0 Masjidil Harom; Masjid Pertama Didunia

Dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tentang masjid yang pertama kali dibangun? Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
المسجد الحرام (Masjid Al Harom)

Kemudian aku bertanya lagi: Kemudian masjid apa lagi?

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
المسجد الأقصى (Masjid Al Aqsho).

Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam: Berapa jarak antara keduanya?
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
أربعين عاما
"Empat puluh tahun" (HR. Bukhori 6/290-291; Muslim no. 520).

Penjelasan:
Sebagian orang berpendapat bahwa yang membangun Masjid Al Aqsho adalah Nabi Sulaiman bin Dawud. Sedangkan jarak antara Nabi Sulaiman dengan Nabi Ibrohim lebih dari 1000 tahun. Maka kami jawab pernyataan ini sbb:

Sebenarnya Nabi Sulaiman bukanlah orang yang mendirikan Masjid Al Aqsho, ia hanya memperbaiki Masjid Al Aqsho. Sedangkan Nabi yang mendirikan Masjid Al Aqsho adalah Nabi Ya'qub bin Ishaq setelah Nabi Ibrohim mendirikan Ka'bah.

Sumber:
Zaadul Ma'ad, 1/50. Ibn Qoyyim Al Jauziyah. Tahqiq dan Takhrij: Abdul Qodir Al Arna'ut dan Syu'aib Al Arna'ut.

0 Teror Bom; Islah Atau Ifsad?

Teror bom yang terjadi di banyak negara di dunia, demikian pula di Indo-nesia seringkali dilatar-belakangi oleh semangat para pemuda yang berke-inginan memperbaiki keadaan (islah), apakah dari segi politik, atau dari segi agama.

Alasan teror yang dilakukan para politikus dari pihak oposisi yang ingin merubah keadaan politik atau pun teror para pemuda muslim yang –katanya ingin menegakkan negara Islam—adalah sama. Semuanya menganggap perbuatan mereka adalah islah. Padahal ternyata terbukti lebih banyak merusak (ifsad) daripada memperbaiki.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam risalah khutbahnya yang berjudul at-Tafjiir wal Irhaab Islah au Ifsad? (Peledakan dan teror memper-baiki atau merusak?) menyebutkan be-berapa kerusakan yang ditimbulkan oleh praktek teror tersebut. Beliau رحمه الله berka-ta: "Tidak ragu lagi bahwa praktek teror merupakan perbuatan jelek yang menimbulkan berbagai kerusakan yang banyak, di antaranya:
1. Perbuatan tersebut merupakan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Melanggar larangan Allah dan ter-ancam laknat dari Allah, para malaikat-Nya dan manusia seluruhnya. Dan tidak diterima daripadanya maaf atau tebusan (Lihat kembali dalil-dalilnya pada edisi lalu --pent.)

2. Termasuk kerusakan yang ditim-bulkan praktek teror adalah menjatuhkan nama baik Islam. Karena sesungguhnya musuh-musuh Islam selalu mengambil kesempatan tersebut untuk menjelekkan nama Islam dan menjauhkan manusia dari agama Islam ini. Padahal Islam ber-lepas diri dari perbuatan-perbuatan se-perti itu. Ajaran Islam adalah ajaran kejujuran, kebaikan, dan menepati janji. Bahkan agama Islam melarang dan mem-peringatkan dari perbuatan yang seperti ini dengan sekeras-keras larangan.

3. Di antara kerusakan yang ditim-bulkan praktek teror tersebut adalah tu-duhan dan tudingan semua jari dari dalam dan luar negeri menunjuk kepada orang-orang yang multazim (yang taat pada agamanya) dan mengatakan: "Ini perbuatan kalian". Padahal kita tahu de-ngan sangat yakin, kalau seseorang ber-pegang dengan syariat Islam yang benar dengan sungguh-sungguh, tentu tidak akan menerima perbuatan tersebut dan tidak akan meridlainya selama-lamanya. Bahkan mereka akan berlepas diri dari-padanya, mengingkarinya dengan seke-ras-keras pengingkaran. Karena seorang yang multazim dengan agama Allah de-ngan sebenar-benarnya adalah orang yang menegakkan agama Allah ini sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Bukan dengan selera hawa nafsu pribadinya atau membangun perasaannya di atas emosi dan kemarahan serta jalan yang menyimpang. Inilah yang dimaksud de-ngan militansi (iltizam) yang sesungguh-nya dan sesuai dengan syariat Islam yang banyak dipegang oleh para pemuda-pemuda kita (ahlus sunnah –pent.).

4. Termasuk kerusakan yang ditim-bulkan praktek teror adalah kebanyakan orang-orang awam dan orang-orang bo-doh yang tidak mengerti hakekat iltizam dengan agama Allah akan memandang para multazimin --yang mengingkari te-ror mereka-- dengan pandangan sinis dan permusuhan serta menjauhkan dan memperingatkan manusia dari mereka.
Sebagaimana apa yang kami dengar dari kalangan orang awam dan bodoh yang menjauhkan anak-anak mereka un-tuk jangan menjadi orang-orang yang multazim. Apalagi setelah mereka meli-hat hukuman yang diterapkan kepada para pelaku pemboman di Riyadl.

Sesungguhnya aku, wahai saudara-saudaraku, terheran-heran --dalam kea-daan seperti ini-- melihat orang-orang yang mengucapkan dengan mulut-mulut mereka ucapan yang jelek terhadap hu-kum yang diterapkan, padahal hukum tersebut bersumber dari dasar yang pa-ling kuat dan diputuskan oleh sejumlah para hakim di pengadilan syar'i yang terpercaya menjaga darah manusia, harta dan kehormatan mereka. Bahkan didu-kung dengan kesepakatan badan peneliti, didukung pula oleh majlis tertinggi dari kehakiman. Kemudian diterapkan oleh pemerintah negeri ini.

Apakah setelah ini pantas bagi se-orang muslim yang beriman kepada Allah dan ayat-ayat-Nya mengucapkan dengan lidahnya cercaan terhadap hukum? Dan mereka mengucapkan kalimat yang lebih dekat kepada dosa daripada keselamat-an?

Jika seseorang berani berbicara ter-hadap hukum yang diputuskan dengan sekuat-kuat cara pengambilan hukum, kemudian berani mengatakan seperti itu, maka tentunya lebih memungkinkan lagi baginya untuk mencerca hukum-hukum lain yang di bawahnya. Telah sama-sama diketahui bahwa negeri kita (saudi Arabia –pent.) –alhamdulillah—adalah sekuat-kuat negeri di dunia ini sekarang yang menerapkan hukum yang diturunkan oleh Allah azza wa jalla dan dipersak-sikan oleh kalangan atas maupun ka-langan bawah.

Aku yakin kalau saja salah seorang keluarga mereka ikut menjadi korban da-lam peristiwa ledakan tersebut, niscaya ia tidak akan mengucapkan kalimat-kalimat sinis terhadap hukum tersebut.

Kalaupun kita terima pendapat me-reka bahwa keputusan hakim itu keliru –misalnya--, maka kesalahan hakim ter-sebut terampuni, bahkan mendapatkan satu pahala. Sebagaimana dalam riwayat yang shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa jika seorang hakim berijti-had kemudian salah, maka ia mendapatkan satu pahala.

Sedangkan hukum tersebut diputus-kan sebagai balasan yang setimpal bagi orang yang berupaya untuk merusak dan membikin kerusakan di negeri ini. Dan yang dihukum adalah orang-orang yang memang sudah menjadi ajalnya yang telah ditaqdirkan dan mendapatkan pa-hala dari amalan-amalan baik mereka yang telah lewat (karena mereka bukan orang kafir –pent.). Tetapi tidak ragu la-gi bahwa kami percaya kepada keputusan hukum di negeri ini dari penguasa, para hakim kami dan para pelaksananya.

Kami meminta kepada Allah سبحانه وتعالى untuk meluruskan ucapan dan amalan mereka.

