0 Jangan Jauhkan Ummat Dari Sunnah

Berkata Abul ‘Aliyah rahimahullah: “Ka-mi jika hendak mengambil ilmu dari sese-orang, maka kami melihat bagaimana shalat-nya. Jika shalatnya baik, maka kamipun du-duk mengambil ilmu darinya, dan kami nya-takan “amalannya yang lain (juga) baik”. Na-mun apabila jelek shalatnya, maka kamipun pergi meninggalkannya, dan kami nyatakan; “amalannya yang lain juga jelek.””. (Sunan Ad-Darimi, 1/93-94)

Saudaraku sekalian, ungkapan Abul Ali-yah ini tidaklah berlebihan jika kita melihat-nya dengan hati yang jernih. Bagaimana tidak, jiwa kita ini laksana sebuah bejana yang siap untuk diisi berbagai macam pemikiran. Jika kita menghendaki agar terisi oleh hal-hal yang baik saja, maka seyogyanya kita menu-angkan ke dalam bejana tersebut hal-hal yang bermanfaat saja. Namun apabila kita tidak memperhatikannya, bejana itu akan diisi de-ngan berbagai macam hal, dari yang baik sampai yang jeleknya sekalipun.

Oleh karenanya, kita pun teramat butuh untuk memperhatikan bejana kita itu. Apakah ia mau diisi dengan hal-hal yang baik atau justru sebaliknya, atau apakah kita ingin mengadakan penyeimbangan antara yang baik dan jelek?!

Saudaraku seiman, jika kita menelaah lebih jauh sikap yang dimunculkan oleh Abul Aliyah tadi, maka kita dapati di sana adanya satu hal penting dalam yaitu bagaimana kita bersikap. Beliau membuat standar point atas kelayakan seseorang apakah layak diambil keilmuannya atau tidak dengan meninjau baik tidaknya ia dalam dalam mengerjakan shalat. Mengapa harus shalat? Jawabannya ialah dikarenakan amalan tersebut mencakup ber-bagai permasalahan sunnah. Apabila sunah ditegakkan di dalamnya, niscaya shalatnya menjadi baik, tentunya dengan konsekuensi-konsekuensi lainnya. Namun apabila sunah ti-dak ditegakkan di dalamnya, niscaya ia hanyalah sebuah ritual yang tidak memiliki nilai.

Saudaraku, sunah bagi mereka (ulama salaf) merupakan tanda kecintaan seseorang terhadap Rabb-nya yang telah memberinya kehidupan, rezeki dan seluruh hal yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Dzun Nun al-Mishri dalam Risalah al-Qusyairiyah (1/75): “Termasuk dari tanda kecintaan sese-orang kepada Allah Azza wa Jalla ialah mengikuti keka-sih-Nya sholallahu 'alaihi wa sallam baik dalam akhlaq, perbuatan, perintah-perintah maupun sunah-sunahnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (wahai Nabi): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)

Berkata al-Hasan al-Bashri: “Tanda ke-cintaan mereka kepada Allah adalah mengi-kuti sunnah rasul-Nya. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya 2/204)

Demikianlah, mereka jadikan sunah sebagai tanda dan bukti kecintaan seseorang terhadap Rabb-nya. Semakin kuat kecintaan terhadap Rabb-Nya, maka semakin kuat pula dorongan arus ittiba’nya terhadap sunnah nabi-Nya. Semakin ia ingin membuktikan rasa cintanya kepada Allah, pada saat itu pula ittiba’nya kepada sunnan menjulang tinggi.

Namun, kelompok para penegak sunnah ini tidak luput dari sengatan bisa orang-orang yang jahil dan para pengikut hawa nafsu pa-da setiap masa. Mereka senantiasa menebar-kan berbagai macam makar yang mereka persiapkan untuk menentang sunnah dan pa-ra penegaknya, serta memancangkan bendera permusuhan dan membiuskan hawa kedusta-an. Tidaklah kita dapati di zaman ini kelom-pok yang lebih keras penentangannya serta lebih besar kedustaannya dari mereka yang berusaha menjegal para penegak sunnah de-ngan tuduhan: kaku, kasar, memecah belah umat, dungu, jumud dan lain-lain.

Saudaraku –semoga Allah merahmati kita- tuduhan yang dilontarkan oleh mereka yang menyatakan bahwa para penegak sunah adalah orang-orang kaku dan keras sangatlah tidak berdasar. Apakah pengertian yang me-reka maukan dengan istilah “keras” dan “kaku”? Apakah mereka menganggap bahwa dakwah kepada tauhid adalah keras? Apakah mengajak kepada manusia untuk berpegang dengan sunnah dianggap ekstrim? Atau apa-kah memberantas kesyirikan dan kebid’ahan adalah kaku dan kasar? Jika ini yang mereka maksudkan, berarti mereka telah menuduh dakwah Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam dan para nabi adalah ekstrim, kaku, kasar dan lain-lain.

Sesungguhnya yang dikatakan ekstrim, berlebih-lebihan atau keras adalah jika bermuara pada dua arus sebagai berikut:
1. Beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan periba-datan yang tidak pernah disyari’atkan oleh-Nya.
2. Berlebih-lebihan (ghuluw) dan berdalam-dalam mencari-cari yang tidak disyari’atkan dalam beragama (tanathu’).
Adapun mereka ahlus sunnah (para pe-negak sunnah), mereka tidaklah beribadah kepada Allah kecuali dengan apa-apa yang di-sebutkan dalam al-Qur’an dan hadits. Bahkan mereka –alhamdulillah- jauh dari kebid’ahan dan perkara-perkara yang di ada-adakan. Karena mereka berilmu dan beramal sesuai dengan konsekuensi hadits Aisyah yang diriwayatka oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini yang tidak ada contohnya maka ia tertolak.

Dalam lafadz imam Muslim:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa yang beramal suatu amala yang tidak ada perintah kami padanya, maka ia tertolak. (Muttafaq ‘alaihi)

Demikian pula dengan tuduhan mereka terhadap ahlus sunnah bahwa dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang mengajak pada perpecahan dan ikhtilaf (perselisihan), mencerai-beraikan barisan kaum muslimin dengan kecaman-kecamannya terhadap kelompok-kelompok lain.

Kita nyatakan kepada mereka “Jika yang kalian maukan adalah memecah antara haq dengan yang kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, maka kita jawab dengan tegas: “Ya”. Karena itulah misi ahlus sunnah wal jama’ah. Mereka, dengan dakwahnya yang senantiasa menyadarkan pada al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman salafus shalih menyebabkan terpisahnya haq dan kebatilan, sunnah dan kebid’ahan serta terpisahnya antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah dan menyebabkan semakin jelasnya siapa yang berpegang dengan aqidah yang shahih dengan yang berpegang dengan aqidah yang rusak.

Inilah yang diistilahkan dalam al-Qur’an dengan al-furqan yakni pembeda antara haq dengan kebatilan Hal ini tidak lain karena mereka menjalankan firman Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar... (Ali Imran: 110)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, seperti dua belah tangan yang saling membersihkan. Terkadang tidak hilang kotoran kecuali dengan sesuatu yang kasar, tetapi yang demikian agar tangan menjadi bersih dan lembut. Sehingga kekasaran tadi adalah terpuji dengan tujuan tersebut”. (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juz 28 hal. 53-54 melalui Irsyadul Bariyyah Ila syar’iyyatil intisa lis Salafiyah, hal. 56, Abu Abdussalam Hasan bin Qasim ar-Riimi)

Adapun jika yang dimaksud oleh mereka bahwa ahlus sunnah telah membikin perpecahan ummat dalam arti mengajak pada perpecahan dan perselisihan dikarenakan hawa nafsu dan kesesatan yang telah dilarang oleh syari’at, maka ini adalah sebuah kedustaan dan mengada-ada. Karena alhamdulilah ahlus sunnah berada di atas jalan rasul-Nya sholallahu 'alaihi wa sallam dan para salafus shalih dari kalangan para shahabat dan tabi’in. Yang mereka mengajak kepada persatuan di atas tauhid dan sunnah, di atas perinsip la ilaha illallah dan prinsip muhammadan rasulullah.

