagi Penuntut Ilmu (Bag. 1)

PROGRAM BELAJAR BAGI PENUNTUT ILMU
Oleh: Abu Muhammad Abdur Rahman Sarijan
( Bagian Pertama )

Keutamaan Belajar Mengajar
Sungguh banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan akan keutamaan belajar mengajar baik dari Al Qur'an maupun As Sunnah. Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya Miftah Darus Sa'adah menerangkan ada 135 dalil yang menunjukkan keutamaan belajar mengajar, berikut kami sebutkan beberapa diantaranya:

1. Allah Azza wa Jalla menshifatkan diri-Nya dengan 'ilm. Dialah yang mengilmui perkara-perkara ghaib. Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu" (QS. Al Anfal: 85).

Dia Azza wa Jalla mengetahui setiap menit dari segala sesuatu, firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat, dan Dia yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorangpun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan meninggal. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal" (QS. Luqman: 35).

Dan ilmu Allah tidaklah sama dengan ilmu setiap makhluk-Nya.

2. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyaksikan akan kemulian ulama (orang yang berilmu, pent) demikian juga para malaikat. Allah Azza wa Jalla berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Allah menyatakan bahwa tidak ada Ilah selain Dia (demikian juga) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Ilah kecuali Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS. Ali Imron: 18).

3. Ulama adalah pewaris para nabi
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
العلماء ورثة الأنبياء
"Ulama adalah pewaris para nabi" (HR. Ahmad; Ad Darimi; At Tirmidzi; Abu Dawud; Ibn Majah; Ibn Hibban dalam Shahih-nya serta selain mereka. Lihat Shahih At Targhib no. 70).

4. Sesungguhnya ilmu adalah jalan (wasilah,pent) dari rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama (orang yang berilmu, pent)" (QS. Al Fathir: 28).

5. Menuntut ilmu adalah alamat (tanda) kebaikan.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من يرد الله خيرا يفقهه في الدين
"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka Allah akan faqihkan dia dalam ilmu agama" (HR. Bukhori; Muslim).

6. Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda (artinya):"Barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan bagi dia jalan menuju Surga" (HR. Muslim).

7. Sesungguhnya ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat baginya setelah ia meninggal.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إذ مات ابن آدم انتطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينفع به أو ولد صالح يدعو به
"Apabila meninggal bani Adam, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: Shodaqoh jariyyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo'akannya" (HR. Bukhori; Muslim).

Dari hal-hal tersebut di atas, maka berikut kami hadirkan kehadapan Anda PROGRAM BELAJAR BAGI PARA PENUNTUT ILMU yang didalamnya kami terangkan tentang program harian dan mingguan disertai dengan judul-judul buku yang hendaknya dipelajari oleh para penuntut ilmu. Semoga amalan ini ikhlash karena Allah semata dan menjadikannya suatu amal yang memberatkan amalan sholih. Sesungguhnya Allah Maha Mengabulkan do'a para hamba-Nya.

a. Program Harian
1. Membaca juz (bagian) Al Qur'an secara berkesinambungan.
2. Menghafal 5 (lima) baris –paling sedikit- dari Al Qur'an setiap hari.
3. Membaca 5 (lima) halaman –paling sedikit- kitab Lu'lu Wal Marjan karya Muhammad Abdul Baqi secara berkesinambungan.
b. Program Mingguan
1. Hari Sabtu (Tauhid)
a. Tingkat Pemula
-) Al Ushul Tsalatsa, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
-) Qowa'idul Arba'ah, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
-) Al Ushulus Sittah, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
-) Ushulul Iman, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin atau karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
Catatan: Apabila Anda mengalami kesulitan dalam memahami kitab Ushul Tsalatsa dan Ushul Sitta, maka hendaklah Anda baca penjelasan dari kitab tersebut. Syarh Ushul Tsalatsa oleh Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin dan Syarh Ushul Sittah oleh Syaikh Ubaid Al Jabiri.
b. Tingkat Kedua
-) Kitab Tauhid, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab disertai dengan Hasyiyahnya (Al Qaulus Sadid) karya Syaikh Abdurrahman As Sa'di.
-) 200 Soal dan Jawab dalam masalah aqidah, karya Al Hafidz Al Hakimiy.
-) Kasyfu Syubhat, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab disertai syarh-nya karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin.
c. Tingkat Ketiga
-) Aqidah Wasithiyah, karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah disertai syarh-nya, misal Syarh Aqidah Wasithiyah karya Syaikh Sholih Fauzan; Syarh Aqidah Wasithiyah karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin; Syarh Aqidah Wasithiyah karya Kholil Hars; Al Khawasyiful Jaliyyah 'an Ma'aniy Al Wasithiya karya Syaikh Abdul Aziz Sulthon.
-) I'anah Al Mustafid Bisyarhi Kitab Tauhid, karya Syaikh Sholih Fauzan Al Fauzan atau kitab Qulul Mufid Syarh Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin atau kitab Fathul Majid karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaikh dengan tahqiq Syaikh Usamah Al Utaibiy. Kitab Al Jadid Syarh Kitabut Tauhid karya Syaikh Abdullah Al Qor'awiy.
-) Mukhtasor (ringkasan) kitab Al I'tishom karya As Syathibi. Diringkas oleh 'Alwiy Saqof.
d. Tingkat Keempat
-) Aqidah Thohawiyyah, karya Abu Ja'far Ath Thohawiy disertai dengan syarh-nya, misal: Syarh Aqidah Thohawiyyah karya Syaikh Al Albani; Syarh Aqidah Thohawiyyah karya Syaikh Sholih Fauzan; Syarh Aqidah Thohwiyyah karya Syaikh Ali bin Abil Izz Ad Damsiqiy dengan Tahqiq Doktor Abdullah At Turkiy dan Al Arna'ut.
-) Taisir Aziz Al Hamid Syarh Kitabut Tauhid, karya Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh dengan tahqiq Syaikh Usamah Al Utaibiy.
-) Al Ibda' fii Kamali Syar', karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin.
-) 'Ilmu Ushul Al Bida', karya Syaikh 'Ali Al Halabiy.