5. Termasuk kerusakan yang ditim-bulkan dari perbuatan jelek mereka
–yang saya maksud pemboman di Kha-bar-- adalah menyebabkan terjadinya ke-kacauan di negeri ini. Padahal semesti-nya negeri ini merupakan negeri yang paling aman dan paling tentram di dunia, karena menaungi Baitullah yang Allah jadikan sebagai tempat berkumpul yang aman bagi manusia. Dan karena di da-lamnya terdapat Ka'bah (Baitul Haram) yang Allah jadikan sebagai pusat periba-datan bagi manusia dan pusat seluruh urusan maslahat agama dan dunia mere-ka.

Allah berfirman:
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman… (al-Baqarah: 125)

جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ
Allah telah menjadikan Ka`bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia… (al-Maaidah: 97)

Telah sama-sama diketahui bahwa manusia tidak akan sampai ke Baitullah tersebut kecuali harus melalui salah satu bagian negeri ini.

6. Di antara kerusakan yang ditim-bulkan perbuatan nista ini adalah jatuh-nya banyak korban harta dan nyawa, dan sebagian mereka luka-luka sebagaimana disaksikan oleh seluruh manusia di me-dia-media masa. Betapa hati ini tersayat-sayat, jantung terguncang, dan air mata bercucuran ketika menyaksikan manusia dan anak-anak terbujur di ranjang-ran-jang rumah sakit. Sebagian mereka terlu-ka di matanya, telinganya, tangannya, ka-kinya atau hilang sebagian badannya da-lam keadaan mata-mata mereka berkeli-ling melihat siapa yang mengunjunginya dan tidak punya kemampuan untuk me-nolak dan mengelak dari kejadian yang tiba-tiba tersebut.

Maka adakah seseorang manusia akan ridla dengan kejadian tersebut? Apakah hati ini tidak luluh melihat kejadian yang memilukan ini? Aku tidak tahu apa yang dimaukan oleh mereka dengan perbuatan seperti ini? Apakah mereka dengan perbuatan itu meng-inginkan ISLAH?!
Islah tidak akan bisa diwujudkan dengan cara seperti itu. Sesungguhnya kejelekan tidak mungkin akan menda-tangkan kebaikan, tidak mungkin pula kejelekan menjadi sarana untuk mem-perbaiki keadaan selama-lamanya. Bagai-mana mungkin membersihkan sebuah kotoran dengan perkara yang lebih kotor daripadanya?

Kami dan selain kami dari orang-orang yang memiliki pengalaman dan kebijaksanaan, mengetahui bahwa negeri kami –alhamdulillah—sebaik-baik negeri kaum muslimin hari ini dalam berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, dalam menjauhi perkara-perkara yang jelek dan kerusakan ahlak. Tidak ada di negeri kita –alhamdulillah— kuburan yang disembah dan dijadikan tempat tha-waf. Tidak ada khamr (minuman keras) yang dijual atau diminum terang-terang-an. Tidak ada padanya apa yang banyak terjadi di negara-negara kaum muslimin hari ini. Maka apakah pantas negeri kita ini dijadikan sebagai bidikan fitnah? Maka bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang lurus dan adil. Lakukanlah perbuatan yang terpuji.
Ya Allah, kami meminta kepada-Mu di tempat kami ini dalam mengerjakan kewajiban dari kewajiban-kewajiban-Mu agar Engkau menghilangkan kerusakan dan para perusak itu. Ya Allah, musnah-kanlah kerusakan dan para perusak itu. Ya Allah jadikanlah tipu daya mereka kembali kepada mereka sendiri, jadi-kanlah rencana mereka kehancuran un-tuk mereka sendiri. Wahai rabbul 'alaamin.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu untuk melindungi negeri kami ini dari kejahatan fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Ya Allah, kami meminta kepada-Mu agar Engkau melindungi kami dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejahatan hamba-hamba-Mu dan langgengkanlah keamanan di negeri kami ini. Tambahkanlah kebaikan dan perbaikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Aquulu qauli hadza wa astaghfi-rullaha lii wa lakum wa likaaffatil mus-imin min kulli dzanbin. Fastaghfiruuhu innahu huwal ghafururrahiem.(Diterjemahkan dari leaflet yang berjudul التفجير والإرهاب إصلاح أو إفساد )

Demikian khutbah Jum'at Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin me-nanggapi kejadian teror bom di kota Riyadl dan Khabar di Saudi Arabia. Di dalamnya terdapat faedah yang sangat besar dan banyak. Karena terorisme saat ini sedang marak hampir di seluruh negeri-negeri kaum muslimin, tidak ter-kecuali negeri kita Indonesia ini.

Di antara faedah yang paling besar yang kita dapatkan adalah bahwa cara teror bukan cara dakwah yang syar'i di Saudi, Indonesia atau pun negara kaum muslimin lainnya.

Kita nasehatkan kepada seluruh ka-um muslimin Indonesia ini, khususnya para da'i, kiai di pondok-pondok pesan-tren agar mengajarkan cara dakwah yang sesuai dengan sunnah seperti yang per-nah dijalani oleh para salafus shalih. Dan menyaring ketat bacaan-bacaan mereka agar jangan terbawa pemikiran kaum reaksioner khawarij yang membangun dakwahnya di atas emosi dan dendam.

Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Sumber:
Risalah Dakwah Manjah Salaf, edisi: 90 tahun 2.

0 Hikmah Dalam Dakwah

Pada suatu hari, saat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya sedang berada di masjid, tiba-tiba datang seorang Arab Gunung (Badui) kencing pada salah satu bagian masjid. Melihat kelakuan badui ini para sahabat marah, bahkan ada sebagiannya yang hendak menarik dan menghajarnya. “Mah! Mah!”, Kata para sahabat menghardik si badui agar tidak kencing di sana, namun tidaklah de-mikian dengan Rasulullah. Beliau melarang para sahabatnya berbuat kasar kepada si Ba-dui ini. “Biarkan! Biarkan!” kata Nabi. Setelah ‘buang hajat’nya selesai, dipanggilah orang itu.

Dengan lemah lembut Nabi katakan kepadanya: “Ini adalah Masjid, bukan tempat kencing dan buang kotoran. Sesungguhnya tempat ini untuk dzikrullah, shalat dan membaca al Quran”. Nabi kemudian menyu-ruh seseorang untuk menuangkan air pada bekas kencing orang tersebut. Apa reaksi Arab Gunung menyaksikan kelembutan Nabi terhadap dirinya, berbeda dengan para sahabat yang tampak begitu geram, dia ka-gum dan berdo’a: “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati seorang pun selain kami berdua”. Dasar memang Ba-dui! Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan orang ini dengan kelembutan. “Kenapa engkau menyempitkan sesuatu yang luas? Bukankah rahmat Allah itu luas?”. Demikianlah Imam Bukhari dan Muslim menukilkan peristiwa itu dari Sahabat Anas bin Malik.

Pada peristiwa lain disebutkan dalam suatu riwayat dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami, “Aku dan para shahabat sholat bersama Rasulullah. Tiba-tiba ada seseorang dari jamaah yang bersin. Lantas kukatakan: “Yarhamukallah!” Maka kudapati semua mata mengarahkan pandangannya padaku. Kuka-takan: ”Ada apa dengan kalian ini”? Ketika mereka melihatku berbicara dalam sholat, mereka memukulkan tangannya pada paha-paha merekapun (sebagai isyarat untuk diam). Tatkala mereka tampak diam tanpa bicara, maka aku pun diam. Setelah rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam selesai sholat, maka kudapati tak ada seorang pengajarpun yang lebih baik daripada beliau. Ayah ibuku sebagai jaminan, beliau tidak menghardik, memukul atau mencelaku. Bahkan dengan sabar beliau katakan: “Kita sedang shalat, padanya tidak boleh ada perkataan manusia. Sesungguhnya dalam sholat hanyalah untuk bertasbih, bertakbir dan bacaan al-Qur’an”. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya).