Dengan demikian yang menyebabkan berpecahnya umat adalah mereka yang menarik kaum muslimin dari tauhid ke dalam syirik dan dari sunnah ke dalam bid’ah. Karena kesyirikan dan kebid’ahan merupakan perkara yang diada-adakan oleh mereka sendiri, maka otomatis akan muncul berbagai macam bentuk kesyirikan dan kebid’ahan yang berbeda-beda dan saling berselisih, dan masing-masing bangga dengan apa yang mereka ada-adakan.
وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (ar-Ruum: 31-32)

Saudaraku, tuduhan-tuduhan tadi serta masih banyak lagi yang lainnya adalah makar yang mereka persiapkan guna melemahkan kecintaan hati kaum muslmin terhadap sunnah rasul. Apakah karena hasad dan dengki atau bisa jadi memang karena benci kepada agama dan sunnah Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam ini.Mengapa tidak kalian akui saja kalau kalian memang lemah dalam menerapkan sunnah-sunnah nabi tanpa perlu memperolok-olok para pelaku sunnah yang pada akhirnya akan membuahkan celaan-celaan terhadap sunnah itu sendiri –naudzu billah min dzalik.

Atau paling tidak kalian akui saja bahwa kalian cemburu kepada mereka yang telah berhasil menghidupkan sunnah, sedangkan kalian belum bisa menerapkannya karena kelemahan kalian. Dengan sikap seperti ini kalian tidak akan terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar lagi dan lubang kekufuran disebabkan celaan kalian terhadap sunnah nabi. Dengan mengakui kelemahan kita yang belum bisa menerapkan beberapa sunah akan membawa kita ber-istighfar dan meminta ampun kepada Allah serta berdoa dan harap-an kepada Allah agar suatu saat bisa menerapkannya.

Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman bin Sahman: “Kalau setiap orang yang menghidupkan sunnah yag telah ditinggalkan umat dianggap sebagai orang yang membingungkan umat, niscaya sunnah Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam akan mati dan pintu ilmu akan tertutup serta akan muncul kerusakan-kerusakan yang tidak terhitung kecuali oleh Allah”. (Dinukil secara makna dari kitab Dlarurarul Ihtimam bis Sunan an-Nabawiyyah, hal. 84-85)

Syaikhul Islam pun berkata: “Boleh saja seseorang meninggalkan perkara-perkara yang mustahab (yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa), namun kita tidak boleh meninggalkan keyakinan kalau perkara itu adalah perkara sunah yang dicintai dan dianjurkan. Karena meyakini dianjurkannya amalan tersebut adalah wajib, agar tidak hilang sedikitpun dari agama ini”. (Majmu’ Fatawa 4/436 dan lihat Daruratul Ihtimam, hal. 84-86)

Dengan ucapan-ucapan ulama di atas, kita mengetahui bahwa perkara sunnah --walaupun tidak sampai kepada wajib—tetap harus kita hormati dan muliakan. Bahkan walaupun kita tidak mengerjakannya, hati kita tetap harus meyakini kemuliaan amalan tersebut. Dengan hati yang dipenuhi kecintaan kepada amalan-amalan sunnah, maka ia akan menghormati pula orang-orang yang telah mendahuluinya dalam menghidupkan sunnah-sunnah tersebut.

Saudaraku yang kami hormati –bara-kallahu fiikum-, bisa jadi ada di antara kita yang membisikkan suara sumbang: “Mengapa kita harus mempersoalkan perkara-perkara yang tidak diwajibkan? Apakah kita akan mengerjakan semua perbuatan-perbuatan nabi?!” Wallahul musta’an.

Apakah dia tidak mengerti bahwa matinya sunnah –-meskipun pada perkara yang tidak diwajibkan—merupakan sebesar-besar musibah. Karena dengan matinya sunnah satu demi satu, Islam akan berkurang sedikit demi sedikit. Karena Islam tidak lain merupakan kumpulan sunah-sunah ajaran Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam.

Hal itu sebagaimana dikatakan oleh imam al-Barbahari: “Islam adalah sunnah dan sunah adalah Islam”. (Syarhus Sunnah, Imam al-Barbahari).

Demikian pula Abdulah bin ad-Dailami berkata: “Sesungguhnya awal hilangnya aga-ma adalah ditinggalkannya sunnah, Islam akan berkurang satu sunah demi satu sunah seperti putusnya tali satu kekuatan demi satu kekuatan”. (Lamu ad-Duuril Mantsur Minal Qaulil Ma’tsur, hal. 21)

Dengan meremehkan sunnah, tidak mengamalkannya, tidak membahas dan tidak mengajarkan amalan tersebut, maka generasi mendatang tidak lagi akan mengenalinya lagi. Hingga akhirnya akan muncul kebid’ahan menggantikannya. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, dari tahun ke tahun dan dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka akan hilanglah syariat ini.

Perhatikan apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu: “Tidaklah datang kepada manusia suatu masa, melainkan mereka membuat satu kebid’ahan dan mematikan padanya satu sunnah, hingga hiduplah kebid-’ahan-kebid’ahan dan matilah sunah-sunah”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Wadlah dalam Bida’ Wan Nahyu ‘anha, hal. 38-39).

Akhirnya kita mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk senantiasa ber-upaya menghidupkan ajaran nabinya, mene-rapkannya pada diri-diri kita, keluarga dan masyarakat kita. Kalau kita belum bisa meng-amalkannya, janganlah hilang keyakinan kalau amalan tersebut adalah sunah Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam yang mulia. Dan janganlah menjauh-kan umat dari sunnah dengan berbagai macam alasan apapun yang dibuat-buat.Wallahu a’lam.

Muhammad Sholehuddin

Sumber: Buletin Al Manhaj Ma'had Dhiya'us Sunnah Cirebon, ed: 14 tahun 1

0 HiChatter/BeyLuxe (UPDATE 06/11/08)

Berikut ini kami informasikan salah satu software yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan dakwah SALAFIYAH yang penuh berkah ini melalui dunia maya.

Nama program ini adalah HiChatter/BeyLuxe. Dilihat dari namanya, sang empunya program menginginkan kemampuan yang lebih dari software sejenis, misal Paltalk.

Untuk melihat kemampuannya, silakan Anda membandingkan software HiChatter/BeyLuxe ini dengan software jenisnya dan silakan Anda menilainya sendiri. SELAMAT MENCOBA


DOWNLOAD

0 Salafy Toolbar

0 Menikahi Wanita Dibawah Umur, Kenapa Tidak?

Segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan ummatnya hingga akhir zaman.

Amma ba'du;

Sebaik-baiknya Kalam adalah Kalamullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Sejelek-jeleknya perkara adalah perkara baru dalam agama (muhdats), karena setiap yang muhdats adalah bid'ah, setiap yang bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka.

Tsumma amma ba'du;

Dalam suatu media massa diterangkan bahwa menikah dengan wanita di bawah umur adalah sesuatu yang terlarang. Berkata ketua MUI: "Perempuan atau pria boleh kawin kalau sudah akil baliq. Artinya biologis mengizinkan". Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Benarkah menikahi wanita di bawah umur tidak boleh? Dan bagaimanakah syari'at ini (baca: Islam) memandang tentang hukum menikahi wanita di bawah umur? Semoga risalah ini dapat membuka wacana kita dalam menyikapinya dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

A. Definisi Nikah
Makna nikah dalam dalam bahasa arab adalah mengadakan hubungan badan (coitus).

B. Perintah Nikah
Perintah nikah berdasarkan Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma'.
*) Al Qur'an
Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء (3) سورة النساء
"…maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi…" (QS. An Nisa': 3).

Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21) سورة الروم
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (QS. Ar Ruum: 21).

Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (32) سورة النــور
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui" (QS. An Nuur: 32).