Untuk menambah kemanfaatan dari kitab-kitab di atas, maka hendaknya kita menelaah juga kitab-kitab sbb:
a. Menelaah kitab-kitab ringkas dengan pembahasan masalah aqidah, misal: Ad Tadmuriyyah karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dengan syarh-nya; At Thfatul Mahdiyyah karya Syaikh Falih bin Mahdiy; Fatawa Hamawiyyah Al Kubro karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah tahqiq At Tuwaijiriy; Qowa'idul Mutsla karya Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin; At Tawasul Anwa'uh wa Ahkamuh karya Syaikh Al Albani; Qo'idah Jaliyah fii Tawasul wal Wasilah karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah tahqiq Syaikh Robi' Al Madkholiy; Ghuluw Fit Takfir karya Syaikh Usamah Al Utaibiy.
b. Menelaah juz pertama dari kitab Majmu' Fatawa karya Syaihul Islam Ibn Taimiyah. Menelaah kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, misal: Al Istiqomah; Minhajus Sunnah An Nabawiyyah; Bayaan Talbis Al Jahmiyyah dll).
c. Menelaah kitab-kitab karya Syaikh Ibn Qoyyim Al Jauziyyah, misal: Syifa'ul 'Alil; Ijtima' Al Juyusy; Ash Showa'iqul Mursalah; Daa' wad Dawa' tahqiq Syaikh 'Ali Al Halabiy; Al Fawaid dll).
d. Menelaah kitab-kitab As-sunnah karya para imam Salaf, misal: As Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal; Kitab As Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal; Syarhus Sunnah karya Al Barbahari; Syarh Ushul I'tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama'ah karya Al Lalaka'I; Kitab Asy Syari'ah karya Al Ajuri; Al Ibanah kubro karya Imam Ibn Bathah; Radd 'alal Jahmiyyah dan Radd 'ala Basyar Al Marisiy karya Imam Utsman Ad Darimi; Radd 'ala man Ankar Al Huruf was Shout karya Imam Abi Nashr As Sazajiy; Kholq Af'al Al 'Ibaad karya Imam Al Bukhori; As Sunnah karya Ibn Abi 'Ashim; Al 'Uluw karya Adz Dzahabiy dengan ringkasannya karya Syaikh Al Albani.
e. Menelaah kitab-kitab sbb: Kumpulan karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab; Ad Durar fii fatawa Najdiyyah; Majmu'ah Rasail wal Masail An Najdiyyah; Fatawa Lajnah Daimah bagian Aqidah; Majmu' Fatawa karya Ibn Baaz bagian Aqidah; Ma'arijul Qobul Syaikh Hafidz Al Hakimiy.
f. Kitab Al I'tishom karya Asy Syathibih dengan tahqia Masyhur Hasan Salman.
g. Al Ibda' fii Mudhor Al Ibtida' karya Syaikh 'Ali Mahfud.
h. Shuluddin 'inda Abi Hanifah karya Syaikh Muhammad Al Khumais; Manhaj Imam Asy Syafi'I fii Itsbat Al Aqidah karya Syaikh Muhammad Al Aqil; Manhaj Imam Malik fii Itsbat Al Aqidah karya Syaikh Su'ud Ad Da'jan; Masail Imam Ahmad fil Aqidah karya Syaikh Al Ahmadiy.

Bersambung, insyaAllah.

Sumber rujukan: برنامج علمي مقترح لمن سمت همته لطلب العلم

0 Durus Kitab عشرة النساء karya Imam An Nasa'i

DURUS KITAB
عشرة النساء

Karya Imam An Nasa'I rahimahullah
PEMATERI:
Syaikh Muhammad bin 'Utsman Al Anjeri hafizahullah
WAKTU:
Setiap hari (Setelah Sholat Tarawih)
TEMPAT:
Propinsi Bayan - Kuwait
(DEWANIYAH AL AKH ABU ABDIRRAHMAN ZAID)

Informasi WNI di Kuwait, hubungi:
Al Akh Abu Shofiyyah Rasyid (Tel: 6646806)

Sumber: http://sahab.net/forums/showthread.php?t=361118

ANDA MEMBUTUHKAN BIBIT MANGGA BERKWALITAS?

Kami Bibit Unggul Nursery menyediakan berbagai Bibit Mangga Berkwalitas, missal: Mangga Erwin/Irwin, Mangga Kiojay, Mangga Chokanam, mangga Namdokmay, Mangga Mahatir. Kami juga menyediakan Bibit Durian Monthong, Durian Bhineka Bawor, Jeruk Chokun, Jeruk Santang.

Segera Hubungi Kami di:

0852-2081-6455.

Lengkapi koleksi kebun Anda dengan Bibit Berkwalitas dari kami

Kami siap melayani pembelian(Grosir dan Eceran) bibit dari seluruh Indonesia dengan kwalitas bibit unggulan dan harga terjangkau.

Komentar Terbaru