Kesabaran dan kelembutan adalah salah satu dari sekian akhlaq mulia Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, bahkan terhadap mereka yang pernah menya-kiti dirinya sekalipun. Seperti terjadi pada ki-sah datangnya Malakul Jibal (malaikat pen-jaga gunung uhud) kepada beliau –sekembali beliau dari Thaif yang penduduknya menolak dakwah beliau, mencacinya bahkan menyaki-tinya. Malakul Jibal mengatakan: “Ya Rasu-lullah, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan mereka terhadapmu, dan aku adalah Malakul Jibal yang diutus Allah kepadamu untuk mentaati segala apa yang engkau perin-tahkan. Apa yang engkau kehendaki? Jika engkau mau, niscaya akan kuratakan negeri mereka dengan tanah”. Apa jawaban Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam:
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya.
Dalam riwayat lain beliau shalallahu 'alaihi wa sallam berdoa:
رَبِّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
Ya Allah berikan petunjuk kepada kaumku, karena mereka orang-orang yang tidak megerti. (HR. Bukhari Muslim)

Demikianlah apa yang kita dapati dari pribadi beliau dalam berdakwah, penuh ke-lembutan yang memang demikianlah hukum asal dalam berdakwah. Sebagaimana dikata-kan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam:
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
Tidaklah ada kelembutan pada sesuatu, kecuali ia akan mengindahkannya. Dan ti-daklah tercabut dari sesuatu, kecuali akan menjelekkannya. (HR. Muslim)

Dalam lafadz yang lain beliau shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقُ يُحْرَمُ الْخَيْرُ
Barangsiapa yang terhalang berbuat kelem-butan, maka akan terhalang dari kebaikan. (HR. Muslim)

Sikap lemah-lembut ini pula yang me-nuai pujian Allah terhadap diri beliau shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana Allah katakan dalan firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlaq mulia.(al-Qalam: 4)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ
Dikarenakan rahmat Allah-lah engkau berle-mah lembut. Sekiranya engkau berhati keras niscaya mereka akan lari dari sekitarmu. Maafkanlah mereka dan mintakan ampun untuk mereka…. (Ali Imran: 159)

Sungguhpun demikian, bukan berarti ti-dak pernah dicontohkan sikap keras dan ma-rah oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Terkadang beliau pun bersikap tegas bahkan keras.
Pada dasarnya memang begitu, seorang penyeru atau da’i bagaikan dokter mengha-dapi pasiennya. Adakalanya ia memberikan obat dengan dosis rendah. Namun jika pada saat tertentu, ia akan memberikan obat de-ngan dosis tinggi atau bahkan mengantarkan-nya ke meja operasi atau amputasi. Inilah yang dinamakan hikmah yang bermakna: te-pat dalam menempatkan sesuatu pada tem-patnya, baik dalam ucapan maupun perbu-atan. Kapan ia harus bersikap lembut dan kapan harus bersikap keras.

Terkadang, seseorang itu perlu disikapi dengan lemah lembut karena ia orang awam, belum mengerti tetang hukum dan aturan agama seperti si badui tadi , atau mungkin ba-ru memeluk agama ini seperti Mu’awiyah bin Hakam dalam kisah di atas. Adakalanya sikap tegas dan keras diperlukan untuk menasihati seseorang yang pada dasarnya memiliki ke-ikhlasan dalam beragama namun berbuat sesuatu yang tidak pantas ia kerjakan. Atau mereka yang terlelap dalam kelalaian yang dalam dirinya masih terselip kecenderungan untuk berbuat baik dan gelisah dengan kemungkaran dan kemaksiatan atau buat mereka yang hatinya tengah sakit sehingga dibutuhkan ‘shock terapi’ sebagai pelecut semangat dalam mengikuti kebenaran.
Kita perhatikan beberapa riwayat beri-kut ini yang menunjukan sikap diameteral dengan kisah-kisah tersebut di atas.

Dikisahkan dari Jabir rodhiallahu 'anhu bahwa Mu’adz bin Jabal shalat Isya bersama Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Setelah itu ia pulang ke kaumnya dan meng-imami sholat di sana. Ia pada rakaat pertama membaca surat al-Baqarah. Kemudian sese-orang keluar dari shalat tersebut dan melan-jutkan shalat sendirian. Orang-orangpun ber-kata: “Engkau munafik”? Ia menjawab: “Ti-dak! Demi Allah, aku akan adukan kepada Ra-sulullah.” Mereka datang dan mengadukan-nya kepada Nabi. Berkata si pemuda: “Ya Rasulullah, kami adalah orang yang bekerja seharian, sesungguhnya Mu’adz shalat isya bersama engkau, setelah itu ia mengimami kami dan membaca surat al-Baqarah –pada-hal kami membutuhkan waktu istirahat”. Na-bi shalallahu 'alaihi wa sallam kemudian berpaling kepada Mu’adz seraya berkata:
يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ؟ اقْرَأْ بِكَذَا وَاقْرَأْ بِكَذَا
Ya Mu’adz, apakah kamu mau jadi tukang fitnah?! (Jika engkau mengimami) bacalah ini dan itu! (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Muslim juga telah mengeluarkan dalam shahihnya, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam meli-hat seseorang mengenakan cincin dari emas di jarinya. Maka beliau shalallahu 'alaihi wa sallam mencabut dan me-lemparkannya seraya bersabda:
يَعْمَدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنَ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ
Sungguh salah seorang di antara kalian dengan sengaja melingkarkan api neraka di tangannya!
Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pergi, dikatakan pada orang tadi. “Ambil cincinmu kembali, siapa tahu ia berguna.” Maka dijawabnya: “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengambil cincin yang telah dilemparkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam selamanya”.

Dua peristiwa di atas merupakan tegur-an keras dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Apalagi bagi se-orang Mu’adz bin Jabal yang dikenal mempu-nyai banyak keutamaan dan merupakan ke-percayaan Rasulullah. Sehingga ucapan Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang keras itu demikian menghun-jam dalam sanubarinya, dan kemudian mem-bawanya pada sebuah kesadaran atas keke-liruan yang ia perbuat. Muadz, memang telah memberikan persaksian bagi kita bahwa be-liau memang ikhlas dalam beramal yang me-ngantarkannya pada posisi diridhoi Allah.

Demikian halnya laki-laki bercincin emas tadi. Teguran Nabi dibarengi dengan menarik dan membuang cincin yang dikena-kannya adalah sebuah tamparan keras akan kelalaiannya. Bukannya mereka kemudian lari dan menjauh dari kebenaran yang sampai kepadanya, yang ada justru semakin mengo-kohkan keimanannya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dengan tidak menghiraukan perhiasan yang memiliki nilai dalam pandangan manusia yang berorientasi terhadap dunia.

Ketegasan sikap Nabi ini diikuti pula oleh para sahabatnya yang mulia. Sahabat Nabi adalah model masyarakat yang paling ideal dan sempurna dalam mengaplikasikan risalah yang yang dibawa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam saat itu. Me-reka hidup bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, mereka menyak-sikan wahyu yang diturunkan sekaligus me-ngerti apa yang dimaukan Rabb-nya karena mendapat bimbingan langsung dari al-Khalil Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karenanya, kepada mere-kalah firman Allah tujukan:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ
Kalian adalah umat yang terbaik. (Ali Imran: 110)

Dengan demikian jika ingin menjadi yang ter-baik kita tinggal mengikuti dan mencontoh mereka. Dan kepada mereka pula Allah telah memberikan garansi keridhaan sebagaimana firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Orang-orang yang pertama kali masuk Is-lam dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah…(at-Taubah: 100)

Kita lihat pensikapan generasi terbaik dalam menjalankan dan menjaga kebenaran terha-dap mereka yang memang harus disikapi de-ngan tegas.