Berkata Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat di atas sbb:"Ayat ini menerangkan tentang diperintahkannya menikah. Para ulama berbeda pendapat tentang kewajibannya, karena dilihat dari kemampuan seseorang. Hal ini berdasar dlohir hadits berikut:
يا معشر الشباب, من استطاع منكم الباء فليتزوج, فإنه أغض للبصر و أحصن للفرج, ومن لم يستطع فعليه بالصوم, فإنه وجاء
"Wahai para pemuda, jika kalian memiliki kemampuan maka menikahlah. Karena yang demikian itu akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga farji. Barangsiapa yang belum mampu melakukannya maka lakukanlah puasa, karena puasa adalah tameng" (HR. Bukhori no. 1905; Muslim no. 1400)…." (Tafsir Ibn Katsir 5/94 cet. Dar Al Andalus, dinukil dari Tanbihat 'ala Ahkam Takhtashu bil Mu'minat, hal: 84 Syaikh Sholih Al Fauzan cet. Idaroh Buhuts Al Ilmiyah, KSA).

*) As Sunnah (Al Hadits)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يا معشر الشباب, من استطاع منكم الباء فليتزوج
"Wahai para pemuda, jika kalian memiliki kemampuan maka menikahlah…" (HR. Bukhori no. 1905; Muslim no. 1400).

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
النكاح سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني
"Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk dari golonganku (ummat nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, pent)" (HR. Ibn Majah no. 1846. Hadits ini di-SHAHIH-kan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shohih Jami' As Shoghir no. 6807).

*) Ijma'
Kaum muslimin telah ijma' (=bersepakat) tentang disyari'atkannya nikah. Hal ini sebagai upaya untuk kemaslahatan bersama dan mencegah dari kerusakan jismiyah. Allah Ta'ala berfirman:
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu…." (QS. An Nuur: 32) adalah perintah

Dan firman-Nya:
فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ (232) سورة البقرة
"….maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi…." (QS. Al Baqoroh: 232) adalah larangan.

C. Rukun Nikah
Rukun nikah ada dua, yaitu:
-) Ijab -) Qobul

D. Syarat Nikah
Syarat-syarat nikah diantaranya adalah sbb;
-) Adanya wali
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا نكاح إلا بولي
"Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali" (HR. Ahmad 4/394; Abu Dawud no. 2085; At Tirmidzi no. 1101; Ibn Majah no. 1881; Ibn Hibban no. 1243).
-) Adanya 2 (dua) saksi (yang adil).
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا نكاح إلا بولي و شاهدين
"Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi" (HR. Baihaqi 7/125; Ad Daruquthniy 3/225. Hadits ini di-SHAHIH-kan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami' no. 7558 dan dalam Irwa'ul Gholil no. 1839, 1858. Di-DLO'IF-kan oleh Syaikh Al 'Utsaimin dalam Syarhul Mumti' jilid 12 hal 94 cet. Dar Ibn Al Jauziy).

Sedangkan tambahan kalimat "adil" adalah berasal dari Ibn Abbas radhiallahu anhuma. (Lihat dalam Irwa'ul Gholil jilid ke 6 cet. Maktabah Al Islamiy, Bairut Libanon).
-) Adanya penyebutan nama yang akan menikah (yakni fulan bin fulan atau fulanah binti fulan, pent).
-) Ridlo dari orang yang akan menikah/mempelai.

E. Manfaat Nikah
Diantara manfaat pernikahan adalah sebagai berikut;
-) Melindungi dari perbuatan zina.
-) Terwujudnya keluarga yang sakinah.
-) Terwujudnya kerja sama antara suami istri.
-) Terjaganya nasab/keturunan dan nama baik.
-) Terjaganya wanita dengan perlindungan suami dll. (Lihat pada kitab Tawadlih Al Ahkam min Bulughil Marom, 5/210; Taisir Alam Syarh Umdatul Ahkam jilid:… ; Tanbihat 'ala Ahkam Takhtashu bil Mu'minat, hal: 86).

Setelah kita mengetahui dan memahami pembahasan di atas, maka berikut kami terangkan tentang hal yang berkenaan dengan pernikahan wanita. Dalam hal ini meliputi hal-hal sebagai berikut;

-) Menikahkan gadis yang masih kecil.
-) Menikahkan gadis yang telah baligh.
-) Menikahkan janda.
Masing-masing memiliki hukum tersendiri

*) Menikahkan Gadis Yang Masih Kecil
Seorang ayah dapat menikahkan anak gadisnya yang masih kecil dengan orang yang diridloinya tanpa harus meminta izin kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakr As Shidiq radhiallahu anhu ketika menikahkan putrinya, 'Aisyah radhiallahu 'anha dengan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam padahal ia (Aisyah) masih berusia 6 (enam) tahun.{1}

Berkata Imam As Syaukani:"Pada hadits ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya bagi seorang bapak untuk menikahkan anak gadisnya sebelum baligh". Ia juga berkata:"Dalam hadits ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya menikahkan wanita yang masih kecil dengan pria dewasa. Hal ini sebagaimana terdapat dalam suatu bab pada (kitab) SHAHIH Bukhori yang kemudian ia menyebutkan hadits 'Aisyah radhiallahu 'anha ini…." (Lihat Nailul Author 6/128, 129).{2}

Catatan:
Yang dimaksud dalam pembahasan bab ini adalah diperbolehkannya melakukan aqad nikah dengan wanita yang masih kecil, sedangkan untuk melakukan hubungan badan (coitus) dilakukan setelah wanita tersebut baligh{3}. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam terhadap 'Aisyah radhiallahu 'anha.

*) Menikahkan Gadis Yang Telah Baligh.
Orang tua tidak boleh menikahkan anak gadisnya yang telah baligh kecuali dengan izinya dan izin seorang gadis yang telah baligh adalah diamnya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ولا تنكح البكر حتى تستأذن
"Janganlah engkau menikahkan seorang gadis hingga engkau meminta izin darinya".Ya Rasulullah, bagaimanakah (kita mengetahui, pent) izinnya? Rasulullah menjawab:"izinnya adalah diamnya" (HR. Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الْبِكْرَ تَسْتَحِي. قاَلَ: رِضَاهَا صَمْتُهَا
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis itu malu (untuk menjawab bila dimintai izinnya dalam masalah pernikahan).” Beliau menjelaskan, “Tanda ridhanya gadis itu (untuk dinikahkan) adalah diamnya.” (HR. Bukhari no. 5137).

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullahu: “Ulama berbeda pendapat tentang izin gadis yang akan dinikahkan, apakah izinnya itu wajib hukumnya atau mustahab (sunnah). Yang benar dalam hal ini adalah izin tersebut wajib. Dan wajib bagi wali si wanita untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memilih lelaki yang akan ia nikahkan dengan si wanita, dan hendaknya si wali melihat apakah calon suami si wanita tersebut sekufu atau tidak. Karena pernikahan itu untuk kemaslahatan si wanita, bukan untuk kemaslahatan pribadi si wali.” (Majmu’ Fatawa, 32/39-40)

*) Menikahkan Janda.
Orang tua tidak boleh menikahkan anaknya yang telah janda kecuali dengan izinnya. Izin dari seorang janda adalah dengan lisan/ucapannya, hal ini kebalikan dari wanita yang masih gadis. (Lihat juga pada Tanbihat 'ala Ahkam Takhtashu bil Mu'minat, hal: 89-90).{4}

Khansa` bintu Khidam Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha mengabarkan, ayahnya menikahkannya dengan seorang lelaki ketika ia menjanda. Namun ia menolak pernikahan tersebut. Ia adukan perkaranya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga akhirnya beliau membatalkan pernikahannya. (HR. Bukhari no. 5138).

Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Bukhari rahimahullahu dalam kitab Shahih-nya: Bab Apabila seseorang menikahkan putrinya sementara putrinya tidak suka maka pernikahan itu tertolak. Allahu Ta'ala A'lam.