Adalah Abdullah bin Mughaffal ketika melihat seseorang melempar (musuh dengan batu dalam suatu peperangan), ia berkata:
لاَ تَخْذِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ أَوْ قَالَ يَنْهَى عَنِ الْخَذْفِ فَإِنَّهُ لاَ يُصْطَادُ بِهِ الصَّيْدُ وَلاَ يُنْكَأُ بِهِ الْعَدُوُّ وَلَكِنَّهُ يَكْسِرُ السِّنَّ وَيَفْقَأُ الْعَيْن
Jangan melempar, karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam membenci atau melarang melempar. Karena dengannya tidak dapat membinasakan mu-suh dan mengalahkannya. Ia hanya bisa me-rontokkan gigi dan membutakan mata.

Kemudian Abdullah bin Mughoffal setelah itu masih melihat orang tadi melempar. Maka ia katakan kepadanya. “Aku menyampaikan ha-dits kepadamu tentang larangan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melempar dan tidak menyukainya tapi eng-kau terus melakukan itu, Aku tidak mau berbicara denganmu selamanya!” ((HR. Bu-khari-Muslim)

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Khathab, bahwa Rasu-lullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jika perempuan-perem-puan kalian meminta izin untuk pergi ke masjid janganlah kalian melarangnya” Berka-ta Bilal bin Abdullah bin Umar bin Khattab: “Demi Allah, aku akan melarang mereka” Ber-kata (perawi): “Ibnu Umar kemudian men-celanya dengan celaan yang jelek yang tidak pernah didengarnya celaan seperti itu. Kata Ibnu Umar: “Aku kabarkan kepadamu dari Rasulullah lantas kau katakan, Demi Allah aku akan melarangnya”. Maka diriwayatkan, hingga wafatnya, Ibnu Umar tidak mau ber-bicara dengan anaknya, Bilal.

Sikap tegas sebagai bagian dari hikmah dalam mensikapi mereka yang lalai, atau me-nentang prinsip agama adalah buah dari pro-ses tarbiyyah yang dibimbing Allah dan Ra-sul-Nya. Bahkan Allah membuat celaan-celaan yang vulgar seperti, “Mereka adalah binatang ternak” saat memberi julukan ke-pada orang yang tidak menggunakan mata, telinga dan hati untuk menerima kebenaran. (Lihat surat Al-A’raaf ayat 179). Atau Allah katakan “Keledai” kepada pembawa Taurat yang tidak memahami isinya (Surat Al-Jum-’at: 5). Bahkan terhadap orang-orang kafir dan munafik Allah memerintahkan untuk bersikap keras dan melakukannya adalah Ji-had.
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. (at- Tahrim:9)

Sikap itu bukan muncul dari istiadat dan budaya yang sering disalahpahami ba-nyak orang. Sekeras apapun orangnya jika memang agama ini mengharuskan ia berlaku lembut maka ia pun lembut. Sebaliknya, tipi-kal lembut pada seseorang tidak mengha-langinya untuk berbuat tegas bahkan keras, melebihi orang yang keras sekalipun jika agama ini memerintahkannya. Kesemuanya itu muncul pada kehidupan para sahabat Na-bi, semasa hidup atau sepeninggal beliau shalallahu 'alaihi wa sallam.

Menolak bersikap tegas terhadap orang yang harus disikapi tegas sama artinya de-ngan menolak petunjuk yang datangnya dari Allah dan RasulNya serta amalan generasi terbaik umat ini. Maka para Ulam Ahlussunnah sejak zaman salaf sampai hari ini sepakat untuk bersikap keras dan tegas kepada para munafikin dan ahlul bid’ah.

Yang menyedihkan adalah ketika mereka yang menamakan diri Komu-nitas Bening Hati atau para pengusung dakwah sejuk menganggap dakwah seperti itu sebagai dakwah yang keras, pemecah-belah umat, picik, tidak mau menerima perbedaan pendapat, selalu merasa diri yang paling be-nar, tukang cela, suka mendholimi sesama muslim, akan dijauhi umat dan seabreg tu-dingan lainnya.

Jawaban yang memuaskan atas kebim-bangan dan kebingungan dari berbagai syub-hat yang menerpa umat ini di antaranya datang dari Ulama besar, Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hambal:
إِذَا سَكَتَ أَنْتَ وَسَكَتُّ أَنَا فَمَنْ يُعَرِّفُ الْجَاهِلُ الصَّحِيْحُ مِنَ السَّقِيْمِ؟
Jika engkau diam dan aku diam(tidk mau membicarakan kejelekan para rawi, pen), maka bagaimana seorang yang bodohl dapat mengetahui hadits shahih dari yang dha’if?. (lihat Irsyadul Bariyyah, hal. 103).
Abu Zaky bin Muchtar

0 Peringatan Yang Terabaikan

Peringatan sebagai rahmat
Di antara rahmat dan kasih sayang Allah terhadap umat ini Ia adalah tidak akan mengadzab umat secara merata se-kaligus. Dengan sebab barakah do’a Ra-sulullah صلى الله عليه وسلم agar tidak me-ngadzab umat ini secara merata.
وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي ِلأُمَّتِي أَنْ لاَيُهْلِكَهَا بِسِنَةٍ عَامَةٍ... (رواه مسلم في كتاب الفتن وأشراط الساعة
…Dan aku meminta kepada Rabb-ku un-tuk umatku agar Allah tidak membi-nasakan umat ini dengan paceklik yang merata…(HR. Muslim dalam kitab al-Fitan wa Asyrathu as-Sa’ah)

Umat ini mendapatkan adzab se-bagian kecil dari mereka sebagai pe-ringatan untuk yang lainnya, maka kita bersyukur pada Allah سبحانه وتعالى dengan rahmat-Nya ini dan mengambil bencana yang Allah سبحانه وتعالى timpakan pada suatu kaum sebagai pelajaran dan peringatan.

Bencana karena dosa
Bencana yang terjadi pada umat ini, apakah gempa, banjir, gunung meletus, dan lain-lain merupakan adzab bagi seba-gian mereka. Itupun masih banyak dosa-dosa yang dimaafkan.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuat-an tangan kalian sendiri. Dan Allah me-maafkan sebagian besar (dari kesa-lahan-kesalahan kalian). (asy-Syuraa: 30)

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Maka masing-masing (mereka itu) Kami adzab disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepa-danya hujan batu, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang meng-guntur, di antara mereka ada yang Ka-mi benamkan ke dalam bumi, dan di an-tara mereka ada yang Kami tenggelam-kan (dalam air), dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (al-Ankabut: 40)

Analisa yang dilakukan oleh para ilmuwan, peneliti dan profesor-profesor tidak lain hanyalah berbicara tentang se-bab-akibat, Untuk itu jangan melupakan Allah yang menakdirkannya. Apakah de-ngan ilmu yang mereka miliki bisa men-cegah terjadinya gunung meletus atau gempa bumi? Manusia hanya bisa mem-perkirakan akan terjadi letusan gunung berapi dan mengungsikan orang-orang dari gunung yang diperhitungkan akan meletus tersebut. Mereka tidak pernah memperkirakan bahwa setelah mereka turun ke bawah, justru terjadi gempa bu-mi yang sangat dahsyat yang tidak per-nah diperhitungkan sama sekali. Apa yang ditemukan oleh para ilmuwan ha-nyalah: “Pusat gempa berada di laut” atau “kekuatan gempa 5,9 scala righter” atau kalimat-kalimat lain yang tidak da-pat menyelamatkan mereka sama sekali.

Oleh karena itu marilah kita bertau-bat kepada Allah, karena bencana ini mungkin disebabkan karena dosa-dosa kita yang terlalu besar dan banyak. Bah-kan telah tersebar praktek-praktek kesyi-rikan yang merupakan dosa yang paling besar di tengah-tengah masyarakat kita. Acara-acara syirik seperti ruwatan, sede-kah bumi, sedekah laut, pesta laut, se-sajen-sesajen untuk nyi loro kidul, ben-da-benda yang dianggap keramat, pusaka di keraton-keraton dan lain-lainnya, ajar-an siapakah semua itu?! Apakah yang de-mikian tidak menyebabkan Allah mur-ka?! Apakah kita belum dapat mengambil pelajaran dengan terjadinya Tsunami di daerah Sumatera sebelum ini?

Perhatikan firman Allah سبحانه وتعالى:
وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ (101) وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Karena itu tidaklah ber-manfaat sedikitpun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru se-lain Allah, di waktu adzab Rabb-mu da-tang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka kecu-ali kebinasaan belaka. Dan begitulah adzab Rabb-mu, apabila Dia meng-adzab penduduk negeri-negeri yang ber-buat dzalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.

Jangan merasa aman dari adzab Allah
Sungguh praktek-praktek kesyirikan yang terjadi di kota Yogyakarta dan se-kitarnya banyak pula terjadi kota-kota lain. Kemaksiatan-kemaksiatan seperti zina, khamr dan narkoba yang terjadi di kota Yogyakarta banyak pula terjadi di kota-kota lain. Kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan-kesesatan yang terjadi di Yogyakarta banyak pula terjadi di kota-kota lain. Maka bencana yang kini terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya hendaklah menjadi peringatan terhadap daerah-daerah lain yang sementara ini masih aman. Kita tidak boleh merasa tenang se-lama praktek-praktek kesyirikan, kebid-’ahan dan kemaksiatan masih mendomi-nasi daerah kita.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari pada waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu me-rasa aman dari kedatangan siksaan Ka-mi kepada mereka pada waktu mataha-ri naik sepenggalah ketika mereka se-dang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (al-A’raaf: 97-99)

Makna “tidak merasa aman” adalah takut kepada Allah, selalu berdoa dan berupaya untuk dijauhkan dari adzab dengan meninggalkan kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan.

Mencegah bencana dengan Taubat
Bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى dan merubah perilaku kita adalah satu-satu-nya upaya untuk mencegah terjadinya “bencana alam”. Dan sesungguhnya Allah-lah yang menakdirkan terjadinya seluruh bencana-bencana tersebut de-ngan keadilan dan hikmah-Nya yang sangat besar. Alam tidak memiliki kekuasa-an apapun. Ia tidak menakdirkan, tidak dapat menentukan dan tidak pula dapat mencegahnya, karena ia memang bukan tuhan.

Syaikh Muqbil bin Hadi رحمه الله berkata: ”Barang siapa yang menyan-darkan kejadian-kejadian kepada alam dengan memaksudkan bahwa alamlah yang mengatur dan menentukan maka dia kafir”. (Majmu’atur Rasa’il, pada risalah Idlahul Maqal Fi Asbabiz Zilzal, hal. 142).

Maka aqidah yang harus diyakini oleh setiap muslim adalah tidak akan ada satu pun makhluk yang dapat menghala-ngi terjadinya bencana yang Allah takdir-kan kecuali dengan bertaubat dan ber-doa kepada-Nya.

Perhatikanlah apa yang telah diupa-yakan oleh orang-orang terdahulu yang jauh lebih kuat dari kita bahkan rumah-rumah mereka diukir dari batu yang ta-han gempa. Namun apa yang terjadi? Karena kekafiran mereka, Allah adzab mereka dengan cara lain, yaitu dengan suara melengking tinggi yang memu-tuskan jantung-jantung mereka. Atau Allah adzab mereka dengan udara dingin tujuh hari delapan malam yang membu-nuh mereka secara keseluruhan. Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang kaum ‘Ad dan kaum Tsamud:
كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ (4) فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ (5) وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7) فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ
Kaum Tsamud dan 'Aad telah mendus-takan hari kiamat. Adapun kaum Tsa-mud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang luar biasa, Adapun kaum 'Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah lapuk. Maka kamu tidak me-lihat seorangpun yang tersisa di antara mereka. (al-Haaqah: 3-8)

Maka jadilah mereka bangkai-bangkai yang berserakan di rumah-rumah mereka yang masih utuh. Sebagaimana Allah kisahkan dalam ayat lain:
وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang dzalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka. (Huud: 67)

Untuk itu janganlah kita mengan-dalkan kekuatan fisik seperti mereka da-hulu. Atau mengandalkan kecanggihan teknologi yang kita miliki untuk meng-hindar dari adzab Allah.Tidak ada satu pun yang dapat mencegahnya kecuali memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

Bencana sebagai ujian
Kita tidak mengingkari adanya orang-orang shalih, ahli tauhid, atau ah-lus sunnah yang masih berada di atas jalan kebenaran di tengah-tengah mereka yang tertimpa bencana. Adzab tersebut bagi mereka merupakan ujian yang akan menambah pahala mereka dikarenakan kesabaran mereka.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan coba-an kepada kalian, dengan sedikit keta-kutan, kelaparan, kekurangan harta, ji-wa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka meng-ucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". (al-Baqarah: 155-156).

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar mence-gah terjadinya bencana
Namun Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan orang-orang yang shalih tersebut akan datangnya adzab yang jika turun tidak hanya mengenai orang yang dhalim saja akan tetapi adzab itu merata dan mengenai orang-orang yang shalih. Yang demikian agar orang-orang shalih terse-but mencegah kemungkaran-kemungkar-an yang ada di tengah mereka sebagai upaya menunda turunnya adzab.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah diri-diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (al-Anfaal: 25)

Diriwayatkan dari Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيْلٌُ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجُ مِثْلُ هَذِهِ
Laa ilaha illallah, celaka negeri Arab dari kejelekan yang sudah dekat. Pada hari ini telah terbuka benteng Ya’juj wa Ma’juj seperti ini. (Sambil mengisyarat-kan dengan tangannya).

Maka Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها pun berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنَهْلِكُ وَفِيْنَا الصَّالِحُوْنَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثَ
“Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shalih? Ra-sulullah menjawab: “Ya, ketika telah merajalelanya kejelekan”. (HR. Bukhari Muslim) Wallahu a’lam
Ust. Muhammad Umar as-Sewed

Sumber: Risalah Dakwah AL MANHAJ Ma'had Dhiya'us Sunnah Cirebon Edisi: 105 Tahun 3

0 Sejarah Hitam Kafir Eropa

SEJARAH HITAM KAFIR EROPA
( Tanggapan Terhadap Karikatur Denmark )

Alhamdulillah, wasshalatu wassa-lamu 'ala rasulillah wa 'ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Amma ba'du:

Telah disebarkan dalam media masa dan koran-koran satu bencana yang sangat menyakitkan yang dimunculkan oleh musuh-musuh Islam yang dengki dan menunjukkan permusuhan terhadap Islam dan Nabinya.

Perbuatan yang intinya adalah caci-makian terhadap Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan menggambarkan risalahnya dengan gambaran yang sangat jelek dari bebera-pa oknum nasrani dan organisasi-organi-sasi kristen yang sangat dengki, serta dari para penulis pendengki yang melecehkan Islam seperti penulis di koran Denmark Jyllands Posten. Penulisnya memperolok-olok sebaik-baik manusia dan se-sempurna-sempurna para rasul Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Padahal tidak dikenal di muka bumi ini seorang yang lebih cerdas, lebih mulia, lebih sempurna ahlaknya, paling adil dan paling kasih sayang dari-pada beliau.

Dan tidak pula dikenal satu risalah yang lebih sempurna, lebih lengkap, lebih adil dan lebih kasih sayang daripada risa lah beliau (Islam). Risalah yang mengan-dung keimanan terhadap seluruh para nabi dan rasul, menghormatinya, menjaga, melindungi mereka dari cerca-an, celaan dan sejenisnya, serta meme-lihara hakekat sejarah mereka, seperti Nabi Isa 'alaihi sallam dan nabi Musa 'alaihi sallam. Maka barangsiapa yang mengingkari risalah Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam dan meren-dahkannya, maka dia telah kafir dan me-ngingkari seluruh para nabi dan meleceh-kan mereka.

Para penjahat buas tersebut telah memperolok-olok beliau dengan meng-gambarkannya dalam berbagai gambar yang jelek yang bermacam-macam. Dua belas gambar karikatur yang salah satu-nya menggambarkan sosok yang dinama-kan dengan nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam memakai surban yang mirip bom di atas kepalanya.