Note Foot:
{1} HR. Bukhori dan Muslim.
{2} Lihat juga kitab Al Mughniy 6/487.
{3} Tidak ada batasan khusus tentang usia baligh bagi seorang wanita karena hal ini terjadi berbeda-beda pada setiap wanita.
Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa seorang wanita apabila telah berusia 9 tahun maka ia telah baligh (Lihat Irwa'ul Ghlolil jilid 6).
{4} Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh rahimahullah ditanya:"Bagaimana hukumnya seorang bapak memaksa putrinya yang janda untuk menikah?"

Jawab: Apabila masalahnya seperti yang saudara sebutkan, maka pernikahan tersebut tidak sah. Sebab termasuk syarat pernikahan adalah ridlonya calon mempelai. Dan tidak boleh seorang bapak memaksa putrinya yang sudah janda untuk menikah, dengan syarat umur janda tersebut di atas sembilan tahun menurut kesepakatan ulama. (Fatawa wa Rosail Syaikh Muhammad bin Ibrohim, 10/84).

Maroji':
-) Al Qur'anul Kariim.
-) Tanbihat 'ala Ahkam Takhtashu bil Mu'minat. Syaikh Sholih Fauzan Al Fauzan.
-) Irwa'ul Gholil. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
-) Syarhul Mumti' 'ala Zadul Mustaqni'. Syaikh Muhammad Sholih Al 'Utsaimin.
-) Kitab Fiqh menurut 4 mazhab.
-) Fatawa Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah. Disusun oleh Amin Yahya Al Wazan.
-) Tawadlih Al Ahkam min Bulugh Al Marom. Syaikh Abdus Salam Al Barjas.
-) Taisir Alam Syarh 'Umdatul Ahkam. Syaikh Abdus Salam Al Barjas.

0 Maktabah Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu As Syaikh

Berikut adalah Transkrip Dari Berbagai Durus Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh (Anggota Kibarul 'Ulama dan Menteri Agama, KSA).

Klik Pada Gambar Untuk Mendownload:



Besar File: 9MB

1 Benarkah Syaikh Robi' Mentahdzir Belajar Di Darul Hadits, Dammaj-Yaman?!

Fatwa Pertama

Telah mengabarkan Al-Akh Abul Fida' As-Sudani, Bahwa mereka telah menemui Syaikh Al-Alammah Rabi' bin Hady pada awal dari hari-hari Iedul Fitri tahun 1429 H.

Dan mereka bertanya kepada beliau tentang orang yang mentahdzir dari Darul Hadits Dammaj.

Maka beliau menjawab : " Ini adalah pengikut hawa Nafsu"

Dikabarkan oleh Al-Akh Abul Fida' As-Sudani kepada Al-akh Abu Abdirrahman Abdullah Al-Imad via telepon :

Sumber asli : http://www.aloloom.net/vb/showthread.php?t=1491

Naskah Asli Dalam Bahasa Arab:

جزاكم الله خيرا
وبارك فيكم
بل أخبرني الأخ أبو الفداء السوداني انهم التقوا بشيخنا المحدث العلامة ربيع المدخلي حفظه الله في أول يوم من أيام عيد الفطر المبارك لعام تسعة وعشرين واربعمائة وألف للهجرة فسألوه عمن يحذر من دماج فقال:

هذا صاحب هوى
هذا ما اخبرني به الأخ تلفونيا قبل يومين تقريبا
نسأل الله ان يوفق شيخنا الربيع ويمده بالصحة والعافية

Fatwa kedua

Telah bertanya Al-Akh Aiman Asy-Syawafi Al-Adani kepada Syaikh A-Muhadits Al-Allamah Rabi' bin Hady Al-Madkhaly di rumah beliau pada Hari Jum'at pada tanggal 5 Ramadhan 1429 H.

Beliau ( Al-Akh Aiman Asy-Syawafi Al-Adani ) bercerita :

Aku bertanya : " Ya Syaikh, apakah engkau menganjurkan untuk menuntut ilmu di (Darul Hadits) Dammaj pada masa-masa terakhir ini ??

Maka beliau (Syaikh Rabi') memandangku dengan marah dan menjawab : "Aib (tidak pantas.Pent ) bagimu menanyakan pertanyaan ini, Aib bagimu menanyakan pertanyaan ini. (Dua kali beliau mengulanginya) . Apakah engkau tidak memiliki pertanyaan lain selain pertanyaan ini ?. Bagaimana bisa aku tidak menganjurkan untuk menuntut ilmu di ( Darul Hadits ) Dammaj ?

Aku menjawab : " Wahai Syaikh, telah tampak di sisi kami, segolongan orang di Yaman yang merendahkan ( Darul Hadits ) Dammaj dan mentahdzir menuntut ilmu di dalamnya"

Maka beliau (Syaikh Rabi') Mengisyaratkan dengan tangannya dan berkata " Tidak benar mentahdzir dari Dammaj, Tidak benar. jangan benarkan mereka, akan tetapi aku menasehatkan bagi mereka yang Allah telah berikan nikmat dan taufik kepadanya dengan menuntut ilmu di (Darul Hadits) Dammaj. lebih baik bagi mereka untuk menyibukkan diri mereka dengan menuntut ilmu serta tidak masuk ke dalam fitnah "

Maka aku berkata : " Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang berlipat, Wahai Syaikh "


Dikabarkan Al-Akh Aiman Asy-Syawafi Al-Adani kepada Abu Abdillah Kholid Al-Badawi

Sumber asli :
http://www.aloloom.net/vb/showthread.php?p=5823#post5823

Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
بيان وتوضيح

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى وصحبه ومن والاه .... أما بعد :

ذهبت إلى زيارة العلامة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي - حفظة الله تعالى - إلى بيته في 5 رمضان وكان يوم الجمعة بعد العصر وقبل ان ينزل الشيخ لإلقاء الدرس وجدت أخ جزائري متعصب لعبد الرحمن العدني من الذين كانوا معنا في دماج وحصل بيني وبينه نقاش طويل نحو ساعة حول الفتنة الحاصلة في اليمن وكان مما قال لي هذا الأخ هداه الله ( بأن الشيخ ربيع لا ينصح بالدراسة في دماج ) فحملني هذا على أن اسأل الشيخ ربيع - حفظه الله تعالى - بنفسي فلما نزل الشيخ في الساعة التاسعة القى علينا درساً ماتعاً في التفسير ثم لما أذن المؤذن قام الشيخ ودعانا للفطور معه وسلمت عليه وقلت : ياشيخ هل تنصح بالدراسة في دماج هذه الأيام ؟

فنظر إلي الشيخ مغضباً وقال : مش عيب عليك تسأل هذا السؤال !! عيب عليك تسأل هذا السؤال ؟! مافي عندك سؤال غير هذا السؤال ؟ كيف ما أنصح بالدراسة في دماج .

فقلت : ياشيخ ظهرت عندنا جماعة في اليمن تطعن في دماج وتحذر من الدراسة فيها ؟

فأشار بيده وقال : غلط التحذير من دماج غلط ، لا تصدق هؤلاء الذين يحذرون من دماج ، لا تصدقهم ، لكن أنا نصيحتي لمن منّ الله عليه بهذه النعمة ووفقه لطلب العلم في دماج أحسن يشغل نفسه بطلب العلم ولا يتدخل في الفتنة .

فقلت : جزاك الله خيرا ياشيخ . أهـ

أملاه علي الأخ : أيمن الشوافي العدني

Sumber:http://my.opera.com/infodammaj/blog/

Catatan:
Naskah Bahasa Arab merupakan tambahan dari kami (Abu Muhammad Abdurrahman).

0 Fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy Untuk Menuntut Ilmu Di Darul Hadits, Dammaj-Yaman

Syaikh Rabi' bin Hadi ditanya : Apa pendapat Syaikh tentang pergi untuk menuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj Yaman dan perlu diketahui bahwa saya adalah seorang pemula dalam tholabul ilmi ?

Syaikh Rabi' menjawab : "Ya, sudah seharusnya bagimu untuk rihlah ke tempat tersebut yang merupakan pusat dari pusat-pusat Islam, salah satu menara dari menara-menara Islam.