Kita katakan kepada para mujrimin (para penjahat) dan orang-orang yang ada di belakang mereka dari para pen-dengki di Eropa dan Amerika:
رَمَتْنِي بِدَائِهَا وَانْسَلَتْ
Mereka melempari aku dengan racun-nya kemudian lari sembunyi.

Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, para khalifahnya yang lurus, dan para shaha-batnya yang mulia, bukanlah pembuat senjata-senjata pemusnah. Bahkan senja-ta yang paling sederhana sekalipun yaitu pedang dan tombak apalagi bom atom, peluru kendali dan berbagai macam sen-jata-senjata penghancur massal lainnya.

Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membikin satu pabrik senjata pun, karena beliau diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam, memberikan petun-juk dan bimbingan kepada seluruh ma-nusia, mengajak pada kebahagiaan mere-ka di dunia dan akhirat, agar mereka menegakkan hak pencipta mereka yang menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya. Barangsiapa yang menolak-nya, maka dialah yang jahat yang pantas untuk dibalas di dunia dan akhirat oleh Allah rabbul Alamien, pemilik alam semesta dan pencipta-Nya
Adapun kalian wahai orang-orang barat yang mengaku memiliki kemajuan. Sesungguhnya kalianlah yang memiliki aturan dan undang-undang yang justru merusak akhlak, membolehkan berbagai macam keharaman seperti zina, kelainan seksual (homo seks dan sejenisnya), riba yang menghancurkan ekonomi umat (menjerat negara-negara miskin –pent.), membolehkan memakan bangkai, daging babi, yang menyebabkan munculnya pe-nyakit dan sifat jelek yaitu tidak adanya rasa cemburu seseorang terhadap istri dan anak perempuannya. Mereka dibebaskan berpacaran dan berzina de-ngan pasangan semaunya. Padahal se-mua itu adalah akhlak jelek yang meng-hancurkan yang diharamkan oleh semua agama para nabi.
Ada pun bom-bom, senjata-senjata pemusnah dan perangkatnya seperti pe-sawat-pesawat tempur, tank-tank tempur, peluru-peluru kendali; maka kalianlah arsitek yang membuatnya. Dengan akal setan kalian yang tidak pernah berpikir, kecuali bagaimana menguasai, memusuhi, mendhalimi, menyerang dengan melampaui batas, menindas manusia, memperbudak dan menumpahkan darah serta merampas harta benda mereka. Mereka tidak berpikir kecuali bagaimana membinasakan orang yang menghalangi kehendak kalian dan berdiri membela hawa nafsu dan keserakahan kalian. Se-mua itu dibungkus atas nama 'kemajuan', 'hak asasi manusia (HAM)', 'kebebasan' dan 'keadilan'.

Semua orang yang berakal tahu seluruh keadaan ini pada kalian. Sejarah hitam kalian telah memaparkan bagai-mana perbuatan teror kalian yang buas. Silakan lihat sejarah yang ditulis oleh kawan dan lawan kalian.

Siapa yang tidak tahu silakan mem-baca sejarah penjajahan kalian terhadap umat-umat agar mempelajari paling se-dikit bagaimana peperangan yang kalian lakukan dalam dua perang dunia dan apa hasilnya. Peperangan yang telah mem-bawa korban sangat besar. Dalam perang dunia I di Eropa, lebih dari 10 juta manu-sia yang merupakan pemuda-pemuda tanggung dari negeri-negeri mereka. Lebih banyak lagi dengan jumlah berlipat orang-orang yang terluka dan cacat dan tidak bisa hidup kecuali dalam keadaan lumpuh sampai akhir hayatnya. Silakan baca sejarah Eropa dari pemberontakan Perancis sampai perang dunia II.

Dalam perang dunia II, korbannya mencapai 17 juta orang tentara dan 18 juta orang sipil terbunuh dalam kurun waktu 5 tahun setengah.

Para pakar sejarah mengatakan bahwa biaya tentara saja dalam perang tersebut mencapai 1.100 milyar dolar. Adapun kerugian yang disebabkan oleh pe-rang tersebut mencapai 2.100 milyar dolar. Ditambah lagi negeri-negeri yang rusak dan bumi-bumi yang terbakar. De-mikian pula sumber-sumber air, pabrik-pabrik yang semuanya hancur dan ter-henti total tidak dapat berproduksi. Be-lum lagi binatang-binatang ternak yang ikut terbantai karenanya. (Al-harb al-Alamiyah ats-Tsaniyyah, oleh Ramadlan Land, hal. 448-449)

Bom Hirosima
Berkata penulis buku tersebut pada halaman 446-447 dan kiranya pantas ka-mi sebutkan di sini sedikit tentang akibat bom atom pertama. Kami sebutkan apa yang dikatakan oleh salah seorang pen-duduk Jepang ketika berbicara dengan Marshell John yang merupakan salah satu anggota palang merah di sana ten-tang bom yang sangat dahsyat yang ter-jadi di Hirosima. Ia berkata: "Tiba-tiba muncullah di langit cahaya jingga dengan warna yang sangat menyilaukan diiringi dengan goncangan yang sangat dahsyat. Bersamaan dengan itu udara terasa panas yang membakar dan mencekik serta menjalar ke seluruh penjuru, diikuti dengan dengan angin dahsyat yang menghempaskan segala sesuatu. Bebera-pa detik kemudian terbakarlah ribuan manusia yang sedang berjalan di jalan-jalan raya atau yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan umum di tengah kota. Kebanyakan mereka terbunuh karena panas yang sangat dahsyat dan menyebar di seluruh penjuru kota. Sebagian lainnya terduduk dan terjatuh dalam keadaan meratap dan menjerit-jerit kesakitan dikarenakan panas yang menjalar di selu-ruh badan mereka. Setiap bangunan yang berdiri di sekitar ledakan, apakah berupa tembok, rumah, pabrik, bangunan dan lain-lain seluruhnya hancur rata. Manu-sia yang masih sempat berlari, mereka berlari ke tanah lapang dalam keadaan ketakutan dan histeris. Tren-tren listrik tercabut dari relnya dan berterbangan seakan-akan tidak mempunyai berat sama sekali. Demikian pula kereta api-kereta api terlempar berterbangan seperti layaknya mainan anak-anak. Kuda-kuda, anjing-anjing dan hewan-hewan ternak mengalami seluruh apa yang dialami oleh manusia.
Semua mahluk yang memiliki kehidupan, mati seketika dalam keadaan mengenaskan yang tidak bisa digambar-kan. Pohon-pohon seketika menjadi kering dan terbakar di tengah kobaran api. Sawah-sawah dan rumput-rumput hilang kehijauannya, demikian pula se-mua pohon dan ranting terbakar seperti kulit kering.

Adapun di luar lingkup ledakan maut, rumah-rumah tergoncang dan menjadi bongkahan genting, batu, tiang dan sungguh telah hancur segala sesuatu seperti rumah-rumah karton, padahal jaraknya 10 km dari pusat ledakan.

Orang yang tertulis sebagai orang yang selamat dari kematian, mereka mendapati diri mereka dikuasai radiasi. Adapun beberapa orang yang mampu mencapai pos-pos pertolongan, mereka akhirnya mati setelah 20 atau 30 hari karena sakit akibat pengaruh radiasi dan panas yang mematikan. Setelah sore hari, baru cahaya api mulai mereda dan kemu-dian padam, karena memang tidak ada lagi sesuatu yang bisa terbakar. Maka lenyaplah Hirosima".

Itulah beberapa contoh kemajuan kalian yang kalian bangga-banggakan, yang kalian dendangkan dan kalian som-bongkan di hadapan kaum muslimin dan nabinya. Kalian masih terus-menerus menambah berbagai macam kedhaliman dan kerusakan; dan masih terus-menerus menambah peralatan-peralatan untuk menghancurkan manusia dan membina-sakan mereka. Yang demikian, demi Allah, adalah puncak sikap buas hewani kalian.

Allah ٍSubhanahu Wa Ta'ala berfirman:
أْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًاَمْ تَح
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?. Mereka itu tidak lain, ha-nyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari bina-tang ternak itu). (al-Furqan: 44)

Silakan jadikan bom-bom kalian seperti bom Hirosima dan sejenisnya sebagai kuku kalian. Dan jadikan seluruh senjata penghancur sebagai taring kalian. Dan silakan kalian menerkam mangsa kalian dari manusia.
...وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
…dan orang-orang yang dhalim itu ke-lak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (asy-Syu'araa: 227)

Diterjemahkan dari tulisan Syaikh Rabi'b in Hadi al-Madkhali di situs Rabee.net tanggal 28 Dzulhijjah 1426 H oleh
Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

0 LARANGAN Memperolok-olok Sunnah

Sebagaimana telah kita ketahui bersama dari pembahasan yang lalu, bahwa sunnah memiliki makna luas, tidak hanya sempit pada pengertian fiqih saja, namun merupakan ajaran dan keteladanan (uswah) yang dituangkan ke dalam segenap perilaku kehidupan nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Dengan demi-kian sunnah merupakan agama itu sendiri yang Allah Ta’ala jadikan sebagai penerjemah dalam menafsirkan segenap ayat-ayat-Nya.

Saudaraku -barakallahu fiikum-, mem-perolok-olokan sesuatu yang berasal dari agama adalah merupakan kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama menurut kesepakatan para ulama’. sebagai yang dinukilkan oleh Ibnul Arabiy dalam tafsirnya (2/976) dan Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh di dalam Taisir Al Aziizil Hamiid. Maka memperolok-olok dari sunnah-sunnah nabi shalallahu 'alaihi wa sallam tidak berbeda apakah yang melakukannya dengan sungguh-sungguh, bermain-main atau senda gurau. (Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah Az Zawi).

Jenis-jenis Istihza’
Namun manakala kita membicarakan permasalahan ini maka kita tidak akan ter-lepas dari beberapa permasalahan yang terkait dengannya.
Permasalahan yang berkenaan dengan memperolok-olok agama atau yang kita kenal dengan istilah istihzaa, di antaranya ialah kita dapati pada kenyataannya dalam memper-olok-olokkan agama terbagi menjadi dua macam;
1. Istihzaa’ sharih, yaitu memperolok-olok agama dengan ucapan secara jelas dan te-rang-terangan. Sebagai contoh ucapan mereka para munafiqin kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di suatu majlis pada perang tabuk ‘Tidak-lah kami melihat orang yang lebih memen-tingkan perutnya, lebih berdusta ucapan-nya, dan lebih penakut ketika berjumpa de- ngan musuh daripada mereka para pemba-ca-pembaca Qur’an (yakni Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya)’. atau seperti ucapan mereka lainnya yang menyatakan: ‘agama tidaklah diukur dengan jenggot kita’, yakni karena permasalahan cukur jenggot, dan masih banyak lagi yang semisal dengan itu.
2. Istihzaa’ ghairu sharih yaitu memperolok-olok agama dengan perbuatan yang menun-jukkan isyarat maupun sindiran (tidak jelas atau tidak terang-terangan), seperti dengan memicingkan mata, menjulurkan lidah dan membentangkan bibir dan lain-lainnya yang bertujuan untuk merendahkan sesuatu dari agama. (lihat Kitabut Tauhid DR. Shalih Fauzan hal 43, dan Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah).

Dalil kafirnya memperolok-olok sunnah
Saudaraku kaum muslimin -barakallahu fiikum-, dalil-dalil tentang kafirnya mem-perolok-olok sunnah banyak sekali. Namun semua berporos pada satu ayat yang me-nerangkan bagaimana hukum tersebut dapat menimpa seseorang dan apa penyebabnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَلََئِنْ سَأَلْتَهمْ لَيَقُوْلُنَّ ِإنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرُسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيماَنِكُمْ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesung-guhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: ’Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’. Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah:65-66).

Ayat ini menunjukkan bahwa mem-perolok-olok Allah adalah kekufuran, mem-perolok-olok rasul adalah kekufuran, dan memperolok ayat-ayat-Nya adalah keku-furan, demikian pula memperolok-olok sun-nah adalah kekufuran. Maka barangsiapa yang memperolok-olok salah satu dari per-kara-perkara tersebut berarti dia telah mem-perolok-olok keselu-ruhannya.
Memperolok-olok Allah dan Rasul-Nya dianggap kekufuran yang mengeluarkan pela-kunya dari agama karena pokok agama dibangun di atas pengagungan terhadap Allah dan pengagungan terhadap Rasul-Nya, sedangkan memperolok-olok sesuatu darinya dapat menghilangkan pokok tersebut dan meruntuhkannya dengan dahsyat. (Taisir Karimir Rahman, Abdurrahman As Sa’diy, hal. 342-343).

Larangan untuk bermajlis dengan orang yang memperolok-olok agama
Saudaraku rahimakumullah terkadang kita sadar maupun tidak telah terpedaya oleh berbagai makar dan perangkap syaithan yang selalu berupaya menjerumuskan kita ke dalam kesesatan, na’udzubilah. Dimana kita dijadikannya seperti sebuah patung yang bisu atau manusia yang terlelap pulas dalam tidurnya. Bagaimana tidak, terkadang - kalau tidak mau dinilai keumumannya – kita meng-anggap suatu hal yang wajar atau lumrah di saat kita menyaksikan atau mendengar atau paling tidak mengetahui ada orang yang memperolok-olok agama dengan gurauannya atau candanya atau bahkan menebarkannya bagaikan menebarkan benih di sawah lantas kita terdiam melihatnya, terkesima bahkan ikut tertawa mengaminkan pelecehan agama tersebut. Karenanya Allah di dalam ayat tadi atau ayat-ayat lainnya menegur dan mengan-cam dengan ancaman yang keras. Allah Ta’ala berfirman:
لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيماَنِكُمْ
Tidak usah kamu cari alasan karena kamu kafir sesudah beriman (At Taubah: 66)

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُوْنَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِيْ بَعَثَ اللهُ رَسُوْلًا إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ ءَالِهَتِنَا لَوْ لَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ حِيْنَ يَرَوْنَ اْلعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيْلاً
Dan apabila mereka melihat kamu (Muham-mad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): ”Ini-kah orang yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya’. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka meli-hat adzab, siapa yang paling sesat jalannya. (Al Furqan:41-42).

Maka menjadi jelaslah dengan ini, bahwa orang yang memperolok-olok rasul dengan menyatakannya sebagai orang yang sesat adalah lebih berhak dan lebih pantas untuk disifati dengan sifat ini dan bahwa binatang ternak lebih baik dari orang ter-sebut. (Tafsir As Sa’diy hal.584).

Oleh karena itu Allah Ta’ala melarang mukminin untuk berkumpul, bermajlis bersama orang-rang yang memperolok-olok agama ini termasuk di dalamnya mem-perolok-olok rasul dan sunnah rasul.
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ نَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوا فِي حَدِيْثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka ja-nganlah kamu duduk beserta mereka. Kare-na sesungguhnya (kalau kamu berbuat demi-kian), tentulah kamu serupa dengan mereka. (An Nisa’:140)

Berkata Syaikh Abdurrahman As Sa’diy di dalam tafsirnya (hal 210): “Dan demikian pula halnya para ahlul bid’ah dengan keane-karagaman mereka, maka hujjah-hujjah mereka yang mendukung kebatilan mereka mengandung penghinaan terhadap ayat-ayat Allah. Karena ayat-ayat Allah tidaklah menunjukkan kecuali kebenaran, dan tidaklah mengakibatkan kecuali kebenaran, bahkan termasuk juga di dalamnya menghadiri majlis-majlis kemaksiatan dan kefasikan, yang akan menghinakan di dalamnya perin-tah-perintah dan larangan-larangan Allah, dan akan menenggelamkan hukum-hukum-Nya yang telah Allah tetapkan bagi para hamba-Nya dan penghujung dari larangan ini ialah larangan untuk duduk bersama mereka.”
Disegerakannya balasan bagi yang mem-perolok-olok sunnah

Sebagai penutup dari pembahasan kita kali ini tidak lupa kita utarakan juga di sini bagaimana Allah menyegerakan balasan bagi mereka-mereka yang memperolok-olok sunnah atau yang melecehkannya yang telah teriwayatkan kepada kita;

Dari Salamah bin Al Akwa’ “Bahwa seseorang makan di samping Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dengan tangan kirinya, maka beliau pun menegur: “Makanlah dengan tangan kanan-mu’, orang itu menjawab,’aku tidak bisa’. Beliau bersabda : ‘Engkau benar-benar tidak akan bisa’. Padahal tidak ada yang mengha-langinya (makan dengan tangan kanan) kecuali kesombongannya. Salamah menga-takan: Maka ia pun tidak bisa (lumpuh) mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya. (Dikeluarkan Muslim no. 2021).