Ya, ditempuh perjalanan untuk menuju kesana dan ditimba ilmu di dalamnya. Dan didapati dalamnya Insya Allah kebaikan yang banyak,dan didapati (juga) di dalamnya as sunnah dan al huda dan ittiba' kepada sunnah nabi sholallahu alaihi wa sallam.

Maka kami, demi Allah, memberikan dorongan dan semangat untuk belajar di tempat tersebut (dammaj) yang merupakan pusat diantara pusat-pusat sunnah dan dari menara-menara sunnah.

Dan didalamnya didapati orang-orang yang Insya Allah dari kalangan ahlus sunnah, ahlul huda dan ilmu. Kita berdoa semoga Allah mengokohkan mereka diatas sunnah dan agar Allah memberikan manfaat melalui mereka dan agar menjadikan mereka termasuk dari para pembawa bendera ahlus sunnah di zaman ini yang penuh dengan bid'ah dan fitnah.Dan kita berlindung kepada Allah.

Dan Alhamdulillah, barangsiapa yang menginginkan kebaikan dan petunjuk serta jauh dari fitnah maka dia harus bersama markaz-markaz sunnah. Dan Alhamdulillah markaz-markaz tersebut sangat banyak terdapat di berbagai negeri.

Khususnya tempat ini (Dammaj) yang saya melihat di dalamnya ada tamayyuz (tampil beda menampakkan kebenaran) yang terang. Alhamdulillah.

Maka beruntunglah orang yang rihlah kesana dalam rangka mencari Al Huda dari orang atau tempat yang akan memberikannya (kepadanya). Dan berupa apa-apa yang ada di dalamnya berupa sunnah dan kebaikan.


(fatwa ini ditanyakan kepada Syaikh Robi' pada tanggal 25 (23, ed)1) Ramadhan 1424 H. Dinukil oleh Abu Abdillah Almadani, Kholid bin Dhohawy adh dhafiry)

Sumber : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=355264

Terjemahan Fatwa ini adalah sumbangan dari Al Akh Abu Abdirrahman Al Harits

Naskah Asli Fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy:
كثر الطاعنين في هذا المركز فأحببت أن أهدي أخواني هناك من أهل السنة السلفيين هذه التزكية من العالم الجليل والعلامة شيخنا الوالد الشيخ ربيع بن هادي المدخلي -حفظه الله تعالى- وهو عبارة عن سؤال وجواب للشيخ وذلك في تاريخ 23/ رمضان/ 1424هـ.

مع العلم أني استأذنت الشيخ في نشرها في سحاب السلفية
..................................

السؤال: ما رأيكم في الذهاب للدراسة في دار الحديث في دماج في اليمن، مع العلم أنني طالب مبتدء؟

فكان جواب الشيخ:
نعم ، ينبغي أن تشد الرحال إلى هذا المعقل من معاقل الإسلام، وهذه المنارة من منارات الإسلام.

نعم، يشد إليه الرحال، ويطلب فيها العلم، ويجد فيها -إن شاء الله- الخير الكثير، ويجد فيها السنة والهدى، ويجد فيها اتباع النبي -صلى الله عليه وسلم-.

فنحن والله نشجع على الدراسة في هذه الدار التي هي من معاقل السنة ومن مناراتها.
وفيها رجال -إن شاء الله- من أهل السنة والهدى والعلم، نسأل الله أن يثبتهم على السنة، وأن ينفع بهم، وأن يجعلهم من حملة لواء السنة في هذا العصر الذي تراكمت فيه البدع، وتطورت فيه الفتن والعياذ بالله.

فلله الحمد من أراد الخير ، ومن أراد الهدى، ومن أراد البعد عن الفتن فعليه بمعاقل السنة، ولله الحمد فهي متوفرة في كثير من البلدان، ولاسيما هذا المعقل الذي أرى فيه تميزاً واضحاً، ولله الحمد.

فهنيئاً لمن يرحل إليه يقتبس الهدى من معينه، ويستنير بما فيه من السنة والخير.

نقله لكم أخوكم
أبو عبدالله المدني
خالد بن ضحوي الظفيري
شبكة سحاب
Catatan Kaki:
1) Dalam Terjemahan Al Akh Abu Abdurrahman Al Harits tertulis tanggal 25 Romadlon, namun sebagaimana kita lihat dalam keterangan Syaikhuna Abu Abdillah Kholid Az Zufairi hafizahullah (bahasa Arab) fatwa ini dijawab pada tanggal 23 Romadlon 1424H.

0 Bid'ah Dan Hizbiyyah Bukti Tidak Beradab Terhadap Rasulullah

Akhlak adalah cerminan dari hati seorang muslim. Sehingga, perangai yang penuh adab dan sopan santun merupakan gambaran dari apa yang ada di dalam hatinya. Sebaliknya, tutur kata yang tidak beradab, sikap yang jelek, itupun merupakan gambaran isi hati seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, dia adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma)

Bahkan akhlak yang baik adalah bukti kebenaran iman seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. At-Tirmidzi, Kitab Ar-Radha’ Bab Ma Ja`a fi Haqqil Mar`ah ‘ala Zaujiha, no. 1082, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1232)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita tentang akhlak Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
"Akhlak beliau adalah Al-Qur`an." (HR. Muslim)

Karena akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur`an, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa akhlak itu mencakup agama Islam secara keseluruhan. Baik akhlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, terhadap rasul-rasul-Nya ‘alaihimussalama, kitab-kitab-Nya, maupun akhlak terhadap hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya.

Dari sini pula kita dapatkan bahwa kebanyakan orang masih berpandangan sempit tentang akhlak. Seakan-akan, akhlak hanya terbatas pada tutur kata dan penampilan yang menarik saja. Padahal cakupannya luas, seluas syariat Islam.

Di antara hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling berhak untuk kita beradab dan berakhlak yang baik adalah para nabi dan rasul ‘alaihimussalam, terutama Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Karena, kita tidak mungkin mengetahui jalan yang benar dan melaksanakan ibadah yang bisa diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dengan Sunnah dan thariqah (jalan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Realisasi dan wujud berakhlaknya seorang mukmin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya:

1. Beriman kepadanya dan beriman pula kepada apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hadid: 28)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan beberapa perkara kepada orang-orang yang bertakwa dan beriman kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

*)Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandakan pahalanya dua kali lipat, dan ini merupakan rahmat-Nya.

*)Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya cahaya ilmu dan petunjuk, sehingga mereka bisa berjalan dengannya di dalam gelapnya kejahilan.

*)Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya.
Inilah buah yang akan didapat oleh orang-orang yang beradab dan berakhlak baik, khususnya terhadap Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebaliknya, orang yang tidak beradab dan berakhlak baik terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan gugur amal-amalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari." (Al-Hujurat: 2)

Mengangkat suara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bisa menggugurkan amalan. Lebih-lebih berbagai macam syirik, bid’ah, hizbiyah, kemaksiatan, dan kemungkaran lainnya.