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
بَيْنَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي بَرْدَيْنِ خَسَفَ اللهُ بِهِ اْلأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Manakala seseorang berjalan dengan som-bongnya di pagi dan petang maka Allah tenggelamkan orang tersebut ke dalam bu-mi, dan ia akan terbolak-balik di dalamnya sampai hari kiamat”.
Maka seorang pemuda bertanya kepada Abu Hurairah –yang telah disebutkan namanya– dalam keadaan bercanda: ’Apakah seperti ini jalannya orang yang ditenggelamkan ke bu-mi?’ Lalu Abu Hurairah pun memukul dengan tangannya dan orang itupun merasakan sakit yang hampir mematahkan tulangnya. Kemu-dian Abu Hurairah berkata dengan memba-wakan ayat:
إِنَّا كَفَّيْنَكَ الْمُسْتَهْزِئِيْنَ
Sungguh Kami akan balas untuk (mem-bela)mu (wahai nabi) dari orang yang mem-perolok-olok. (Sunan Ad Darimi no.437)

Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata: “Datang seseorang kepada Said Ibnul Musayyab untuk pamit menunaikan haji dan umrah. Maka beliaupun berkata kepada orang tersebut: “Janganlah engkau pergi hingga engkau shalat terlebih dahulu, karena sesung-guhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
لاَ يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلاَّ مُنَافِقٌ إِلاَّ رَجُلٌ أَخْرَجتْهُ حَاجَةٌ وَهُوَ يُرِيْدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ
Tidaklah keluar dari masjid setelah diku-mandangkan adzan kecuali munafik, kecuali seseorang yang dipaksa keluar oleh kebutu-hannya dan dia berkeinginan kembali ke masjid.

Maka orang itu pun berkata: “Sesungguhnya teman-temanku berada di al-Hurrah”. Maka orang itu pun keluar. Dan belum selesai Said menyayangkan kepergiannya dengan menye-but-nyebut tentangnya, tiba-tiba dikabarkan bahwa orang tersebut terjatuh dari kendara-annya, hingga patah pahanya. (Sunan Ad-Darimi, no. 447).

Dari Abi Yahya as-Saaji berkata: “Kami berjalan di lorong-lorong kota Bashrah menuju rumah salah seorang ahlul hadits. Maka aku percepat jalanku dan (ketika itu) ada di antara kami yang jelek agamanya, kemudian berkata: “Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap-sayap para malaikat, janganlah kalian mematahkannya (seperti orang yang istihza’). Maka orang itu pun tidak dapat beranjak dari tempatnya hingga kering kedua kakinya dan kemudian terjatuh”. (Bustanul Arifin, Imam Nawawi, hal. 92.) (Semua kisah di atas dinukil dari kitab Ta’zhimus Sunnah, Abdul Qayyum as-Suhaibani, hal. 30-32) Wallahu a’lam.
Muhammad Sholehuddin

Maraji’:
1. Ta’dhimus Sunnah, Abdul Qayyum bin Mu-hammad bin Nashir.
2. Kitabut Tauhid, DR. Shalih Fauzan.
3. Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah az-Zawi.
4.Taisir Karimir Rahman, Abdurrahma as-Sa’diy.

Sumber:Edisi 13 Tahun 1
Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief, Agus Rudiyanto; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Abu Rahmah HP. 081564634143Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief, Agus Rudiyanto; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Abu Rahmah HP. 081564634143

0 Keutamaan Hari Dzulhijjah Dari Hari Romadlon


-->KEUTAMAAN HARI DZULHIJJAH
DARI HARI ROMADLON

Pertanyaan:
Lebih utama manakah 10 (sepuluh) hari terakhir pada bulan Romadlon dengan 10 (sepuluh) hari bulan Dzulhijjah?

Jawab:
10 (sepuluh) hari malam akhir pada bulan Romadlon lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari malam bulan Dzulhijjah, karena pada 10 (sepuluh) hari malam terakhir bulan Romadlon terdapat malam Lailatul Qodar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan Lailatul Qodar ini terdapat pada malam-malam di 10 (sepuluh) hari akhir bulan Romadlon.

Sedangkan hari yang paling utama adalah 10 (sepuluh) hari pada bulan Dzulhijjah, karena pada 10 (sepuluh) hari bulan Dzulhijjah terdapat hari Nahar, hari Arafah, dan hari Tarawih.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذا الأيام العشر؟ قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله, إلا رجل خرج بنفسه و ماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
“Tidaklah ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini.” Lalu para sahabat bertanya, “Tidak juga Jihad di jalan Allah?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab,”Tidak juga Jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri (jiwa) dan hartanya,lalu kembali tanpa membawa sesuatupun.” (HR. Bukhari no. 2/382, 383; At Tirmidzi no. 757; Ibn Majah no. 1727. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma).

Maraji':
Zaadul Ma'ad (1/56-57. Ibn Qoyyim Al Jauziyyah. Cet. Muasasah Ar Risalah, Bairut).

0 Dauroh Ilmiyyah, Propinsi Bayan-Daulah Kuwait

KABAR GEMBIRA!!!
InsyaAllah Dauroh Ilmiyyah bersama Syaikh Abul Abbas 'Adl Manshur(*)
Akan dimulai kembali pada hari Ahad pekan ini
Bertepatan dengan Tanggal 16 Nopember 2008
Adapun Jadwal Dauroh Sbb:
1. Ba'da Maghrib
Materi: Kitab Bulughul Marom, karya Ibn Hajar Al Asqolaniy
2. Ba'da Isya
Materi:-) Kitab Al Kaba'ir karya Syaikh Muhammad Abdul Wahhab
-) Mukhtashor (ringkasan) Shahih Bukhori, karya Al Albani
Tempat:
Dewaniyah Al Akh Abu Abdirrahman Zaid Ad Duwaisiriy
Propinsi Bayan, Block: 8
Informasi WNI di Kuwait:
Hawalliy: Abu Shofiyah Rasto Dasmin, tel: 66646806
Jahra: Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan

Sumber: http://sahab.net/forums/showthread.php?t=362934
Catatan:
*) Beliau adalah murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wada'iy rahimahullah dan Syaikh Sholih Fauzan Al Fauzan hafizahullah. Beliau mendapat tazkiyyah dari Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy untuk mengajar di Indonesia. Demikian informasi dari akhuna Abu Shofiyah.

ANDA MEMBUTUHKAN BIBIT MANGGA BERKWALITAS?

Kami Bibit Unggul Nursery menyediakan berbagai Bibit Mangga Berkwalitas, missal: Mangga Erwin/Irwin, Mangga Kiojay, Mangga Chokanam, mangga Namdokmay, Mangga Mahatir. Kami juga menyediakan Bibit Durian Monthong, Durian Bhineka Bawor, Jeruk Chokun, Jeruk Santang.

Segera Hubungi Kami di:

0852-2081-6455.

Lengkapi koleksi kebun Anda dengan Bibit Berkwalitas dari kami

Kami siap melayani pembelian(Grosir dan Eceran) bibit dari seluruh Indonesia dengan kwalitas bibit unggulan dan harga terjangkau.

Komentar Terbaru