2. Membenarkan segala berita yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
"Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An-Najm: 2-4)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia berkata:
كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا؟ فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّـي إِلَّا حَقٌّ
"Aku senantiasa menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku hafal. Maka kaum Quraisy melarangku dan berkata: ‘Engkau menulis segala yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia, beliau berkata dalam keadaan marah maupun ridha?’ Aku pun menahan diri dari menulis hingga aku sebutkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah keluar dariku kecuali kebenaran’." (HR. Ahmad, 2/162. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1532, dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad no. 768)

Sehingga, berita apapun yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib kita membenarkannya, baik berita itu masuk akal ataupun tidak. Baik berita itu sudah terjadi, sedang terjadi, atau yang akan terjadi. Semuanya adalah benar, selama berita tersebut shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh seseorang mempertentangkannya dengan mazhab, pemikiran, atau pendapat siapapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah (yakni Kitabullah) dan Rasul-Nya (yakni Sunnahnya), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Hujurat: 1)

Berdasarkan ayat ini, berita apapun yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih adalah salah, siapapun yang mengatakannya. Demikianlah seharusnya akhlak dan adab seorang muslim terhadap berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Menaati perintah dan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)…." (An-Nisa`: 59)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
"Apa saja yang aku larang kalian darinya maka tinggalkanlah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka ambillah semampu kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap para nabi yang diutus kepada mereka." (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebab yang akan memasukkan seseorang ke dalam jannah (surga). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
"Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan." Maka dikatakan: "Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?" Beliau menjawab: "Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah)." (HR. Al-Bukhari, Kitabul I’tisham bil Kitabi was Sunnah, Bab Al-Iqtida` bi Sunani Rasulillah, no. 6737)

Berbagai musibah, kehinaan dan kerendahan yang menimpa kaum muslimin adalah disebabkan ketidaktaatan dan ketidakberadaban terhadap perintah dan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nur: 63)

4. Mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seorang muslim tentu mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukti kecintaannya itu adalah dengan mengikuti dan berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali ‘Imran: 31)

Mengikuti (ittiba’) Rasul merupakan solusi yang tepat tatkala menghadapi perselisihan dan perpecahan yang terjadi pada umat ini. Di samping itu, ittiba’ akan membuahkan keselamatan di dunia dari kesesatan, dan keselamatan di akhirat dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup panjang, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib kalian berpegang dengan Sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing, yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia menyatakan: "Hadits yang hasan shahih dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu.")

Dari sinilah, ittiba’ Rasul menjadi syi’ar dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah di sepanjang masa dan semua tempat. Sekaligus, bid’ah dan hizbiyah yang merupakan lawan dari ittiba’ adalah tanda dakwah ahli bid’ah dan hizbiyah, yang akan mengajak kepada perpecahan dan perselisihan. Kenapa demikian? Karena tidak ada satu golongan pun kecuali memiliki amalan-amalan, pendapat-pendapat, dan keyakinan-keyakinan yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Ahlus Sunnah wal Jamaah yang senantiasa mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-jamaah.

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullahu berkata dalam Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah: "Penyimpangan-penyimpangan (dari syariat) itu bertingkat-tingkat. Terkadang berupa kekafiran, terkadang berupa kefasikan, terkadang berupa kemaksiatan, dan terkadang berupa kesalahan semata."

Demikian juga tidak beradab terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnahnya. Ada yang menyebabkan kekafiran, kefasikan, kemaksiatan, dan kesalahan semata. Hal ini dilakukan oleh berbagai golongan yang menisbahkan diri kepada Islam.

Wallahul musta’an.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=685


0 Ihya'ut Turots dan Syaikh Muhammad Sholih Al Munajid

Segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi akhir zaman, keluarganya, para sahabatnya, serta ummatnya hingga hari akhir.

Amma ba'du;

Masih ingatkah pembaca artikel kami tentang YAYASAN AS SUNNAH CIREBON? Dalam tulisan tersebut kami kemukakan bukti-bukti otentik tentang seruan dakwah Yayasan As Sunnah. Tentunya para pembela Yayasan ini menolak akan hal tersebut, namun sampai saat ini mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang otentik dalam membantah apa yang kami tuliskan tersebut. Namun pada artikel berikut ini kami tidak ingin membahas tentang Yayasan As Sunnah Cirebon lebih panjang. Kali ini kami akan kemukakan bukti otentik (dari sekian bukti yang telah kami paparkan) tentang Yayasan yang selalu dielu-elukan menyeru dakwah Salafiyah, na'am, tidak lain Jum'iyyah Ihya'ut Turots Al Hizbiyyah.

Beberapa waktu yang lampau (+_ 1 tahun) salah satu cabang Jum'iyyah Ihya'ut Turots (Shobah As Salim, Kuwait) telah membagikan kaset di Masjid Salim 'Ali As Shobah, Propinsi Jahra - Kuwait berjudul: قناة الدجال الفضائية dengan penceramah Syaikh Muhammad bin Sholih Munajid. Tentunya pembaca telah melihat bukti fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholiy dan Syaikh 'Ubaid hafizahumullah tentang orang ini. Na'am, Syaikh Robi' dan Syaikh 'Ubaid telah meng-HIZBI-kan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Munajid.

Inilah bukti kemesraan itu (perhatikan!!, Ihya'ut Turots selalu mentalbis (baca: menipu) ummat. Dalam kaset inipun mereka sengaja menyertakan Fatwa Syaikh Sholih Fauzan Al Fauzan hafizahullah. Talbis lagi, talbis lagi).

Turots-Munajid1

Turots-Munajid2

Turots-Munajid3

Jahra-Kuwait, 12 Syawal 1429 H bertepatan 11 Oktober 2008 M
Akhukum fillah,
Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan As Sirebuniy

0 Potret Ummat di Akhir Zaman

Banyak diantara agama, dan sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan).

Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]

Semua ini disebabkan karena kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap agamanya dan sunnah Rasul-Nya-shollallahu alaihi wasallam-. Kurangnya perhatian mereka menuntut ilmu syar’i karena kesibukan duniawi yang memalingkan mereka. Sementara mereka tak ada perhatian lagi dengan majelis ilmu dan majelis ta’lim. Akibatnya, agama dan Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- terasa asing dan aneh di sisi mereka.

Memang mereka terkadang mendatangi majelis ta’lim. Namun jika mereka hadir, nampak pada wajah mereka lelah dan keterpaksaan ikut majelis ta’lim. Yah, hanya sekedar hadir agar orang tidak mencelanya. Maka anda akan lihat orang semacam ini jika hadir di majelis ta’lim, ada yang ngantuk , bahkan tidur. Ada yang bersandar di tembok, jauh dari ustadz. Ada yang sengaja duduk di belakang untuk sembunyi; jika ngantuk dan tertidur, ia bisa sembunyikan wajahnya di balik punggung kawannya. Ada yang cerita dengan temannya sehingga mengganggu ceramah ustadz. Ada yang melayang pikirannya sampai Amerika. Inilah kondisi mereka sehingga tak heran jika mereka tetap jahil terhadap agamanya.

Jika mendengar cerita yang menguntungkan dunianya, maka matanya terbelalak. Betul dunia adalah nikmat yang Allah berikan. Namun jangan dijadikan tujuan hidup dan pusat perhatian. Dunia diambil sekedar bekal menuju Allah -Ta’ala-. Allah tidak memberikan nikmat kepada seorang hamba-Nya, kecuali nikmat itu hanya sekedar alat dan sarana yang dipakai untuk beribadah dan beramal sholeh. Dunia dengan segala nikmatnya bukanlah merupakan tujuan dan terminal terakhir bagi seorang muslim. Akan tetapi merupakan tempat persinggahan mengambil bekal menuju perjalanan akhir, yaitu akhirat.

Fenomena berlombanya kaum muslimin memperbanyak harta benda dan fasilitas duniawi sehingga membuat mereka lupa terhadap agamanya merupakan sebab tersebarnya kejahilan. Jika semakin hari, semakin tersebar kejahilan, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara ciri dan tanda dekatnya hari kiamat.

Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَ يُثْبَتَ الْجَهْلُ
“Diantara tanda-tanda kiamat: Diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kejahilan”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (80), dan Muslim dalam Shohih-nya (2671)]

Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ
“Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhoriy (6654)]

Di tengah kabut kejahilan menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinaan, dan kerakusan terhadap harta. Ini semua diakibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat di tengah manusia. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda dalam riwayat lain ketika menyebutkan tanda dekatnya hari kiamat,
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُُرُ الْهَرْجُ
“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. [HR. Al-Bukhoriy (989) dan Muslim (157)]

Al-Imam Ibnu Baththol –rahimahullah- berkata , “Semua yang dikandung oleh hadits ini berupa tanda-tanda kiamat sungguh kami telah melihatnya dengan mata kepala. Ilmu sungguh telah diangkat, kejahilan muncul, dile tak kannya penyakit rakus dalam hati, fitnah (musibah) merata, dan pembunuhan banyak”. [Lihat Fath Al-Bari (13/16)]

Ini di zamannya Ibnu Baththol –rahimahullah-, maka bagaimana lagi di zaman kita ini kejahilan merata dimana-mana, baik di kota maupun di pedalaman. Kejahilan di negeri kita bukan hanya mengenai rakyat jelata yang tak berpendidikan agama, bahkan juga mengenai kaum terpelajar. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi-shollallahu alaihi wasallam-,
“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)” .[HR.Al-Bukhory dalam Kitab Al-Ilm (100), dan Muslim dalam Kitab Al-Ilm (2673)]

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, "Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang muthlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang". [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim ibn Al-Hajjaj (16/224), cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arabiy]

Alangkah banyaknya pemimpin dan ustadz-ustadz seperti ini. Mereka diangkat oleh manusia sebagai seorang ulama’ dan ustadz. Padahal ia tidaklah pantas dijadikan panutan, karena ia jahil. Kalaupun ia berilmu, namun ilmu itu di buang di belakang punggungnya. Manusia jenis ini banyak bermunculan bagaikan jamur di musim hujan.

Coba lihat disana, manusia mengangkat seorang pelawak sebagai “da’i sejuta ummat”. Padahal bisanya cuma tertawa dan menggelitik para pendengar.

Dari arah lain, muncul para normal yang dulunya dijauhi oleh manusia, karena dikenal memiliki sihir. Sesaat kemudian berubah menjadi “da’i sejuta ummat”, karena sekedar pernah memimpin dzikir jama’ah yang dihadiri oleh sebagian kiyai jahil dan orang-orang yang memiliki kedudukan. Dulunya tukang sihir dan dukun (para normal), kini menjadi ustadz, bahkan terakhir bergelar “KH”.

Artis pun tak ketinggalan ambil job dalam kancah dakwah dengan bermodalkan semangat kemampuan tampil di depan publik dan wajah ganteng sebagai modal dengkul untuk menarik ummat menuju ke neraka. Bagaimana tidak, sebab seorang yang berdakwah tanpa ilmu akan mengantarkan dirinya berbicara tanpa batas, sehingga terkadang ia telah merusak dan menghancurkan agama pendengarnya, namun ia tak sadar karena memandang dirinya lebih pandai dari pendengar. Padahal ia jahil atau mungkin lebih jahil dari pendengar. Nas’alullahal afiyah wassalamah minal fitan.

Lebih para lagi, jika dakwah yang ditangani oleh orang-orang jahil dihiasi dengan perkara-perkara yang melanggar syari’at, seperti dakwah dihiasi dengan musik dengan istilah "Nada dan Dakwah". Ini adalah cara dakwah yang keliru, karena menyalahi tuntunan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Dengarkan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam mengharamkan musik,
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنِ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
"Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]

Muhaddits Negeri Syam Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy –rahimahullah- berkata dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Thorb (hal 105), “Sesungguhnya para ulama dan fuqoha –diantaranya empat imam madzhab- sepakat mengharamkan alat-alat musik karena berteladan dengan hadits-hadits Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar Salaf ”.

Jadi, berdakwah dengan musik merupakan perkara kejahilan dan kebatilan yang menyalahi tuntunan Allah -Ta’ala-, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para ulama’ kaum msulimin dari dulu sampai hari ini. Oleh karena itu, kita sesalkan adanya sebagian orang-orang jahil atau pura-pura jahil yang menyemarakkan program "Nada dan Dakwah" yang jelas dan nyata menyelihi agama !! Ini lebih diperparah lagi dengan bantuan "Guru Besar" alias televisi dalam menyemarakkannya demi meraih keuntungan duniawi yang semu, dan memperturutkan hawa nafsu.

Realita ummat yang demikian ini membuat dahi berkerut dan kepala sakit karena banyaknya dan bertambahnya “PR” yang perlu diselesaikan oleh para dai kebenaran. Dengan realita kejahilan ummat seperti ini, tak pelak jika banyak menimbulkan masalah. Tak heran jika terkadang ada sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang ingin diamalkan di zaman ini, mereka serta merta merasakannya sebagai suatu yang asing, menolaknya, menganggapnya bukan dari Islam!! Bahkan memusihi dan menyakiti sebagian hamba-hamba Allah -Ta’ala- yang mengamalkannya.

Jika kejahilan tentang agama merata di tubuh ummat, maka akan tersebar berbagai macam pelanggaran, syirik, kekafiran, bid’ah, dan maksiat, baik yang nampak, maupun yang tersemunyi. Inilah awal kehinaan yang akan menimpa ummat Islam yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam.

Jika ummat Islam sibuk dengan dunia, sibuk dengan peternakan, pertanian, perdagangan –apalagi riba- sehingga lupa mempelajari agamanya dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka Allah akan timpakan kehinaan atas mereka. Inilah kehinaan yang tak mungkin akan tercabut dari tubuh ummat kecuali mereka mau kembali kepada agamanya dengan ilmu agama yang benar, dan berguna.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ
"Jika kalian berjual-beli dengan cara ‘inah (salah satu bentuk riba, -pen), kalian memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3462). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Muhaddits Al-Atsariy Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]

Kesibukan dengan dunia menyebabkan kita akan semakin cinta kepadanya, dan takut mati untuk menghadap Allah -Ta’ala- .Seakan-akan kita mengharapkan diri dan harta benda yang melalaikan kita agar kekal di dunia, tanpa menghadapi hisab.

Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدَوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ " فَقَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
"Hampir saja ummat-ummat saling memanggil (menyerang) menuju kalian sebagaimana orang-orang yang mau makan saling memanggil kepada nampannya". Ada yang bertanya, "Apakah karena kita sedikit saat itu?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian saat itu banyak, tapi kalian buih laksana buih ombak. Allah benar-benar akan mencabut perasaan segan terhadap kalian dari dada musuh kalian; Allah akan mencampakkan kelemahan dalam hati kalian". Ada yang bertanya, "Apa kelemahan itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia, dan takut mati".[HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Malahim (4297). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (958)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 60 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp).

Sumber: http://almakassari.com/?p=261

0 Beberapa Fatwa Mengenai Tanda-tanda Hari Akhir

Soal no. 138: Syaikh Muhammad Sholih Al 'Utsaimin ditanya tentang hadits-hadits keluarnya Al Mahdi. Apakah hadits-hadits tersebut shohih?
Jawab: Hadits-hadits yang menerangkan munculnya Al Mahdi terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
Pertama: Hadits-hadits dusta.
Kedua: Hadits-hadits lemah (dlo'if).
Ketiga: Hadits-hadits Hasan, namun secara kolektif naik tingkatannya sampai derajat Shahih yaitu sebagai hadits shahih lighoirihi.

Sebagian ulama berkata bahwa di antara hadits-hadits tentang munculnya Al Masih ada yang shahih lidzarihi. Dan ini adalah bagian keempat.

Akan tetapi dia itu bukanlah Al Mahdi yang diklaim bahwa dia berada dalam sebuah gua dalam tanah di Iraq sebagaimana yang mereka katakan, karena anggapan tersebut tidak ada asl usulnya, ia merupakan khurafat belaka dan tidak ada hakikat kebenarannya. Al Mahdi yang diterangkan dalam hadits-hadits tersebut adalah seorang laki-laki seperti manusia bani Adam yang lain, diciptakan dan dilahirkan pada waktunya. Inilah kisah Al Mahdi, mengingkarinya secara mutlaq adalah salah dan menetapkannya secara mutlaq juga salah, mengapa demikian?

Karena menetapkannya dengan bentuk yang mencakup Al Mahdi Muntadhar (Al Mahdi yang ditunggu-tunggu, pent), yang dikatakan bahwa dia berada di gua adalah penetapan yang salah. Karena keyakinan tentang Al Mahdi yang bersembunyi ini merupakan pembodohan akal serta merupakan kesesatan dalam syari'at dan hal tersebut tidak ada dasarnya.

Adapun menetapkan adanya Al Mahdi yang dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang diterangkan oleh banyak hadits tentangnya, dan yang akan dilahirkan pada waktunya serta keluar pada saatnya adalah penetapan yang benar.

Soal no. 139: Siapakah Ya'juj dan Ma'juj?
Jawab: Ya'juj dan Ma'juj adalah dua umat dari bani Adam. Allah Ta'ala berfirman tentang kisah Dzul Qornain.
حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا. قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا. قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا. آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا . فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا. قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا (93-98) سورة الكهف.
"Hingga apabila dia telah sampai di antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: Hai Dzulqornain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka? Dia (Dzulqornain) berkata:'Apa yang tekah dianugerahkan Rabb kepadaku lebih baik daripada imbalanmu, maka bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga ketika potongan besi itu telah dipasang sama rata denga kedua puncak gunung itu, dia (Dzulqornain) berkata:'Tiuplah api itu! Ketika besi besi sudah menjadi merah seperti api, diapun berkata:'Berilah aku tembaga yang telah mendidih agar ku tuangkan ke atas besi panas itu. Maka mereka (Ya'juj dan Ma'juj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat pula melubanginya. Dia (Dzulqornain) berkata:'Dinding ini adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila janji Rabbku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya. Dan janji Rabbku itu benar" (QS. Al Kahfi: 93-98).

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يقول الله يوم القيامة يا آدم قم فبعث بعث النار من ذريتك
"Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:Wahai Adam, bangkitlah, utuslah pasukan ahli Neraka dari anak keturunanmu"

Sampai sabdanya:
أبشروا فإن منكم واحدا ومن يأجوج و مأجوج ألفا
"Bergembiralah karena dari kalian hanya satu orang dan dari Ya'juj dan Ma'juj ada seribu orang" (HR. Bukhori no. 3348; Muslim no. 222).

Keluarnya mereka (Ya'juj dan Ma'juj, pent) yang merupakan salah satu tanda-tanda hari Kiamat telah dijelaskan pada masa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Dalam hadits Ummu Habibah radhiallahu 'anha, ia berkata:'Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam keluar pada hari yang menegangkan dengan wajah yang merah beliau berkata:
لا إله الله ويل للعرب من شر قد اقترب فتح اليوم من ردم يأجوج و مأجوج مثل هذا وحلق بأصبعه الإبهام والتي تليها
"Laa ilaha Illallah, celakalah bangsa Arab dari kejahatan yang sudah dekat kedatangannya. Hari itu telah dibuka tutup Ya'juj dan Ma'juj seperti ini", beliau melingkarkan ibu jarinya dengan jari berikutnya (HR. Bukhori no. 7095; Muslim no. 2880).

ٍSoal no. 140: Syaikh Muhammad Sholih Al 'Utsaimin ditanya tentang Dajjal. Mengapa para Nabi mengingatkan kaumnya dari Dajjal padahal dia tidak akan keluar kecuali pada akhir zaman?
Jawab: Fitnah terbesar di muka bumi sejak penciptaan Adam hingga datangnya hari Kiamat adalah fitnah Dajjal sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi shalallahu 'alahi wa sallam.Oleh karena itu tidak ada seorang nabipun sejak nabi Nuh hingga Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam kecuali memperingatkan kaumnya tentang Dajjal1) sebagai upaya menyebut-nyebut persoalannya, mengingatkan besarnya masalah dan peringatan dari fitnahnya. Jika tidak, sesungguhnya Allah mengetahui bahwa Dajjal tidak akan keluar kecuali di akhir zaman, akan tetapi Dia memerintahkan para Rasul agar memperingatkan kaumnya agar jelas akan berat dan besarnya persoalan. Telah shahih hal itu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إن يخرج وأنا فيكم فأنا حجيجه دونكم-صلى الله عليه و سلم يعني أكفيكم إياه- و إلا فامرؤ حجيج نفسه والله خليفتي على كل مسلم
"Jika dia (Dajjal) keluar dan aku ada ditengah-tengah kalian, maka aku yang akan mengalahkan dia untuk membela kalian –shalallahu 'alaihi wa sallam, artinya aku melindungi kalian darinya- dan jika tidak ada maka seseorang melindungi dirinya sendiri dan Allah yang menggantikan aku untuk melindungi setiap muslim" (HR. Muslim no. 2937). Sebaik-baiknya pengganti adalah Rabba kita Jalla wa 'Alla.

Dajjal merupakan persoalan yang besar, bahkan ia adalah fitnah paling besar sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits sejak penciptaan Adam hingga terjadinya Kiamat. Oleh karena itu disediakan dalam ta'awudz (mohon perlindungan) dari berbagai fitnah hidup dan dari fitnahnya dalam sholat.
أعوذ بالله من عذاب جهنم ومن عذاب القبر
ومن فتنة محي ومماتي ومن فتنة مسيح الدجال
Aku berlindung kepada Allah dari azab Jahannam, serta dari azab kubur
Dari fitnah hidup dan mati, serta fitnah Al Masihud Dajjal

Adapun kata Dajjal diambil dari kata Ad Dajlu yang artinya pemalsu/pembohong. Karena dia itu pemalsu/pembohong bahkan pembohong terbesar dan manusia yang paling pembohong.

Soal no 141: Kapankah waktu munculnya Masihud Dajjal?
Jawab: Keluarnya Masihud Dajjal merupakan tanda dari tanda-tanda hari Kiamat. Akan tetapi kita tidak mengetahui kapan ia (Dajjal) akan keluar karena kita tidak mengetahui kapan akan terjadinya hari Kiamat, kecuali Allah semata. Demikian juga dengan tanda-tanda akan terjadinya Kiamat kita tidak dapat mengetahuinya kecuali yang telah nampak (telah diterangkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, pent). Kita tidak mengetahui waktu keluarnya Dajjal, akan tetapi kita dapat mengetahui bahwa keluarnya Dajjal merupakan tanda-tanda akan terjadinya hari Kiamat.

Soal no. 146: Apakah Dajjal merupakan keturunan bani Nabi Adam 'alaihi sallam?
Jawab: Dajjal adalah keturunan dari bani Nabi Adam 'alaihi sallam. Sebagian ulama mengatakan bahwa ia (Dajjal) adalah Syaithon. Sebagian lagi mengatakan bahwa bapaknya adalah dari keturunan manusia sedangkan ibunya bangsa jin. Kedua pendapat ini tidaklah benar. Yang nampak bagi kita bahwa Dajjal adalah keturunan bani Nabi Adam 'alaihi sallam. Oleh karenanya ia memerlukan makan dan minum dan selainnya (layaknya keturunan bani Nabi Adam, pent). Oleh karena itu Nabi 'Isa 'alaihi sallam akan membunuh Dajjal layaknya membunuh manusia.

Catatan Kaki:
1) HR. Bukhori.

Sumber: Majmu' Fatawa Wa Rosail Syaikh 'Utsaimin, jilid: 2.

Jika antum menemukan kesalahan dalam terjemahan ini, mohon kiranya antum memberitahukan kami ke ibnsarijan (at) gmail (dot)com.Jazakumullah khoiron katsiro.

1 Download Kitab Majmu' Fatawa Wa Rosail Syaikh Ibn 'Utsaimin rahimahullah (PDF)

ANDA MEMBUTUHKAN BIBIT MANGGA BERKWALITAS?

Kami Bibit Unggul Nursery menyediakan berbagai Bibit Mangga Berkwalitas, missal: Mangga Erwin/Irwin, Mangga Kiojay, Mangga Chokanam, mangga Namdokmay, Mangga Mahatir. Kami juga menyediakan Bibit Durian Monthong, Durian Bhineka Bawor, Jeruk Chokun, Jeruk Santang.

Segera Hubungi Kami di:

0852-2081-6455.

Lengkapi koleksi kebun Anda dengan Bibit Berkwalitas dari kami

Kami siap melayani pembelian(Grosir dan Eceran) bibit dari seluruh Indonesia dengan kwalitas bibit unggulan dan harga terjangkau.

Komentar Terbaru